434 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Ilustrasi diambil dari sahabatkebetulan.wordpress.com

Oleh Asep Andri*)

Bagaimana bercerita tentang gelap? Karena cerita selalu butuh kata dan definisi. Sedangkan gelap adalah hamparan tak bernama. Ia adalah nganga yang tak diketahui cahaya. Tempat ketika segala keriuhan terasa sunyi. Dan bukankah gelap adalah juga ketiadaan. Sedangkan ketiadaan adalah kematian yang tragis. Dan percayalah, Aku masih bernafas walau gelap kian menyesakan dada.  Karena ada yang selalu Ku rindukan dari segala kegelapan ini: Bau badanmu!

Tapi hidup memang harus terus berlanjut walau tanpa warna dan bentuk. Dan Aku adalah orang yang dibesarkan oleh bau. Karena bagaimanapun, bau mengajariku banyak hal: Bau tanah basah, bau matahari, bau hujan, amis darah, seprai yang apak, lantai yang berdebu dan berbagai bau lainnya barangkali adalah sebuah penanda: Aku tidaklah sendiri: Di balik kegelapan ini, ada sebuah kehidupan. Ada cinta. Harapan. Dan kau tahu, ini semua hanya tentangmu. Tentang seorang lelaki yang wajahnya tak pernah selesai Ku bayangkan. Tapi Aku selalu hafal bau badanmu; Bau rambutmu yang sedikit apak;  Parfum yang biasa Kau pakai; Bahkan bau napasmu adalah segala hal yang membuat kehidupan ini lebih dari sekedar bentangan gelap. Kaulah yang selalu meyakinkanku bahwa di balik kegelapan ini ada sesuatu yang layak  untuk dijalani. Sesuatu yang lebih cerah dan berwarna.

Seperti hari-hari sebelumnya, ketika mentari mulai terasa hangat, Aku duduk di beranda kamar. Katamu di tempat ini Aku bisa melihat surga. Aku masih ingat, Kau bercerita begitu meyakinkan. Setelah memejamkan mata, mulailah Kau bercerita.

sekarang, kegelapan yang Kau rasakan, juga Aku rasakan. Percaya dan bayangkanlah, di depan kita ada dua ekor burung gereja yang saling mengejar dan memagut. Mereka hinggap dari dahan satu ke dahan yang lainnya. Mungkin mereka sepasang kekasih, sama seperti kita. Tahukah sayang, mereka sedang merayakan senja. Namun ketika malam tiba? Mereka bersembunyi. Memburu ceruk untuk berlindung. Mungkin burung gereja sama sepertimu. Ia takut gelap. Ketika malam, kalian selalu berharap gelap segera lenyap ditelan mentari. Jika itu memang benar, ingatlah Sayang, kapanpun Kau merasakan takut, Aku adalah satu-satunya ceruk yang ada untuk Kau singgahi. Dan laluilah segala kegelapan ini, karena senja pasti akan kembali”.

Mendengar itu semua, Aku hanya tersenyum. Untuk ukuran seorang pelukis, itu terdengar berlebihan dan gombal. Tapi mungkin Kau benar, Aku terkadang  merasakan takut. Gelap membuat semuanya nampak sama. Aku tak lagi bisa membedakan antara kehidupan dan kematian. Setiap kali bangun tidur, Aku tak sepenuhnya yakin tentang hidup ini, bahkan diriku sendiri. Karena bagaimanapun, mati dan hidup terasa sama bagiku: begitu absurd dan subtil. Sama seperti keberadaanku. Mungkin saja segala yang Aku cium dan dengar adalah ilusi. Mimpi dari segala kesadaranku yang mengambang. Bukankah Kesadaran selalu membutuhkan tubuh. Sedangkan hanya gelap yang ku tahu. Tapi Kaulah yang selalu meyakinkanku: Bahwa kehidupan ini nyata. Dan sebelum Aku bisa melihat  kehidupan ini, katamu, Aku takkan pernah bisa mati. Benarkah itu, Sayang…?

