515 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

 

Romo Mangun

Meski telah meninggal 15 tahun yang lalu, tapi pemikiran Romo Mangun yang cerdas dan unik merupakan warisan spiritual yang berharga.

lpmarena.com, Beberapa film dokumenter tentang Yusuf Bilyarta (Y.B.) Mangunwijaya ditayangkan secara inspiratif di Bentara Budaya Yogyakarta. Puluhan seniman, budayawan, intelektual, hingga rakyat biasa memadati acara Peringatan 15 Tahun Wafat YB Manungwijaya, Selasa malam (6/5).

Setelah film yang menceritakan mozaik hidup tokoh multitalenta itu usai, tampillah pertunjukkan pembukaan acara dari Wayang Milehnium Wae dengan gabungan pertunjukan musik, gamelan, tari, pembacaan puisi, pantomim, wayang, dan drama. Pentas kolaborasi ini berjudul “Mlarat Ning Ningrat (Miskin Tapi Ningrat)”, sebagai simbol sikap belas kasih dan cerdas menghargai hidup. Miskin tapi dia kaya, bukan miskin murahan.

Yusuf Bilyarta Mangunwijaya atau kerap disapa Romo Mangun lahir di Ambarawa, 6 Mei 1929. Ia meninggal pada tanggal 10 Februari 1999 saat memberikan simposium tentang peran buku dalam menciptakan pendidikan baru, ia menutup mata dalam pelukan sahabatnya Mohamad Sobary.

Romo Mangun merupakan simbol perjuangan lintas batas. Ia seorang arsitek lulusan Jerman dan Imam (Pasteur) Keuskupan Agung Semarang yang multidimensional. Targetnya menjadi pasteur bukan untuk bertambahnya umat katolik, tapi ada visi yang lebih besar, yaitu nguwongke wong (memanusiakan manusia), dengan membiarkan manusia hidup dalam kemanusiaan mereka.

Pemikirannya ada dalam banyak bidang, dari tentang kemanusiaan, budaya, pendidikan, dan negara. Melalui karyanya, Romo Mangun menempatkan keberpihakannya pada mereka yang miskin dan tertindas. Ia memberi hati yang tulus dan menuai perhatian banyak orang. Baik dukungan ataupun ancaman menyadarkan kita pada generasi yang hanya bisa nggrundel untuk memiliki solidaritas berbagi. Itu tercermin dalam wejangan Romo Mangun, “Ojo pageri omahmu nganggo beling, nanging nganggo piring (Jangan memagari rumahmu dengan pecahan kaca, tapi dengan piring)” yang merupakan simbol kerelaan berbagi.

Napak tilas keberpihakan Romo Manugn pada rakyat kecil terukir dalam perjuangnnya memperjuangkan hak-hak rakyat yang lahannya terkena proyek waduk Kedungombo pada masa rezim Soeharto. Tak hanya itu, Ia juga mengadvokasi masyraakat miskin di bantaran Kali Code agar tidak digusur, sekaligus memberdayakan masyrakat Kali Code. Romo Mangun juga mendirikan sekolah (SD Kanisius Mangunan) yang lebih diarahkan pada pengalaman, proses pembebasan, proses kreatif, dan emasipasi. Dalam tanda petik, pola sekolah yang dibangun Romo mangun adalah ‘Melawan Pendidikan Formal” yang anak-anak hidup dalam dunia naratif. Materi-materi abstrak dan harus dihafal, ini merupakan militerisme pendidikan.

Romo Sidhunata yang merupakan sahabat Romo Magun sekaligus tuan rumah acara menyampaikan kenangan-kenangan pemikiran Romo Mangun saat ia meng-edit tulisan Romo Mangun. Di sana Romo Mangun berbicara bahwa sastra yang berpamor adalah sastra yang pamornya tumbuh dari dalam. Iktiar yang timbul dari rasa. Susastra yang berciri filsafat dan historis, bahkan ia terlibat dalam politik (sastra historis politis), tetapi itu tereduksi dengan menyempitnya dunia politik yang hanya dimaknai dengan kekuasaan (Machiavellian). Masyarakat dilanda pragmatisme yang jauh dari otentik dalam bersastra. Hanya suka yang pop dan dangkal, mudah bosan, gebyar dan glamor, mudah puas dengan hal yang semu.

Romo Mangun berpedoman pada pendapat Thomas Aquinas yang mengatakan bahwa kebenaran dan keindahan tak bisa dipisahkan. Mengatakan kebenaran saja tidak cukup, harus memancarkan keindahan, dan individu yang bertanggung jawab adalah sumber kreativitas. ”Berpikir berani ber-oposisi,” ucap Romo Sindhunata.

Hal inspiratif lain datang dari sambutan Imam Priyono (Wakil Walikota Yogyakarta). Ia bercerita tentang seorang anak penjaga ramalan. Pada tahun 1983 ia lulus SMA, tetapi karena miskin ia tidak bisa kuliah. Anak ini bertemu dengan Y.B. Mangunwijaya, ia mendapat bantuan dan ‘menerima piring’ sang Romo, tahun 1986 anak itu akhirnya bisa kuliah. “Dan anak tersebut adalah saya yang sekarang menjadi Wakil Walikota Yogyakarta,” kata Imam membuat terkejut hadirin yang datang, disambut dengan gegap tepuk tangan.

“Tidak cukup menapakinya, tapi juga menjelajahi (pemikiran-pemikirannya),” tutur Teguh Prastowo, Ketua Panitia.

Acara peringatan 15tahun wafatnya Romo Mangun ini akan digelar dari tanggal 6-11 Mei di Bentara Budaya Yogyakarta, yang diisi dengan berbagai agenda, seperti pameran seni rupa “Pager Piring”, seminar pendidikan, sarasehan budaya, dan workshop seni rupa anak.

Ya, burung manyar itu telah terbang dan tak bisa memanggilnya kembali. (Isma Swastiningrum)

 

Editor : Folly Akbar