340 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Tidak ada anak didunia ini yang mengharap jadi pelacur” tukas Jamila, merenungi nasibnya

Ia, gadis belia, 14 tahun, di perkosa ayah tirinya dan di jual kepada mucikari sebagai pekerja seks komersil. Dirumah bernomor 69 inilah, jamila dipaksa melayani para lelaki hidung belang.

Perjuangan Jamila dalam pentas Teater Pelacur dan sang presiden yang di tampilkan oleh teater Gerak dari Sekolah Tinggi  Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Kebumen ini, mendapat sambutan meriah dari para penonton.

Senin (28/1), di parkiran terpadu UIN Sunan Kalijaga, menjadi saksi bagaimana lika-liku menjadi pelacur dalam kancah sosial dan politik masa kini.

Sutradara Fauzi Mahfudz menjelaskan pementasan kali ini membawa pesan kepada penonton agar lebih berhati hati. Orang terdekat pun bisa menjadi orang yang berbahaya bagi diri sendiri.

Bisa jadi orang terdekat itu datang dari keluarga sendiri yang seharusnya melindungi kita dari jahatnya dunia luar.

Selain itu, yang ditekankan dalam pementasan karya Ratna Sarumpaet ini adalah betapa sulitnya orang tidak bisa berbuat apa-apa, termasuk mengungkapkan kejujuran.

Nasib buruk Jamila, bermula dari kabar seorang pejabat menteri bernama Nurdin Hidayat ditemukan tewas dengan beberapa luka tusuk ditubuhnya. Setelah diselidiki oleh petugas didapati pembunuhnya adalah Jamila.

Ia membenarkan dirinya telah membunuh pejabat tinggi. Tak lama kemudian Jamila ditangkap dan dijebloskan penjara.

Hakim memutuskan bahwa Jamila akan dijatuhi hukuman mati atas perbuatannya tersebut. Jamila sangat depresi dan merasa diperlukan tidak adil mengapa dirinya yang terjebak dalam dunia prostitusi dijatuhi hukuman mati.

Dalam kondisisi terjepit, ada seorang pengacara yang akan membela Jamila untuk mendapatkan haknya di pengadilan, tetapi Jamila tidak menolaknya.

Sementara diluar, sebuah Organisasi Forum Pembela Iman Bangsa (FPIB) mengerahkan massa untuk mendesak pengadilan agar Jamila segera di hukum mati atas perbuatannya sebagai pelacur.

Sebelum dihukuman mati Jamila meminta kepada kepala sipir agar bisa dipertemukan dengan orang nomor satu yaitu Sang Presiden. Ia hendak membeberkan semua hubungan para pejabat pemerintahan didalam dunia prostitusi.”Hidup ini penuh kemunafikan” brontak, Jamila penuh dendam.

“Titik tekan cerita bukan tentang pelacurnya, namun lebih pada sindiran terhadap wakil rakyat yang menggunakan nama moralitas untuk menutupi kebejatannya” kata Fauzi diakhir pementasan. [Taufiq]