410 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Minimnya porsi yang diberikan media terhadap seni tradisional mengakibatkan terkikisnya seni peninggalan leluhur di mata generasi muda.

lpmarena.com, Suara gendang bertabuh diiringi alunan gamelan: peking, saron, dan demung. Berkomposisi harmonis dengan suara alat musik combo: gitar, bass, drum, dan organ. Terciptalah pertunjukan musik pembuka komposisi Sundanois dari Sanggar Nuun berirama mengisi Balai Budaya Samirono Yogyakarta, Rabu malam (23/4).

Acara nyeni-nyeni ini diadakan dalam rangka memperingati hari Kartini dan acara malam musik “Suara Tipuan Kota”, serta sebagai agenda rutin berkesenian Balai Budaya Samirono yang diadakan satu bulan sekali. Hadir sebagai pengisi acara: Sanggar Nuun, Jali and Local Playboy, dan Larut Malam Band.

“Acara ini bertujuan untuk mengembalikan kesenian tradisi di Samirono yang dahulu setiap bulan ada pementasan tetapi meredup. Acara ini mencoba kembali seperti dulu dengan menghidupkan acara berkesenian yang diikuti oleh berbagai komunitas-komunitas kesenian,” ujar Wahyu selaku arranger (penyusun komposisi musik) Sanggar Nuun sekaligus pengurus Balai Budaya Samirono bagian rumah tangga.

Masuknya musik-musik modern membuat seni tradisi semakin hari semakin tergerus. Wahyu menjelaskan alasan dibalik meredupnya kesenian tradisional. “Pertama, orang-orang sekarang kebanyakan malu mengangkat seni tradisional. Belajarpun malu, malahan yang bisa seni tradisi diremehkan. Kedua, porsi kesenian tradisi di media TV dan radio itu kecil. Untuk mendengarkan tradisi itu jarang, sangat kecil,” ucap Wahyu saat ditemui ARENA seusai pementasan acara nyeni-nyeni Samirono.

Arumtika sendiri menganggap musik pop sekarang mulai asal-asalan, “Kebanyakan musisi sekarang mengutamakan materi, nggak ngutamain skill, yang penting dapat materi. Kalau di Jogja keren, yang penting prosesnya, bukan hasilnya.”

Milatun Nafiah sendiri beranggapan bahwa perkembangan musik sekarang banyak dan beragam serta mengusung ciri khas masing-masing. Untuk menghidupkan seni tradisi, faktor utama adalah keberanian. “Butuh keberanian mengangkat seni tradisi dan berani bertanya pada orang yang lebih berpengalaman,” tambah Wahyu memberikan alternatif tentang bagaimana menghidupkan seni tradisi.

Samirono merupakan sebuah pedukuhan kesenian. Genre yang diusung Samirono sendiri adalah berangkat dari seni tradisi. Namun, tidak menuntut kemungkinan bisa lebih luas dari itu. Seni tradisi di Samirono sendiri ada geguritan, macapatan, keroncong, siniran, dan lain-lain.

Selain sebagai sarana latihan dan menambah ilmu, acara bulanan yang digelar di Balai Budaya Samirono juga sebagai forum berkesenian dan kolaborasi budaya. “Walaupun ada yang modern, kita bisa mengkolaborasikan peking, saron, demung, dan lain-lain,” tutur Milatun Nafiah anggota dari Sanggar Nuun.

“Keren, kece, seninya itu berkesenian. Seni itu nyata. Pemikiran kebangun, rasanya kebangun,” kata Arumtika player dari Sanggar Nuun pemegang piranti gamelan Saron di pementasan Samirono ini.

Dalam kesempatan ini Sanggar Nuun menampilkan 6 pementasan yang dibagai menjadi dua reportoar. Sebagai pembuka (reportoar pertama) ada komposisi Sunda, Jawa, dan satu lagu yang berangkat dari puisi berjudul Suara. Kemudian, dari Jali and Local Playboy menyanyikan dua buah lagu bernada kritik dan satire tentang perempuan dan budaya patriarki berjudul “Kisah Laki-laki” dan “Balada Si Eni”.

Dilanjutkan penampilan Larut Malam Band yang menyanyikan tiga lagu, “Bad Girl”, “Kita Sama”, dan “Inspiration”. Dan ditutup dengan penampilan dari Sanggar Nuun di reportoar kedua membawakan komposisi Bali, Hibernasi, dan Oase.

Lagu-lagu yang ditampilkan adalah upaya menghidupkan kesenian tradisi, dan perayaan hari Kartini yang tidak hanya sekedar ‘diperingati’. Karena musik yang ideal sejatinya bagi Wahyu selaku pionir penggerak Samirono adalah, “Musik yang bisa dirasakan dan dimainkan dengan enjoy” ujarnya. Diharapkan juga semangat dari lingkup kecil Samirono bisa meluas ke komunitas dan daerah yang lain di Indonesia.(Isma Swastininingrum)

 

Editor : Folly Akbar