388 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Sumber: http://chalidnotes.files.wordpress.com

Selasa (12/03/13), jadi momen berharga bagi umat Hindu. Mereka merayakan nyepi tahun baru saka 1935 sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Hingar-bingar kekerasan, konflik mendominasi suasana Nyepi kali ini.

Belum selesai kasus-kasus kriminal yang terus mengancam, kita di suguhkan inseden TNI vs Polisi di markas polres Ogan Komering Ulu. Kasus tersebut menambah daftar kekerasan di negeri ini. Aneh, intitusi yang seharusnya menjaga ketentraman, justru membunuh ketentraman.

Belum lagi, Konflik papua yang tak tahu kapan berakhirnya, ditambah kegaduhan-kegaduhan politik dan kepentingan elit politik yang membikin resah masyarakat dengan aksi bejatnya. Kasus impor daging sapi, kasus proyek hambalang, sampai pengadaan al-quran, adalah deretan contoh yang terekam oleh media.

Ironis memang, kenyataan pahit ini terjadi akibat disorientasi nilai yang di pegang oleh elit politik kita. Nilai-nilai moral, integritas dan tanggungjawab sudah tidak diperhatikan apalagi di utamakan. Sementara, masyarakat muak terhadap perilaku elite politik yang tidak mencerminkan keteladanan. Kasus-kasus korupsi para elite hanya sebatas cibiran dan sentilan di warung-warung kopi dan pasar.

Jangan sampai masyarakat kita berpikir praktis “sudah 68 tahun kita merdeka, tapi tak ada perubahan apalagi kemaslahatan”. Pemerintah harus mampu mengajak masyarakat untuk memahami bahwa Kemiskinan, kekerasan, ketidakadilan, diskriminasi adalah pekerjaan rumah kita bersama.

Sementara kesehatan dan pendidikan layak adalah hak masyarakat yang patut kita tuntut. Oleh karena itu, perlu kita sadari  jelang tahun 2014 akan ada pesta demokrasi, pemilihan wakil rakyat dan pemimpin bangsa. Disinilah masyarakat dituntut cerdas memilih agar tidak tertipu kesekian kali.

Lihat, elit-elit politik akhir-akhir ini justru semakin gaduh. Saling sikut sini-sikut sana demi kepentingan dan kekuasaan. Tidak peduli kawan atau lawan. Hampir semua persoalan ditarik ke arah politik. Tak peduli itu ekonomi, budaya dan agama.

Sehigga momentum perayaan nyepi kali ini bisa menjadi penawar dari kegaduhan-kegaduhan yang tak berujung itu. Nyepi jangan hanya dimaknai secara ritual tapi subtansial. Pesan-pesan ketuhanan, kenabian dan kemanusiaan dari setiap perayaan agama harus ditarik keranah praktis atau laku.

Salah satu pesan nyepi adalah menegakkan ‘diri agung’ ditengah-tengah tarikan ‘diri rendah’ yang terbatas. Diri agung dimaknai sebagai hadirnya pubahan, peradaban, kebudayaan, kejernian logika dan kedewasaan bertanggungjawab.

Sementara diri rendah adalah sifat-sifat kehewanan yang ada didalam diri manusia. Haus akan kekuasaan, suka kekerasan demi keinginan, serta keserakahan yang sifatnya rapuh dalam kesementaraan, adalah ciri-cirinya.

Maka benar jika nyepi diartikan bukan antitesis dari kegaduhan. Justru mampu ‘’menyepikan’ diri ditengah kegaduhan akan lebih bermakna dari pada dalam keadaan sunyi. Mampu mengendarikan diri dari tarikan-tarikan kepentingan dan keinginan praktis pasti akan lebih mulia. Karena ia membutuhkan perjuangan yang amat.

Mari sejenak kita tarik nafas perlahan-lahan, mulai mendengarkan, merenungi dan mengevaluasi diri atas problem masing-masing. Bukan hanya agar kita menemukan solusi-solusi yang cerdas, tapi juga solusi yang mampu membawa kemaslahatan. Bukan begitu?.

Redaksi