***

Serupa sore yang sudah berlalu, Kau datang dengan tiba-tiba. Mengendap-ngendap dari belakang. Kemudian mengagetkanku. Sungguh usaha yang bagus. Tapi percayalah Sayang, walaupun Aku buta, itu tidak membuatku buta terhadapmu. Aku begitu hafal dengan bau badanmu, jauh melebihi bau nafasku sendiri. Sebelum kau memelukku dari belakang, Aku sudah merasakan kedatangnmu. Barangkali, kedatanganmu seperti cahaya lilin yang menerangi hidupku yang gelap gulita. Dan kau membiarkan dirimu meleleh demi itu semua. Asal kau tahu, Aku cukup tahu diri untuk cemas. Aku bukanlah wanita sempurna. Entah apa yang membuat Kau mau hadir ke dalam kegelapan ini. Sudah pasti, banyak teman-teman kampusmu yang sempurna dan lebih cantik dibandingkan Aku. Tapi setiap kecemasanku muncul adalah juga saat ketika Aku bertambah yakin tentang ketulusanmu. Kau selalu mengatakannya,

“Jika memang kegelapan membuat semuanya nampak  kelam dan hitam, maka percayalah, cintaku selalu ada di setiap kesunyian dan ketakutanmu” .

Seperti biasanya, Setelah itu Kau memelukku begitu erat: Tahukah, Sayang, hanya dalam pelukanmu, Aku percaya bahwa hidup tak sekedar suara-suara dalam gelap. Aku bisa mengerti banyak hal ketika kucium aroma bau badanmu. Tentang ketulusan, kasih sayang, ketakutan, harapan, mimpi, dan pengorbanan. Saat itulah Aku kian mengerti, cinta terkadang tak butuh penglihatan. Tak membutuhkan identifikasi. Arah. Bentuk. Warna. Definisi. Dalam ruang segelap apapun, cinta bisa begitu nyata, bahkan melebihi kegelapan itu sendiri. Karena memang cinta bukan untuk dimaknai, tapi untuk dirasakan. Dan ketika degup jantungmu begitu dekat, percayalah, Aku selalu bisa melihat senja dalam semerbak bau badanmu.

***

Sore ini mentari begitu cepat kehilangan panasnya. Angin dingin sesekali mengibaskan rambutku yang ku biarkan terurai.  Mungkinkah sore ini ….

“Tutup jendelanya, Erin! Sebentar lagi akan hujan,.” suara ibu dari balik pintu membuyarkan lamunanku

Ternyata benar. Tak berapa lama hujan pun turun. Mungkinkah Kau akan membatalkan pertemuan sore ini. Padahal hari ini Kau janji akan memperlihatkan lukisan terbarumu. Cukup aneh memang. Kau tahu Aku buta sejak lahir. Tapi Kau selalu meyakinkanku bahwa lukisan buatanmu tidak butuh mata untuk dinikmati.

Dari dalam kamar, mulai terdengar suara hujan. Aku benci hujan. Bunyi gemericik air adalah sebentuk teror bagiku. Bau tanah basah yang menyeruak, nafas yang gigil, dan kegelapan yang riuh dengan segala gemeretaknya adalah sebuah pesan-pesan luka. Bulir hujan yang pecah menumbuk tanah, bebatuan, genteng, kayu, dan sebagainya adalah letupan dari segala kesedihan yang sudah ku peram. Karena hujan barangkali memang sebuah tangis tentang hidup dan kesendirian. Ia membawa pergi setiap kehangatan, termasuk kehangatan yang Aku miliki. Satu tahun yang lalu, ayah dan adikku meninggal tersambar petir saat hujan lebat. Punggung mereka robek, dan kulitnya hitam melepuh. Tapi Aku tak bisa melihat itu semua. Hanya bau kulit terbakar dan erang sekarat mereka yang kudengar di tengah guyuran hujan. Mereka pergi menyisakan gigil dan rasa asin. Itulah kenapa Aku sangat membenci hujan. Akankah pertemuan kita sore ini pun akan batal? Sedangkan ku dengar hujan kian gemuruh, seperti rinduku padamu.

Aku ingat lukisan terakhir yang kau buat  untukku. Kau memberinya judul Senja. Jelas Aku tak bisa melihat lukisanmu. Tapi katamu, mata adalah pembohong. Penglihatan tak mengerti apa-apa mengenai keindahan, karena ia dibatasi warna dan bentuk.

“Pakailah hatimu, maka Kau akan mampu melihat keindahan yang hakiki dan tak terbatas”. Kau lantas berdeskripsi mengenai lukisan itu.

