316 Pembaca

Salah satu adegan dalam teater di TBY, tadi malam(03/06). Foto Doc. Sanggar Nuun

 

Sebelumnya Sanggar Nuun menampilkan teater ini di Jakarta.

Lpmarena.com, Dalam rangka produksi teater ke-19, Sanggar Nuun Yogyakarta menyelenggarakan pentas teater dengan judul “Sindbad Pelayaran ke Tujuh”, Senin malam(04/06). Bertempat di Societed Militer Taman Bubudaya Yogyakarta (TBY), acra tersebut di mulai pukul 19.30 WIB. Siti Mariyam, Dekan Fakultas Adab UIN Suka, turut menyaksikan pentas teater tersebut.

Enam orang pekerja masuk dalam panggung membawa benda-benda di atas kepala dan ada yang menggunakan gerobak. Benda tersebut berbentuk balok persegi panjang berukuran 2×1 meter. Dengan musik beritme cepat serta gerak tubuh mondar–mandir, menciptakan adegan yang menggambarkan mereka pekerja keras. Para pekerja itu diperankan oleh Okta Firmansah, Adib Habulah, Akbarbinbihri Azam,  Zulfan Arif serta termasuk tokoh Sindbad Portir yang diperankan oleh Abdilah Barsas. Benda itu kemudian ditata oleh para pekerja hingga menjadi sebuah bentuk istana.

Dari balik istana muncul para pelayan istana, yang diperankan oleh Nuqolis Hamid , Muhammad Adib, Anin Lutfi, dan Tian Awanda. “Masuki dan bicaralah dengan tuanku, sebab dia menanyakanmu,”ujar salah satu pelayan.

Tiba-tiba semua lampu padam sehingga gelap. Dalam dunia teater, hal itu di sebut Black Out, yaitu perpindahan adegan berikutnya. Para pekerja pun keluar panggung meninggalkan Sindbad Portir seorang diri.

Kemudian Sindbad Tua, berjengkot panjang, beralis putih, sambil memegang tongkatnya, beserta para pelayannya muncul dari balik istana untuk menemui Sindbad Portir. Sindbad Tua lalu menceritakan pengalamannya dari pelayaran pertama hingga ke enam kepada Sindbad Portir.

Dalam setiap cerita pelayaran, para pelayan itu meneruskan ceritanya dengan detail. Sehingga adegan terbagi menjadi dua format, percakapan Sindbad Tua dengan Sindbad Portir dan pergerakan enam pelayan yang menggambarkan cerita-cerita pelayaran tersebut. “sekarang, aku akan menceritakan kepada kalian pelayaranku yang ke tujuh. Pelayaran terakir, yang lebih aneh dan mengherankan dibandingkan semua pelayaranku yang lain,”ucap Sindbad Tua. Panggung pun kembali Black Out.

Kemudian musik pun berderang kencang diikuti para pekerja masuk ke panggung untuk membongkar istana dengan gerak tubuh kebalikan dari gerak pembuatan istana tadi. Panggung kosong, kemudian muncul sebuah kapal yang ditunggangi oleh Kapten Kapal (Zulfan Arif), Pelaut (Okta Firmansah), dan Sindbad Muda ketika masih menjadi Pelaut (Azam). “Kapten ada apa? Apa yang terjadi?,”Tanya pelaut pada si kapten.

“Berdoalah kepada Tuhan agar kita diselamatkan dari bahaya yang kita hadapi, dan ratapilah diri kalian sendiri, dan ucapkan selamat berpisah satu sama lain, sebab angin telah menguasai kita dan menyeret kita ke dalam laut yang paling jauh di dunia ini,” ucap Sang Kapten.

Kemudian Sindbad dan pelaut turun dari tiang kapal. Sedang kapten masih di tiang kapal untuk mengamati kejauhan sambil mengeluarkan buku dalam tasnya. “Dalam buku ini ada pernyataan yang menakjubkan, bahwa siapapun yang datang ke tempat ini tidak akan pernah meninggalkannya dengan selamat dan pasti binasa. Sebab tempat ini dinamakan wilayah para raja. Di dalamnya terdapat pusara junjungan kita, Sulaiman, Putra Daud. Dan seekor Ikan Paus dengan wajah yang mengerikan menjaga tempat ini akan menelan segala sesuatu yang melintas atau memasuki wilayah ini sengaja atau tidak sengaja,”ucap sang kapten. Panggung kembali gelap black out.

