214 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Kecuali

Aku ingin membatu sedetik saja bersamamu

Hanya aku dan kamu

Tak ada yang lain di detik yang kemudian

Tapi apakah kamu mau diam bersamaku dan terkikis waktu

Kamu tahu? Udara pun terkikis saat diam

 

Aku yakin kamu takut

Takut dengan stagnan yang membuat segala sesuatu seperti kentut

Bernada seperti musik dalam getaran rendah maupun tinggi dan selamanya berbau busuk

Jadi kita musti bergerak? Kupikir tidak juga

Aku yakin kamu takut

Takut dengan dinamika yang akan membuat segala sesuatu aus

Meski kamu bukan seperangkat mesin

 

Jadi kita seperti lazimnya semua benda kosmo saja

Diam pada titik masingmasing dan bergerak mengitari orbit masingmasing

Kecuali jika kamu ingin membatu atau aus bersamaku

 

Yogyakarta , 13- 2-13

 

 

Semut Kopi

Kami membangun rumah di dahan yang salah

Di sela merah biji kopi paduka yang masih basah

Jika tiba musim panen kami harus siap digusur permanen

Tentu anakanak kami juga harus absen di hari senen

 

Hujan sore tadi begitu lebatnya paduka

seperti langit mengerti kami merasakan hebatnya duka

rumah- rumah kami lenyap istana paduka tetap mengkilap

bolehkah kami menginap semalam genap

sore hampir berganti gelap esok kami diusir pun siap

 

Duhai paduka raja mengapa kami diusir begitu saja

Padahal kami hanya ingin menumpang semalam saja

Setelah rumah kami di gusur begitu saja

Dalam tempo semalam saja

 

 

Yogyakarta , 17/12/2012.

 

 

 

 

Sketsa Wajah Diyalaria

oleh Solihin Rahmat (Catatan) pada 6 Juli 2012 pukul 13:00

: dg

 

Seumur malam kupindai wajahmu pada kertas putih dengan ampas kopiku

Dengan gores garis sederhana mulamula kugambar matamu lentik simetris

Mata yang selalu mencitra malam dan semesta langitnya lengkap dengan rembulan kuning

Pada bibirmu kulekatkan lengkung cerminan keluwung

Ada garisgaris samar seperti bekas cakar atau garisgaris sawah yang berjajar

 

“Aku suka orangorang yang selalu tersenyum. Seperti ada kunangkunang di rambutnya”

katamu pada suatu malam di kedai kopi yang dipenuhi orangorang dengan rambut penuh kunangkunang

Maka kubuat bibirmu bersenyum seperti lengan anturium dan semulia aurum

Malam selanjutnya sketsa wajahmu seperti ampas kopi yang mengendap di dasar cangkir

Begitulah di dasar hatiku ia terukir

 

Malam itu mataku berkunangkunang melihat kunangkunang memenuhi rambutmu

 

Nagata, 4 Juli 2012

Rahmat Solihin

adalah mahasiswa Sastra Arab fakultas  Adab dan Ilmu Budaya

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta