307 Pembaca

Oleh: A Taufiq*

Tasawwuf adalah adalah dimensi mistik dalam Islam. Penekanannya pada spirit “pelepasan” manusia dari “ketergantungan” terhadap dunia untuk mendekatkan diri pada Allah dengan jalur cinta. Pelaku tasawwuf disebut Sufi.

Sufi bukanlah orang yang lari dari dunia dengan sekian problematikanya. Bukan yang menjauhi hingar-bingar politik dan kekayaan. Tapi, pada prinsipnya tidak terikat (detachment) pada dunia. Persisnya seperti Sabda Nabi yang meminta Allah untuk meletakkan dunia di tangannya, bukan di hatinya. Karenanya, bertasawwuf tidak harus miskin, tidak harus menyepi di hutan atau goa-goa, tidak harus nggembel. Maka, bisa jadi orang yang kaya dan berkuasa adalah Sufi.

Menjadi Sufi

Banyak kisah tentang Sufi yang nggembel, lari dari dunia, demi mendekat pada Allah dengan melakukan solat dan zikir terus-menerus. Ia pun uzlah. Kekayaan dan kekuasaan dia tinggalkan. Bahkan anak dan istri juga dia tinggalkan. Sebab semua hal duniawi adalah fitnah, penghambat jalan menuju Allah. Tapi itu cerita masa silam dimana perpolitikan Islam sedang sekalut-kalutnya sehingga seorang Sufi harus menyingkir sejenak, untuk kemudian mempersiapkan generasi baru yang lebih baik. Ibarat dalam strategi perang, mundur selangkah untuk maju berlangkah-langkah.

Ya, memang dalam situasi tertentu, lari dari hingar-bingar dunia dapat dibenarkan. Misalnya dia yang belajar untuk memulai jalan ini. Ia pun uzlah, sebab jika tidak, dia tidak tak bakal mampu keluar dari jeratan duniawi. Kita tidak bakal mengenali dunia kita, sebelum membuat jarak sementara dengannya dan mengamati dari luar. Kita belum mengenal diri kita sebelum keluar dari diri kita.

Nabi Muhammad SAW sendiri pernah melakukan hal itu di Goa Hira. Ia refleksi berhari-hari. Mungkin juga melakukan analisis diri dan analisis sosial (Andir-Ansos). Hingga akhirnya mendapat wahyu. Kemudian kembali ke masyarakat untuk melakukan pembebasan masyarakat atas sistem jahiliyah masyarakat Arab saat itu. Yaitu sistem yang melanggengkan adanya penindasan, pembodohan, dan pemiskinan. Juga mengajarkan manusia tentang Tauhid, yang menegasikan penyembahan atas segala sesuatu, dan mengafirmasi ketundukan hanya pada Allah. Dalam Tauhid, di hadapan Allah semua manusia sama.

Tidak Meminggir tapi Melawan!

Penilaian seseorang itu Sufi atau bukan, itu bukanlah terletak pada apakah ia terus-menerus solat sampai jidatnya menghitam. Apakah orang yang terus menangis menyesali dosa-dosanya, dan sangat takut dengan api neraka, hingga matanya sembab. Atau mereka yang jijik atas najisnya dunia sehingga ia terus meminggir darinya. Atau lagi mereka yang terus berkhotbah di mimbar masjid, sambil meratapi betapa bejatnya moral masyarakat. Tapi lebih dari itu semua. Menjadi sufi, adalah menjadi pemberani untuk menghadapi hidup, menghadapi dunia dengan sekian problematikanya.

Hidup adalah rahmat, anugerah. Jika ada manusia yang menginjak-injak kehidupan manusia lain, maka itulah penindasan. Jika ada sistem sosial yang membiarkan, atau melanggengkan penindasan, itulah sistem yang menindas. Sistem yang menindas adalah sistem yang tidak menjadikan Tauhid sebagai tumpuan, sebagai pusaran, sebagai landasan. Seperti halnya sistem yang menuhankan kapital. Inilah sistem syirik, yang akan terus menyeret umat manusia dalam pusaran kesyirikan itu. Sistem ini sama jahiliyahnya dengan yang dilawan Nabi dalam masyarakat Arab dulu. Maka, Sufi adalah mereka yang melawan itu dengan spirit Tauhid yang hanya menuhankan Allah, dan menganggap manusia sama. Sufi bukanlah yang lari terbirit-birit, tapi yang menunjukkan jalan cinta, ditengah sistem sosial yang nir-Tauhid, dan karenanya “nir-cinta”.

Maka, disini tidak menjadi penting “label” atau posisi sosial seseorang untuk menjadi sufi. Bisa jadi seorang sufi adalah seorang kepala daerah atau walikota. Bisa juga seorang aktivis kiri yang sangat Marxis dan terkesan urakan. Tapi yang jelas bukan mereka yang menuhankan selain Allah, seperti mendewakan kapital dan menuhankan pasar, atau menuhankan tokoh tertentu. Bukan pula mereka yang abai, atau netral dalam konteks penindasan dan penghisapan. Sebab dalam konteks itu, seperti kata Dom Helder Camara, sang “uskup merah” itu, netral adalah pengkhianatan. Sementara pengkhianatan bukanlah jalan seorang Sufi.

Jadi, jalan tasawwuf bukan jalan pelarian, bukan apatisme. Tapi jalan cinta dan sekaligus jalan perlawanan.

Jakarta, 11 November 2013

*Penulis adalah Mahasiswa Perbandingan Agama, Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga. Aktif dalam Jenar Society.