247 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email
Kuliah Umum prodi PGMI diadakan di Convention Hall, Selasa (4/02).

Kuliah Umum prodi PGMI diadakan di Convention Hall, Selasa (4/02).

 “Jika kita ingin merubah seseorang, harus dari mainsetnya”

Lpmarena.com, itulah kalimat pembuka yang disampaikan oleh H.D Iriyanto, pemateri pertama pada kuliah umum yang diadakan program studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN Suka, Selasa (4/02).

Kalimat tersebut terinspirasi dari Jalaluddin Rachmat. Bahwa persepsi kita terhadap sebuah objek peristiwa atau pengalaman kita sangat berpengaruh terhadap respon emosional, perilaku, dan psikolog kita terhadap objek atau pengalaman itu.

Bertempat di Convention Hall lantai II, Iriyanto menerangkan materi sosok guru masa depan. “Sebagai seorang guru dia harus memiliki tiga kompetensi yaitu (1) kompetensi sebagai guru profesional, (2) kompetensi paradigma dan karakter melayani, (3) memiliki keunggulan,” ungkap pria asal Sleman itu.

Lebih lanjut Ia menyebutkan paradigma bekerja seorang guru ada tiga. Pertama, kerja sebagai kerja. Kedua, kerja sebagai menitih karir. Dan ketiga, kerja sebagai panggilan jiwa.

“Orang yang memiliki pandangan pertama berpendapat bahwa kerja adalah rutinitas. Dia tidak memiliki inovasi untuk perubahan. Kalau pekerjaannya sudah selesai ya sudah. Orang dengan paradigma seperti ini paling banyak,” terangnya.

Yang kedua, bekerja adalah berkarir atau untuk prestasi. “Yang ketiga adalah bekerja sebagai panggilan jiwa. Guru, paradigmanya adalah melayani hamba Alloh, dengan ini guru akan mendapatkan kebahagiaan. Jumlah orang yang berpandangan seperti ini sangat sedikit daripada dua pandangan sebelumnya,” ungkap Iriyanto.

Acara yang berlangsung dari 09:00-12:30 WIB ini dihadiri mahasiswa IAIN Bengkulu. Hadir pula sebagai pemateri kedua, Joko Kiswanto. Dalam kuliah umum ini Mas Joko (sapaan Joko Kiswanto) banyak bercerita tentang pengalamannya menjadi guru di SD Muhammadiyah Gunung Kidul.

Mas Joko adalah angkatan pertama PGMI di UIN Suka. “Awalnya tahun 2007 saya masuk kuliah di jurusan PAI, kemudian di semester 2 ada pemberitahuan bahwa prodi PGMI dibuka. Sejak saat itu saya pindah ke PGMI,” Joko mulai bercerita.

“Kuliah itu hanya stimulus, di luar masih banyak sekali ilmu, mumpung masih menjadi mahasiswa. Masih banyak akses untuk mencari ilmu, maka perbanyaklah mencari ilmu. Ikut banyak organisasi nggak papa, jaringan berorganisasi itu nanti, bisa mempermudah kita,” tangkasnya.

Acara ini diakhiri dengan penampilan tari topeng edan oleh dua mahasiswa PGMI UIN Suka. (Fikri)

 

Editor : Ulfatul Fikriyah