436 Pembaca

Oleh: Jabarantha*

Siang yang panas itu terkalahkan angin sepoi. Seperti biasa Tini menghabiskan waktu siang selepas memasak bersama Darti, tetangga samping rumah untuk sekedar bercengkrama di bawah pohon tales pinggir sungai Gajah Wong.

Tini dan Darti ngobrol ngalur-ngidul, mulai urusan dapur sendiri sampai menyerembet ke dapur para tetangga. Bahkan dilahap ludes tak tersisa. Mereka juga tak segan-segan mengumpati para koruptor bermoral bejat maupun para calon wakil rakyat yang bermodalkan citra, citra dan citra.

“Jokowi kae loh mbak pemimpin seng duwe urusan siji hurung rampung tapi wes arep ngurusi liyane, (Jokowi itu mbak pemimpin yang punya satu persoalan belum selesai tapi sudah ingin mengurusi persolan lainnya),” kata Tini sambil mengambil tumo (red.kutu) di kepala Darti.

“Yo rapopo no yu, Jokowi kae sopan santune apek loh dari pada Jendral iku (Ya tidak apa-apa yu, Jokowi itu sopan santunnya bagus loh dari pada jendral itu),” timpal Darti sambil menunjuk poster yang berada di atas jembatan.

“Prabowo maksute mbak (Prabowo maksudnya mbak)?”

“Sopo meneh yu (siapa lagi yu),” ucap Darti jengkel

“Yo ojo ngono mbak,  ati-ati yen ngomong. