459 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Surat Pembaca ini ditulis Dliya Ul Fikriyyah *)

Di masa lalu, kita mengingat bagaimana besarnya pengaruh Islam di muka bumi. Nabi Muhammad dengan suritauladan dan akhlaknya, sahabat-sahabat Rasulullah yang bijaksana dan adil, Bani Abbasiyah yang sempat menjadi pionir peradaban dunia, al-Fatih yang menaklukan Konstinopel, hingga besarnya kontribusi umat muslim dalam merebut kemerdekaan Indonesia dari belenggu penjajahan.

Namun, sekarang ini citra Islam telah berubah 180 derajat. Islam identik dengan kemiskinan, kebobrokan intelektual, kumuh, teroris, tertinggal dan terbelakang. Satu-satu cara untuk merubah pencitraan buruk yang menempel di tubuh Islam adalah dengan cara meningkatkan kecerdasan umat dan mengamalkan nilai-nilai (Akhlak, Aqidah dan Tauhid) yang telah termaktub dalam al-Qur’an dan disabdakan Rasululullah. Cara ini memerlukan proses pembelajaran, dan lembaga yang memiliki kontribusi serta merupakan tempat yang tepat untuk menggapai tujuan tersebut adalah sebuah Universitas Islam.

UIN Sunan Kalijaga yang memiliki visi unggul dan terkemuka dalam pemaduan dan pengembangan studi keislaman dan keilmuan bagi peradaban, dan misi-misi yang menjadi pendukung terwujudnya visi diatas patut dijadikan kompas seorang mahasiswa dalam mengarahkan dan menjalani proses pembelajarannya. Kini, UIN Sunan Kalijaga dengan paradigma keilmuan Integrasi-interkoneksi menjadi universitas yang memiliki konsep yang luar biasa dan sinkron dengan pengertian bahwa Islam adalah sistem yang universal, mencakup segala aspek kehidupan, tidak terpisah dan terkorak-kotak.

Nilai ideal bagi sebuah proses pembelajaran keilmuan dan keislaman dapat tercermin dalam sikap, pemikiran dan ucapan  penuntut ilmu serta pandangan masyarakat terhadapnya. Kini kita sering mendengar bahwa banyak orang tua khawatir saat anaknya mendaftar di Universitas Islam negeri Sunan Kalijaga, khususnya prodi yang berada di jurusan Ushuluddin. Hal ini diakibatkan citra liberal yang menempel di wajah UIN ini. Apakah hal ini benar? Atau hanya sekedar isu tanpa fakta. Hal ini dapat kita nilai langsung dengan mengamati dan mengalami secara langsung atmosfer pemikiran dan keadaan di UIN, khususnya Fakultas Ushuluddin.

Mahasiswa dan dosen yang berada di fakultas Ushuluddin akan merasakan hal yang biasa jika membicarakan hal-hal kontemporer yang berkaitan dengan Al-Qur’an dan Hadis. Karena mereka telah diberi bekal keilmuan yang terkait dengannya -yang kurang dipahami dan tidak diketahui oleh pihak luar. Pemahaman dan pengkajian akademik terhadap pemikiran Islam akan memberi sikap yang berbeda dalam menghadapi suatu permasalahan yang terkait dengannya. Secara akademik hal ini memang suatu hal yang lumrah.

Namun, problematika sekarang ini. Sikap, akhlak dan ucapan dari seseorang yang nantinya akan menjadi panutan masyarakat dalam aspek keagamaan seakan sangat jauh dari seharusnya. Akhlak seakan hanya menjadi bingkai pajangan belaka. Pengkajian terhadap Al-Qur’an dan Hadis yang di pelajari oleh seluruh mahasiswa yang seharusnya membuahkan keimanan, keyakinan dan ketakwaan seakan gagal sebelum dipanen. Alasan yang lumrah terdengar adalah bahwa apa yang disampaikan nash harus sesuai dengan zamannya, maka ekspresi keimanan pun akan berbeda. Akhirnya munculah pertanyaan “Sebenarnya Islam itu seperti apa?” keambiguan ini semakin memuncak dengan banyaknya pertentangan, saling sikut antar kelompok dan gerakan Islam.

Rasulullah dan sahabat bersikap kasih sayang kepada orang-orang yang beriman dan bersikap keras kepada orang-orang kafir dan tidak beriman pada Allah dan Rasulnya. Namun kini mahasiswa lebih berkasih sayang pada umat beragama lain dan bersikap keras kepada sesama umat Islam, dengan menggaungkan toleransi beragama, pluralisme dan teori-teori keagamaan lainnya. Namun mereka lupa umatnya sendiri tak terurus, lupa dengan akhlak dan aqidahnya.

Teringat sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ahwash bin Hakim. “Ingatlah bahwa seburuk-buruknya manusia adalah ulama yang buruk dan sebaik-baiknya kebaikan adalah ulama yang baik”. Paradigma masyarakat umum jika mendengar lulusan Universitas Islam adalah orang yang paham dengan agama Islam. Walaupun kini mahasiswa dan bahkan dosen mengkaji banyak keilmuan keislaman, dari penelitian, kitab dan mengadakan banyak seminar keilmuan tak kan cukup memberi cahaya dan kemajuan bagi masyarakat dan bangsa,  jika tidak disertai akhlak yang baik dan mencerminkan islam sebagai rahmat bagi semseta alam.

Percuma saja ulama yeng memiliki hafalan Al-Qur’an dan Hadis, mengetahui syari’at, hukum fiqh dan menggaungkannya diatas mimbar namun akhlaknya bobrok. Maka keilmuan yang ia miliki seakan hangus karena amalannya nihil. Begitu pun dengan mahasiswa UIN, walaupun keilmuannya sangat tinggi namun akhlak, tutur kata dan tingkah lakunya bobrok, meresahkan dan jauh dari nilai-nilai Islam tidak akan bernilai bahkan akan menimbulkan citra buruk bagi universitas dan citra keilmuan keislaman.

Bagaimana mewujudkan masyarakat madani, jika calon-calom ulamanya tak memiliki wibawa dan tidak mencerminkan akhlak mulia. Perlu adanya amalan konkrit dari setiap ilmu, jangan hanya menempel di selembar kertas dan sirna ketika telah digaungkan di atas mimbar atau bahkan saat berorasi. Maka perlu di tanyakan kembali makna Islam di Universitas ini seperti apa? Just theory without action? Semoga mahasiswa lebih bijak dalam menapaki proses belajar dan beragama.

*) Penulis adalah mahasiswa jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir 2012