Kau harus tahu, Sayang, senja selalu menyimpan banyak cerita. Tataplah senja, maka Kau akan banyak belajar tentang hidup. Ia adalah yang liyan  ‘yang lain”. Karena senja adalah hal yang tak diketahui matahari dan tak dimengerti malam. Sesuatu yang luput dari keriuhan hidup. Hanya senja yang mengajari kita tentang kesementaraan; Gemerisik angin, gumpalan awan menguning, siluet pepohonan dan arakan burung yang mencari arah pulang adalah keindahan yang  akan segera ditelan gelap. Keindahan yang dibatasi waktu. Dan bukankah seperti hidup ini: Mimpi, harapan, cinta, janji, dan sebagainya adalah sesuatu yang indah namun dibatasi waktu, kematian. Dan senja mengajari satu hal: yang temporal selalu memiliki maknanya sendiri.”

Namun, seperti juga yang Kau katakan, lukisan ini adalah sebuah harapan untuk mengabadikan senja; Seperti juga harapan untuk mengabadikan cinta kita. Tapi, Sayang, akankah sore ini Kau akan datang? Tapi hujan masih belum reda: Sore ini, tak ada Kau dan senja yang bisa ku nikmati.

***

Suara ketukan pintu membangunkanku lebih awal dari bunyi alarm yang sudah ku setting di HP. Ini tidak biasa. Tiba-tiba ibuku memelukku. Ku dengar  isak tangis. Kenapa hari ini harus dimulai dengan air mata? Sungguh, Aku tak mengerti. Ku dengar suaranya bergetar.

“Erin, hari ini kita harus ke rumah sakit?”

Apakah ini tentang dia? Apakah dia baik-baik saja? Kenapa tadi malam Kau tak menelponku. Padahal Aku menunggu hingga tertidur.

“Jangan menangis, Sayang, hari ini Kau akan menjalani operasi. Sudah ada donor mata yang cocok. Setelah operasi ini, kamu akan bisa melihat, Sayang…” Jelasnya.

Ia mencoba menenangkanku. Syukurlah, ternyata ini bukan tentang dia, tapi tentang operasi itu. Sejak dua tahun yang lalu ibu dan mendiang ayah  sudah mempersiapkannya. Tapi mencari donor mata yang cocok jelas bukan perkara gampang. Akhirnya sekarang harapan kami terkabul. Mungkinkah Aku akan bisa melihat? Aku tak sabar menceritakan ini padamu. Jika nanti Aku bisa melihat, Aku ingin pergi bersamamu. Melihat senja yang sering Kau ceritakan, melihat Kau melukis, burung gereja yang sedang memagut, raut wajahmu, bahkan segalanya. Aku ingin melihat segalanya yang pernah Kau ceritakan. Hanya bersamamu, Sayang!

Aku sengaja tak memberi tahu. Aku ingin memberi Kau kejutan. Bukankah Kau juga sering memberikanku kejutan. Mengagetkanku. Mengendap-ngendap dari belakang untuk sekedar melihat Aku terperangah dan kemudian Kau tertawa puas. Tapi sekarang adalah giliranku. Kau akan kaget ketika melihat Aku nanti. Aku bukanlah gadis buta lagi. Sungguh, ini akan menjadi awal dari kehidupan baruku. Tanpa kegelapan. Dan Kau pasti akan benar-benar terkejut mengetahui ini semua.

***

Proses operasi berjalan lebih cepat dari yang Aku duga. Aku pergi hanya dengan ibu. Tentu Aku sudah berbicara dengannya. Ibu tidak akan memberi tahu Deni tentang operasi ini. Aku tahu betul, Ibu dan Dia sudah akrab sekali. Mungkin ibu sudah menganggap Deni sebagai anaknya sendiri. Dan Ibuku percaya sekali dengan Deni. Mungkin Dia lebih percaya Deni dibandingkan Aku sendiri. Tapi hari ini akan ada kejutan besar buat Dia. Dengan suara bergetar Ibu menyetujuinya. Aku tidak tahu kenapa sedari pagi tadi, Ia terus menangis. Mungkin karena terlampau senang. Sejak lahir Aku tak bisa melihat. Tentu itu menjadi beban sendiri buatnya. Dan sampai usiaku 17 tahun, ini adalah operasi pertamaku. Setelah bisa melihat nanti, akan kulakukan apapun demi kebahagian ibuku.

