242 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Siapa yang Berani Meraung di Tengah Gelap?

Oleh : Surya Wijayanti*)


Gelap bukan karena malam, tapi karena kacamata hitam

Sunyipun bukan karena sepi, tapi karena ironi tragedi

Kenapa tak kau lepas kacamata itu?

Biar nampak cahaya di pelupuk matamu

Bukan hanya cahaya lilin yang menyala di terik siang

Bahkan kunang-kunang yang tak mampu terbang di padang ilalang

Tapi gelap, seakan kau tak melihat bagaimana ganasnya serigala itu mengoyak ribuan domba yang merumput di padang rumput gersang yang penuh dengan kerikil-kerikil tajam

Mereka sekarat, tapi apa yang bisa diperbuat?

Jangankan meraung untuk menghujat, untuk mengeluh “Ah!” saja mereka tak dapat

Jangan kau seperti anjing-anjing yang bergerombol di pojokan tong sampah, menggonggong tak tentu arah

Lemparkan saja tulang sebatang, tak akan lagi mereka menantang

Jangankan menjadi galak, mereka akan jinak dan tak akan pernah menyalak

Sunyi dalam kepekikan hati kecil yang meronta-ronta dalam kegelapan

Suara yang merongrong tertahan di ujung tenggorokan terkunci dalam ruang-ruang kehampaan

Siapa yang berani meraung di tengah gelap?

Menantang serigala-serigala yang kalap

Membuka tabir dalam onggokan-onggokan sampah yang biadab

Berdiri dengan gagah di atas atap, bersiap dan mantap

Bangkit, rapatkan barisan dengan erat, demi kehidupan yang bermartabat

Kaliurang, 18 Mei 2013

23.30

*)Penulis adalah mahasiswa Pendidikan Fisika 2011