241 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Hendro Muhaimin dan Fathurrahman MD dalam Dialog Kebangsaan yang mengusung tema “Eksistensi Mahasiswa dan Semangat Pancasila dalam Berbangsa dan Bernegara”.

lpmarena.com, Pancasila yang kesaktiannya dirayakan pada tanggal satu Juli nanti merupakan salah satu pilar kebangsaan. Namun Hendro Muhaimin dan Fathurrahman MD dalam Dialog Kebangsaan pada Kamis (27/6) di ruang Teatrikal fakultas Syari’ah dan Hukum, memandangnya tidak  demikian. Kedua pembicara dalam dialog yang mengusung tema “Eksistensi Mahasiswa dan Semangat Pancasila dalam Berbangsa dan Bernegara” ini sepakat bahwa pancasila tidak sekedar menjadi pilar, namun juga dasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang menopang pilar-pilar lainnya.

Hendro, demikian Hendro Muhaimin akrab disapa, mengungkapkan hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) 2012 yang melibatkan 700 mahasiswa di lima perguruan tinggi ternama di Indonesia tentang pandangan mahasiswa terhadap pancasila. Hasil survei itu menunjukkan hampir 60 % mahasiswa mengatakan pancasila sudah tidak relevan untuk dijadikan dasar Negara. Dan hampir 90 % mereka juga merasa tidak cocok kalau dasar Negara Indonesia menggunakan syariat Islam.

“Itu memang tidak pasti benar, dengan tingkat ke-error-an sekian persen. Tapi itu jadi lampu kuning  buat kita,” ungkap peneliti di Pusat Studi Pancasila UGM ini.

Menurutnya banyak faktor yang membuat mahasiswa berpandangan seperti di atas terhadap pancasila. Di antaranya, pihaknya menilai karena mereka merasa trauma dan pancasila dirasa membingungkan. “Pertama, pancasila itu dirasa jadul. Kedua, saya tahu pancasila itu dasar Negara. Tapi saya mau ngapain? Dia (mahasiswa,red.) bingung,” ujarnya.

“Pancasila adalah kitab suci bernegara kita. Kalau kitab suci itu tidak kemudian membuat kita lebih baik, bukan kitab sucinya yang salah,”  ungkap Fathurrahman, merespon hasil survei di atas.

Pihaknya juga menegaskan perlunya mahasiswa melakukan proses penyegaran terhadap sudut pandang mereka dalam memandang pancasila. [Noer Hasanatul Hafshaniyah]