368 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Oleh A Taufiq*

Setahu saya, mereka yang mencintai mayat hanyalah orang tidak waras. Istilah kerennya disebut Nekrofilis. Tapi, saya terlambat sadar, bahwa rupanya pecinta mayat itu mulai menjalari masyarakat kampus kita tercinta, UIN Sunan Kalijaga. Dan di tengah masyarakat pecinta mayat, mereka yang mencintai kehidupan akan dianggap gila. Dalam situasi tidak normal, bukankah kenormalan menjadi kegilaan?

Ketika kita belajar teori yang merupakan hasil dari reproduksi terus-menerus, tanpa tahu bahwa realitas sudah jauh berbeda dengan teori itu, tapi kita tetap saja mengunyahnya untuk kemudian kita reproduksi lagi, kita ajarkan lagi ke orang-orang, itulah nekrofilis. Setidaknya itu kata Freire. Dan dalam praktiknya, proses belajar-mengajar di kampus kita tak jarang demikian.

Dosen tak jarang mencekoki mahasiswa dengan teori-teori usang yang direproduksi dari tahun ke tahun. Dan mahasiswa dipaksa menelan teori-teori usang yang seringkali tidak ada nyambungnya dengan kenyataan sekitar itu agar mampu menjawab lembar soal ujian. Saya sangat sering mendapati mata kuliah yang diajarkan dosen hanya itu-itu saja dari tahun ke tahun tanpa perkembangan.

Cobalah saat ujian, tanya kakak kelasmu tentang soal-soal yang diujikan oleh seorang dosen dalam satu mata kuliah. Kau akan temukan fenomena soal yang sama diujikan tahun lalu dengan saat ini. Selain itu, reproduksi teori rupanya sering ditemui juga dalam kasus saat mahasiswa menggarap tugas makalah. Akan banyak pengetahuan atau teori yang disusun itu hasil dari tulisan-tulisan banyak orang di buku-buku atau internet, tanpa perlu mengetahui konteks sosial saat teori itu muncul. Dan masih banyak kasus lagi.

Fenomena di atas kalau kita telisik lebih dalam, tentu berakibat fatal. Banyak mahasiswa yang semakin giat belajar dan mengunyah banyak teori, bukan malah berhasil menjadi intelektual yang sadar diri bagaimana bergerak dan memihak perjuangan kemanusiaan, melainkan jadi sebatas intelektual yang terpisah dari lingkungannya.

Mereka hanya tahu buku-buku, internet, dan media-media informasi lain, dan saat mampu menggarap tugas, merasa sudah menyelesaikan problem kemasyarakatan. Hal ini berefek pada sikap apatis dan itu menjadikan peran yang harusnya diambil mereka sebagai pelopor perubahan pembebasan, malah sadar atau tidak, dijerumuskan oleh pemegang kuasa untuk melanggengkan sistem yang menindas. Mereka ini seringkali berfikir dan bekerja tanpa tujuan selain untuk berfikir dan bekerja itu sendiri. Mereka sangat mudah digerakkan oleh pemegang kuasa dan kapital.

Tidak ada yang perlu disalahkan dengan fenomena di atas. Kita tahu sama tahu, bahwa pendidikan kita memang bertujuan untuk menyiapkan tenaga kerja terdidik untuk kemudian dilempar ke pasar kerja. Harus kita akui hal itu. Apa boleh buat? Mereka yang daftar di kampus kita bukankah memang bertujuan untuk perbaikan hidup masa depan yang itu butuh berpendidikan tinggi agar dapat kerja lebih baik? Dan jenis kerja yang dibutuhkan pasar tentu adalah kerja yang menyokong kelangsungannya.

Maka wajar juga jika saat ini jurusan atau program studi yang kiat dekat dengan sirkulasi kapital berkembang pesat, sementara yang jauh , kembang-kempis. Entahlah, mengapa jurusan kembang-kempis itu tetap dipertahankan. Pasar tentu sangat butuh pekerja terdidik yang tunduk pada kemauannya. Disinilah kaum nekrofilis, pecinta mayat, dibutuhkan. Bukan mereka yang mencintai hidup. Hal ini tentu agar sirkulasi kapital tetap berjalan, dan posisi penguasa dan pemilik modal tetap bisa melanggenggan statusnya tanpa merasa terancam. Kau kira IDB (Islamic Development Bank) memberi utang ke UIN Suka, dengan sekian tetek-bengek yang harus dituruti bukan tanpa tujuan?

 

*Penulis adalah mahasiswa yang membenci dirinya yang mulai membusuk. Benci kamar mayat. Pemuja anarkhi.

Jakarta, dalam mendung, 2 November 2013