267 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Oleh : Saiful Bahri *)

Apa yang lebih berharga bagi seorang wartawan selain karya beritanya yang jujur? Tentu tak ada lagi, bukan? Prinsip fairness bagi wartawan ibarat akidah yang mesti dipertahankan layaknya kepercayaan kepada Tuhan. Fairness adalah harga mati dan melampaui kepentingan apa pun dalam kehidupan ini. Bagi seorang wartawan sejati, kejujuran adalah prinsip utama dalam kegiatan menulis beritanya. Wartawan sejati selalu menempatkan dirinya sebagai pelayan informasi masyarakat, bukannya sebagai kendaraan yang bisa ditunggagi oleh kepentingan tertentu.

Saya akui, kapasitas saya dalam bidang jurnalistik bisa dikatakan tidak seberapa. Bahkan bisa dikatakan saya tak mengetahui apa-apa tentang dunia itu (baca: jurnalistik). Namun, dengan keterbatasan itu, saya masih bisa membedakan mana berita yang benar-benar berdasarkan fakta dan mana yang berdasarkan sentimen penulisnya. Akhir-akhir ini pikiran saya terusik setelah membaca headline beberapa berita di berbagai media. Bukan karena isu berita itu yang membuat pikiran saya terusik, tapi lebih disebabkan oleh kesalahan-kesalahan yang ada dalam berita itu.

Saya tegaskan kembali bila kriteria kesalahan itu saya ukur dari kapasitas pengetahuan saya dalam bidang jurnalistik. Tentunya, sebagai penikmat berita, saya juga berhak menilai otentisitas berita yang saya baca. Setau saya, istilah cover bothside adalah hal yang tidak asing, terutama bagi orang-orang yang berkecimpung di dunia jurnalistik. Secara sederhana, istilah cover bothside digunakan untuk memenuhi prinsip “imbang” dalam sebuah berita. Prinsip ini berfungsi untuk lebih menegaskan status wartawan sebagai pelayan yang fair pada siapa pun.

Kapan sebuah berita dikatakan jujur? Membicarakan masalah kejujuran dalam berita tak semudah membalik telapak tangan. Kejujuran terlalu abstrak untuk dibicarakan dan dibuktikan. Namun, dengan abstraknya kejujuran, haruskah prinsip kejujuran dalam dunia jurnalistik dikesampingkan? Tentu tidak. Kejujuran dalam jurnalistik tetap menjadi harga mati yang tak bisa ditawar lagi. Kejujuran dalam jurnalistik (baca:berita) terletak pada kualitas berita itu sendiri yang bisa tampil fair di hadapan siapa pun. Oleh sebab itu kemudian, istilah kejujuran dalam jurnalistik sering disebut dengan fairness. Bisa tampil fair di hadapan siapa pun adalah ciri bila sebuah produk jurnalistik telah memenuhi prinsip kejujuran. Tentunya, konteks fair dalam jurnalisme tak bisa diartikan dengan menjadi juru bicara dari pihak-pihak yang berkepentingan, melainkan lebih kepada partner kritis, tetapi proporsional.

Sebuah media yang sudah memilih memihak pada salah satu pihak yang berkepentingan -baik secara sadar maupun tidak- sudah pasti bisa dikategorikan tidak fair dalam pemberitaannya. Bila itu terjadi, patut disayangkan karena media pers dengan sendirinya sudah tercederai oleh kepentingan yang ditunggangi. Tentunya saya, sebagai penikmat berita tak mau melihat hal ini terjadi. Sebagai penikmat berita, saya menginginkan media yang saya baca selalu fair pada siapa pun. Kegelisahan yang selama ini saya alami adalah indikasi bila banyak media pers yang kurang hati-hati dalam menggelindingkan isu.

Mengapa isu? Isu dalam dunia jurnalistik adalah sesuatu yang sangat fundamental keberadaannya. Isu adalah embrio dari sebuah berita. Tanpa isu tak akan ada berita. Begitulah logika sederhananya. Namun yang perlu menjadi catatan, isu juga bisa tampil bak pisau bermata dua.  Bila wartawan tak hati-hati dalam mengawal isu, bisa saja isu itu menjadi bomerang yang mematikan. Oleh sebab itu, seorang wartawan dituntut untuk hati-hati dalam menerima bisikan-bisikan isu. Memang benar, seorang wartawan dituntut untuk sensitif dalam kesehariannya. Wartawan juga dituntut untuk memanfaatkan sekecil apa pun informasi yang ada. Namun, wartawan juga dituntut selektif dengan melakukan verifikasi terhadap isu-isu yang diterimanya.

Mengolah isu ibarat  mengolah bahan makanan. Bila dalam proses pengolahan makanan terjadi kesalahan, maka bisa dipastikan bila hasilnya pasti mengecewakan. Isu adalah bahan dasar dalam pembuatan berita. Dari isu lah sebuah berita lahir. Tak hanya dalam proses pengolahan isu menjadi berita yang penting, proses pemilahan isu pun menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Dalam proses pemilahan isu diperlukan langkah yang selektif agar isu yang didapat bisa benar-benar cocok untuk diolah menjadi berita.

Wartawan ibarat koki yang bertugas meracik isu menjadi masakan jadi (berita). Koki berkualitas pasti menghasilkan masakan berkualitas, begitu pun sebaliknya. Dengan demikian, selain karena isunya, bagus tidaknya sebuah berita juga ditentukan oleh koki yang mengolahnya. Oleh sebab itu, wartawan sejati pasti selalu punya upaya untuk berinovasi dan tak mau berhenti belajar mengasah kemampuan dan kapabilitasnya.

Catatan kecil ini sengaja saya tulis karena rindu pada dunia tulis menulis yang dulu sangat saya cintai. Pun demikian, ada niat dari saya untuk bersilaturrahmi fikry dengan sahabat-sahabat terbaik. Saya harap, meski sekarang sudah jarang bersua, silaturrahmi fikry ini bisa menjadi pengobat rindu. Tetap semangat, sahabat-sahabat terbaik. Raih mimpi menjadi wartawan sejati. Meski saya tak mampu mencapai itu (wartawan sejati), pada kalianlah harapan itu saya gantungkan. Tetap semangat untuk mengasah kemampuan diri, agar cita-cita yang mulai dulu kita lukis di angkasa, bisa segera kita wujudkan ke dunia nyata.

 

Foto diambil dari Facebook Penulis.

 

*) Penulis adalah Crew ARENA angkatan 2007