825 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

oleh : Puji Harianto *)

Islam dan Kemodernan

Foto diambil dari panah-bambu.blogspot.com

Abad 20-21 M, disebut-sebut sebagai abad dimana semua aspek kehidupan sudah mencapai tingkat modern. Modern atau kemodernan itu sendiri mempengaruhi semua tradisi budaya, agama, filsafat, hukum, ekonomi, sosial, pendidikan, politik dan bidang-bidang lainnya.

Era modern memang sudah merambah dan menyebar ke segala aspek kehidupan. Hal-hal yang sakral, tampaknya lama-lama akan tergerus dan akhirnya hilang begitu saja. Nilai-nilai spiritual, dalam hal ini agama, tampaknya hanya akan menjadi manuscrip-manuscrip lama yang tidak begitu diminati umat manusia. Sebagian orang berpendapat, bahwa dengan adanya kemodernan dan modernisasi itulah, manusia akan jauh melangkah ke depan dibandingkan dengan yang masih berpegang teguh pada tradisi lama. Masyarakat yang berpegang teguh pada tradisi lama ini, acapkali dicap sebagai masyarakat yang tradisional, terbelakang dan kuno. Tradisi lama seharusnya digantikan dengan tradisi yang modern. Begitulah apa yang kiranya diharapkan oleh kaum modernis.

Islam, dalam hal ini, menurut sebagian pandangan orang merupakan ajaran yang berkiblat pada ajaran Qur’an, Nabi dan sahabat-sahabatnya. Orang-orang Islam yang masih memegang tradisi lama, tidak peduli tradisi yang baik atau tidak, menurut kalangan modernis adalah orang yang akan sulit menerima kata “modern”, modern dalam pemikiran maupun modern dalam materi.

Dalam kenyataannya, sebagian umat Islam masih menganggap kemodernan yang diikuti dengan isu-isu kontemporer (demokrasi, HAM, sekulerisme) merupakan ancaman bagi kehidupan agama mereka. Ancaman yang dapat menggerogoti nilai-nilai keislaman yang telah ditanamkan Nabi dan sahabat-sahabatnya. Sebagian lagi (dari kaum muslim), berpendapat jika umat Muslim seharusnya menerima kemodernan itu sendiri (dengan diiringi filterisasi kemodernan) supaya umat Islam tidak tertinggal jauh dengan umat-umat lain.

Arkoen dan Metodologi Pemikirannya

Muhammad Arkoen lahir pada 1 Februari 1928 di Taoirirt-Mimoun, Kalibia, Aljazair. Aljazair, di tahun itu (1830-1962 ), merupakan salah satu negara Islam di Afrika Utara yang dijajah negara Barat ( Eropa  ), Prancis. Maka tidak heran, jika Arkoen hidup dengan 3 bahasa sekaligus, yakni Bahasa Kalibia ( bahasa lokal ), Arab (pada masa kekuasaan Islam di abad 1 H) dan Bahasa Prancis (karena dijajah Prancis pada 1830-1962).

Dia memulai belajar bahasa dan sastra Arab di Universitas Aljir atara tahun 1950-1954 dan melanjutkan studinya di Prancis ( Sorbonne University ) pada kajian yang sama pada tahun 1954-1962. Setelah selesai menyelesaikan program doktornya, dia mnegajar di Universitas Lyon. Karena menghabiskan masa belajarnya di Prancis, karya-karya Arkoen lebih banyak diterbitkan dalam bahasa Prancis daripada Bahasa Arab atau Bahasa Kalibia.

  1. Kritik Epistemologi Islam

Kritik epistemologi yang dicanangkan oleh Arkoen, semata-mata bukan untuk menyerang atau kritik semata. Arkoen melontarkan kritik-kritik terhadap bangunan epistemologi Islam bertujuan untuk membangkitkan dan menumbuhkan kembali pemikiran-pemikiran Islam yang telah lama terpendam dan terkubur dalam kolonialisme / kegelapan.

Kritik pertama yang dilontarkan Arkoen berkenaan dengan naskah-naskah Islam. Menurutnya, sejarah Al Qur’an hingga menjadi sebuah Kitab Suci dan otentik, perlu dilacak kembali. Dia menyebut usahanya ini sebagai “ijtihad”. Usahanya ini, dia tujukan untuk membongkar konsep-konsep yang ada dalam Al Qur’an. Konsep-konsep yang ada perlu dibongkar, agar teks Al Qur’an tidak menjadi mati/beku. Dan yang dibutuhkan atau perlu diperhatikan oleh umat Islam dalam penggalian konsep-konsep Al Qur’an ataupun naskah-naskah keagamaan tersebut adalah, bahasa, sejarah dan pemikiran.