Ku dengar dokter menyuruhku membuka perban yang melingkar menutup mataku. Perlahan ku buka. Ibuku turut membantu. Setelah semua perban ku lepas, perlahan ku buka mata. Ada buram yang tak ku kenal. Ada bentuk yang asing. Semburat cahaya sedikit menyakitkan mataku. Butuh waktu agak lama untuk bisa beradaptasi dengan segala hal yang sekarang bisa kulihat. Warna, gerak, bentuk, kilau cahaya dan segala yang baru ku lihat ini mungkin apa yang disebut kehidupan. Ada kategori, batasan, halangan, yang semuanya memungkinkan hadirnya pemahaman, perbedaan, Kontradiksi.  Inikah dunia yang Kau sering ceritakan itu? Tempat di mana segala bebauan kucium. Dan segala suara Aku dengar. Setelah benar-benar pulih, Aku hanya ingin bertemu denganmu. Melihat wujudmu yang dulu tak pernah selesai ku bayangkan.

Ibu sering bercerita tentangmu. Kau adalah orang baik. Tahukah yang sering kami bahas? Ya, rambutmu yang ikal itu. Ibuku terdengar antusias ketika membahas rambutmu. Katanya, jika Aku penasaran dengan rambutmu, pegang saja bulu kambing, karena toh tidak jauh berbeda. Ha…ha…ha…, kami tertawa sampai sulit berhenti. Tapi satu hal yang mesti Kau tahu, Ibuku menyayangimu sama seperti dia menyayangiku. Setelah Aku benar-benar bisa melihat, tenang saja, Aku tidak akan mempersoalkan rambutmu, Aku hanya akan memelukmu tanpa tahu kapan harus melepaskannya. Sungguh, Aku menyayangimu jauh yang bisa Kau bayangkan.

***

Menurut dokter, hari ini penglihatanku sudah menunjukan kemajuan. Pandanganku memang sudah tidak buram lagi. Syukurlah, donor mata itu cocok denganku.

Sudah beberapa hari Aku dan Deni tidak berkomunikasi. Aku pura-pura sakit. Ini demi kejutan itu. Mungkin selama ini Dia hanya berkomunikasi dengan ibuku. Sekarang, tak ada yang benar-benar ingin kulihat selain wajahmu. Aku berusaha menelpon, tapi entah kenapa HP-mu tak pernah aktif. Mungkinkah Kau juga sakit? Atau Kau sedang kuliah? Aku ingin segera bertemu. Hari ini Aku lebih dari sekedar merindukanmu ….

“Bu, sudah hubungi Deni belum? Erin kangen ‘ma dia…” Ia tak menjawab sepatah katapun.  Hanya memelukku.

“Kenapa menangis, Bu?”

“Erin, jangan marah ke ibu. Ini permintaan terakhir Deni. Setelah Ia meninggal, Ia ingin Kau menjaga apa yang sudah Ia berikan. Maafin Ibu, Sayaang …”

Ada kalimat yang terpotong oleh tangis. Ku lihat bibirnya bergetar. Matanya melihat lurus ke mataku. Banyak yang tak ingin ku mengerti. Tapi benarkah Dia benar-benar pergi. Aku yakin ini sekedar mimpi. Setelah Aku bangun, semuanya akan seperti biasanya. Semoga ini mimpi. Hanya mimpi.  Aku Sekedar menunggu untuk terbangun .

***

Kini hujan lebih dingin dari biasanya; Gemuruhnya semakin luka. Entah kenapa Kau tak pernah cerita tentang penyakit itu. Leukimia mungkin jadi beban hidupmu yang semestinya bisa Kau bagi. Tapi mungkin Kau benar, Sayang, kehidupan ini memang seperti senja. Begitu indah namun terbatas. Dan pada tahap ini, kita tak bisa memastikan apapun, kecuali menikmatinya. Seperti senja terakhir yang kita lalui. Begitu singkat, dan karenanya begitu berharga. Tapi, apalah arti semua ini: Rintik hujan, warna, bentuk, kilau cahaya, hal yang bergerak, atau apapun yang kau berikan, jika semua tanpa kehadiranmu. Sekarang, walau semuanya terang dan berwarna, Aku merasa takut. Aku kesepian. Di mana ceruk yang Kau janjikan itu? Sungguh, segala gemerlap warna ini tak lebih indah dari saat ku dengar degup jantungmu. Aku ingin kembali melihat senja dari bau badanmu. Sedangkan  hujan kian lebat: Hanya ada hampa di langit muram dan tanah basah. []

 

*) Penulis adalah mahasiswa IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Sekarang Aktif sebagai Pemimpin Redaksi Buletin METHODA LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) FatsOeN IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Belajar     menulis di DKC (Dewan Kesenian Cirebon) dan Komunitas Sastra Rumah Kertas.