Mustain Ahmad merupakan pembuat naskah, yang mengadaptasi Kisah 1001 Malam dan sekaligus sutradara dalam pementasan “Sindbad Pelayaran Ke Tujuh” ini. Dalam naskah tersebut diceritakan ketika Sindbad Muda sedang berlayar dengan kapten kapal dan pelaut, kapal tersebut dihancurkan oleh Ikan Paus raksasa. Semua penumpang mati kecuali Sindbad. Dengan menggunakan glonggongan kayu pohon cendan yang berusia 4.000 tahun, Sindbad menyelamatkan diri  dan terdampar  di pinggir pantai sebuah pulau.

Seorang lelaki tua (Afandi) merawat Sindbad hingga kemudian menikahkan dengan putrinya.  Malangnya , lelaki tua itu hanya dapat melihat kebahagiaan putrinya sebentar, sebab ia berpulang pada sang pencipta. Higga akirnya Sindbad pun  menyadari keanehan di pulau istrinya, setiap awal bulan para lelaki dipulau tersebut terbang ke langit. Lelaki di sana akan berubah, di punggung mereka akan tumbuh sayap yang akan mereka pakai terbang kelangit, dan tak seorang pun tinggal dikota kecuali wanita dan anak-anak. Dengan rasa penasaran, Sindbad pun menunggangi salah seorang lelaki saudara setan (Badrul Munif) untuk terbang.

Belum sampai di langit teratas, Sindbad dijatuhkan di sebuah tempat. Ia ditemui oleh dua pelayan langit (Arbiyanto Hijriyah dan Deni Kuswoyo). Pelayan itu memberi sebuah tongkat dari emas merah kepada Sindbad. Dengan tongkat emas merah itu Sindbad bisa kembali pulang dan berlayar dengan selamat.

Sementara itu, Zulfan Arif, pimpinan produksi menerangkan, dalam pementasan Sindbad di Jogjakarta ini, ada sedikit perubahan yang sifatnya teknis dengan pentas sebelumnya yang digelar di Balai Latihan Kesenian (BLK) Jakarta Timur, pada mei lalu. “Ada beberapa black out yang dikurangi sehingga adegannya disambung, karena menyesuaikan perbedaan panggung di BLK dan TBY. Jika di Jakarta, model panggungnya arena, kalo di TBY itu prosonium”, imbuhnya.

Pementasaan ini juga merupakan bentuk aspirasi Sanggar Nuun secara nyata pada sastra arab klasik, sebagai bentuk apresiasi dalam keluarga besar Fakultas Adab dan Ilmu Budaya Uin Suka. “Karena dalam cerita sindbad itu banyak nilai-nilai keislaman yang diangkat. Kan kita ingin membantah dengan adanya gambaran-gambaran bahwa cerita-cerita sindbad  yang ada di TV atau film-film, itu kan selalu digambarkan dengan keadaan masyarakat arab yang sangat erotis. Biasanya digambarkan oleh orang-orang barat dengan kelihatan pusarnya dengan tarian-tarian perut. Nah, kita ingin menunjukan, bahwa bisa digarap dengan nilai islam”, imbuhnya.

Ini merupakan pengalaman pertama dalam melihat pentas teater bagti Mala, salah satu penonton, mahasiswi Setikes Surya Global Yogyakarta. Ia mengaku mengetahui informasi pementasan ini dari temannya yang kebetulan sebagai salah satu pemain musik dalam pentas itu. “Karena ini pengalaman pertama, jadi mungkin aku tidak terlalu paham dalam dunia teater. Tapi setelah lihat pementasan tadi, menurutku cukup bagus dan dapat menggambarkan ceritanya,”ujarnya.

Setelah selesai pementasan teater, kemudian dilanjutkan diskusi bersama, antara pemain, sutradara, tamu undangan, dan penonton tentang pertunjukan itu. Diskusi dilakukan diruang loby TBY dengan model duduk membentuk lingkaran besar.

Dalam diskusi itu peserta cenderung pasif, terlihat dari jumlah orang yang berpendapat sekitar lima orang, ”Suasana diskusi ini berbeda dengan di Jakarta kemarin. Kalau di sana peserta diskusi saling berganti mengungkapkan pendapatnya dengan keyakinan masing-masing. Kalau di sini cenderung diam, soale bolo kabeh,”ujar Mustain Ahmad disambut tawa peserta diskusi.

Dalam pementasan ini juga bekerjasama dengan unit kegiatan mahasiswa (UKM) paduan suara PSM Gita Savana.(Hartanto Ardi Saputra, Jarkominfo)

Editor : Folly Akbar