Kajian ulang dan radikal terhadap naskah-naskah keagamaan ( klasik-skolastik) ini perlu dilakukan, karena umat Islam sekarang hanya diwarisi naskah-naskah keagamaan tersebut tanpa diiringi sikap kajian yang kritis. Orang non Islam ( Orientalis ) dalam melakukan pengkajian naskah-naskah Islam, juga tidak menyajikan “asal usul” naskah Islam tersebut secara antropologis. Mereka ( Orientalis ) hanya menerjemahkan naskah-naskah Arab klasik ke dalam bahasa Inggris, Prancis, Jerman maupun bahasa lainnya. Kajian seperti inilah yang tidak mendorong umat Islam untuk melacak kembali naskah-naskah keagamaannya yang sedemikian banyak. Umat Islam hanya menerima apa yang ada tanpa mempertimbangkan kesesuaian waktu dan zaman, yang sebenarnya terbatas pada suatu era saja.

Tentang nalar orang Islam, Arkoen menyatakan jika nalar orang Islam dewasa ini berkarakter “logosentris”. Hal ini, dicirikan oleh beberapa hal, diantaranya :

  1. Nalar Islam dikuasai oleh nalar dogmatis. Nalar yang sangat terkait dengan kebenaran abadi (Tuhan). Tentunya, nalar ini lebih bersifat estetis daripada ilmiah.
  2. Nalar yang bertugas untuk mengenali kembali kebenaran (fungsi ‘aql) telah menjadi sempit dan hanya berkutat di dalam wilayah tempat kelahirannya saja, misalnya bidang metafisika, teologi, moral dan hukum.
  3. Nalar hanya bertitik tolak dari rumusan-rumusan umum dan menggunakan metode analogi, implikasi dan oposisi. Data-data empiris digunakan secara sederhana dan terus dikaitkan dengan kebenaran transendental, serta dimaksudkan sebagai alat legitimasi bagi penafsiran serta menjadi alat apologi.
  4. Pemikiran Islam cenderung menutup diri dan tidak melihat aspek kesejarahan,sosial, budaya dan etnik, sehingga cenderung dijadikan sebagai satu-satunya wacana yang harus diikuti secara seragam dan taklid. Pemikiran Islam lebih mementingkan suatu wacana yang lahir di dalam ruang bahasa yang terbatas, sesuai kaidah bahasa dan cenderung mengulang-ulang sesuatu yang lama. Selain itu, wacana batin yang melampaui batas-batas logosentris, dalam arti kekayaan spiritual, cenderung diabaikan.

 

Dari kondisi sedemikian ini, Arkoun mencoba melontarkan pemikirannya yang bercorak kritik epistemologis, dan membebankan beberapa tugas kepada kaum intelektual Muslim (termasuk dirinya sendiri). Pertama, melakukan klarifikasi historis terhadap kesejarahan umat Islam dan membaca Alqur’an kembali secara benar dan baru. Kedua, menyusun kembali seluruh syari’ah sebagai sistem semiologis yang merelevankan wacana Al-Qur’an dengan sejarah manusia, di samping sebagai tatanan sosial yang ideal. Ketiga, meniadakan dikotomi tradisional (antara iman dan nalar, wahyu dan sejarah, jiwa dan materi, ortodoksi dan heterodoksi dan sebagainya) untuk menyelaraskan teori dan praktik. Keempat, memperjuangkan suasana berfikir bebas dalam mencari kebenaran agar tidak ada gagasan yang terkungkung di dalam ketertutupan baru atau di dalam taqlid.

Contoh lain tentang pemikiran Arkoen adalah apa dan bagaimana dalam membaca sebuah teks/Al Qur’an. Membaca teks bertujuan untuk memahami komunikasi kenabian yang disampaikan melalui teks tersebut. Dalam bahasa sederhananya, mencari makna yang hendak disampaikan melalui teks tersebut. Untuk mencapai makna yang diinginkan teks itu, pertama, orang Islam harus mengerti arti dari kata-kata itu sendiri. Arti selalu muncul dari kalimat. Kata, padanya tidak mempunyai arti. Maka dari itu, dibutuhkan ilmu lingustik atau wacana. Linguistik ini tidak hanya sekedar mencari arti dari sebuah teks, melainkan juga mencari makna yang terkandung didalamnya.

  1. Kemodernan

Kemodernan yang berasal dari Barat itu masih mengandung kesulitan psikologis. Rasa seolah-olah menyerah terhadap kemajuan Barat. Barat kelihatan lebih dominan. Salah satu tantangan bagi umat Muslim dalam usaha mendorong modernisasi adalah membebaskan diri dari suasana psikologis masa lalu yang serba traumatis, dan menggantinya dengan kesanggupan melihat kemodernan seperti apa adanya, tanpa ada pertentangan dan kesalahpahaman. Karena, menurut Arkoun, kemajuan di Barat merupakan runtutan dari kemajuan-kemajuan sebelumnya, tak terkecuali kemajuan umat Islam abad 7-12 M.

