278 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

 

Pada intinya kurikulum 2013 tidak jauh berbeda dengan kurikulum yang sebelum-sebelumnya. Yakni, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBM), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), hanya saja yang paling penting dalam kurikulum terbaru ini adalah proses pembelajaranya. Guru hanya berfungsi sebagai fasilitator.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Istiningsih, Kepala Jurusan  Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) dalam seminar nasional “Tinjauan Kurikulum 2013” yang digelar Jurusan PGMI di Convention Hall UIN Suka, kamis (25/04), kemarin.

Seminar ini mengangkat fokus tinjauan kurikulum 2013 dengan mengkaji seluk beluk terlebih dahulu tentang kurikulum 2013. “Setelah mengerti diharapkan kami nantinya bisa menentukan sikap,” jelasnya tentang latarbelakang seminar ini diadakan.

Sementara itu, Hamruni, Dekan fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Suka,  mengungkapkan bahwa seminar tersebut dilakukan sebagai tindak lanjut dari perubahan kurikulum 2013 yang dicanangkan pemerintah. “Seminar ini adalah bentuk respon terhadap kebijakan baru pemerintah mengenai perubahan kurikulum pendidikan serta bentuk sosialisasi kami tentang kurikulum tersebut 2013,” ungkap Hamruni saat memberikan sambutan.

Dia juga berharap seminar ini mampu mencerahkan pemahaman mahasiswa terkait pemilwa 2013. “Pasti sudah banyak yang mendengar tentang kurikulum 2013 ini di beberapa mass media, namun pasti masih banyak beberapa dari kita sendiri belum tahu apa sebenarnya isi kurikulum baru tersebut,” imbuhnya.

Turut hadir dalam acara tersebut Kadarmanto Baskara Aji, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Daerah Istimewa Yogyakarta;  Iriyanto,  pemerhati pendidikan dan Djohar sebagai pakar pendidikan.

Dalam paparanya, Djohar menjelaskan bahwa yang menjadi titik tekan dalam kurikulum 2013 ini adalah sifat kurikulum bersifat tematik integratif (pemaduan dua atau lebih mata pelajaran. red).

Seperti diketahui, jumlah mata pelajaran untuk jenjang SD dipadatkan menjadi enam mata pelajaran dari sebelumnya sebanyak 10 mata pelajaran. Berkurangnya jumlah mata pelajaran pada tingkat SD ini diakibatkan agar mata pelajaran IPA dan IPS tidak lagi berdiri sendiri, tetapi terintegrasi dengan mata pelajaran wajib lainnya.

Harapannya, sebagaimana dikatakan  Iriyanto,  kurikulum tersebut yang nantinya dapat menghasilkan insan yang produktif, kreatif, inovatif serta pengetahuan yang integratif. [Ulfatul Fikriyah].

Editor : Taufiqurrahman