Memang, dalam segi kemodernan, Barat lebih dahulu merasakan daripada Timur (Islam). Akan tetapi, dahulunya Barat dalam hal kemodernan tersebut lantas tidak menjadi alasan bahwa Barat lebih superior atas Timur/Islam. Orang-orang Timur harus melepaskan perasaan rendah diri, minder maupun merasa terbelakang daripada Barat. Justru, umat Islam harus mengambil kemodernan-kemodernan Barat, dalam bingkai positif, untuk memajukan umat Islam, dalam segi pemikiran, pola hidup maupun aspek-aspek kehidupan lainnya, dengan catatan tanpa meniggalkan tradisi-tradisi lama yang baik.

Kemodernan baik di dunia Islam maupun Barat, memiliki dua kutub yang saling berkaitan, yakni, “kutub lama” : kuno, tradisional, klasik dan “kutub masa depan : inovasi, orientasi dan keputusan dengan cakrawala yang jauh. Pada hakikatnya, lanjut Arkoen, keterkaitan antara keduanya menghasilkan yang namanya kemodernan. Dari tradisional menjadi modern, dan yang modern dalam perjalanan ke depan akan menjadi tradisional lagi, begitu seterusnya.

Kemodernan juga memiliki dua sisi : material dan intelektual/budaya. Sisi material adalah sisi kemodernan yang berada di bingkai luar dari  wujud manusia, sedangkan sisi intelektual adalah sisi yang mencakup berbagai metode alat analisis dan sikap intelektual yang memberikan kemampuan untuk lebih memahami kenyataan. Namun, yang terjadi di realita masyarakat, manusia cenderung mengalami kemodernan yang tidak sempurna. Kemodernan yang dialami masyarakat, terkadang hanya terletak pada sisi materialnya saja. Intelektual dan budayanya, rata-rata masih tradisional, dan terkadang juga primitif.

Kemodernan sesungguhnya, adalah kombinasi antara dua sisi tadi, yakni modern materialnya dan modern intelektualnya. Intelektual akan sulit menjadi modern tanpa adanya kemodernan material/alat. Begitu juga sebaliknya, kemodernan material akan sulit terjadi jika tidak ada faktor pendukung lain, yakni intelektual.

Sebagian masyarakat menganggap jika modernisasi, merupakan perjuangan mencapai taraf hidup yang lebih tinggi atau lebih makmur dari sebelumnya. Mereka berpandangan jika kemakmuran material mempunyai akibat pada bidang-bidang non ekonomi seperti sosial, politik, pertahanan, dan bidang-bidang lainnya. Sebaliknya, kemunduran ekonomi akan mengalami kemunduran di aspek lainnya. Dan mereka (sebagian masyarakat) non Barat melakukan modernisasi di segala aspek kehidupan.

Kemodernan, khususnya kemodernan intelektual, ditandai dengan munculnya paham-paham Humanisme dan berlanjut dengan masa Rennaisans. Dalam, kemodernan ini, para pemikir Barat macam Luther, Spinoza, Hegel, Marx, Descartes dan pemikir lainnya mendobrak pemikiran lama yang mengungkung akal untuk kreatif. Pemikiran lama, masa pra Renaisans, merupakan pertentangan antara tradisi dan kemodernan. Tradisi, dalam hal ini ditopang oleh Wahyu, sedangkan kemodernan ditopang oleh nalar. Dalam pemikiran lama, Wahyu diibaratkan sebagai cahaya, sedangkan kemajuan nalar diibaratkan sebagai kegelapan. Sedangkan para tokoh Humanis dan Renaisans memandang sebaliknya. Kebenaran Wahyu berubah menjadi kegelapan dan fanatisme, sedangkan peran nalar menjadi cahaya.

Setidaknya, Arkoen menyimpulkan bahwa ada tiga pilar yang menjadi dasar kemodernan : ilmu pengetahuan yang berujung rasionalisme, negara bangsa yang bermuara kepada nasionalisme dan penyepelean agama yang berujung ke sekularisasi. Ketiga aspek inilah yang menjadi tantangan bagi umat Islam seiring dengan datangnya kemodernan dalam dunia Islam. Demokrasi, HAM, status wanita dan toleransi  antar sesama agama merupakan isu-isu kemodernan yang masuk dalam dunia Islam.

 

*) Penulis adalah mahasiswa Perbandingan Agama FUSAP semester VI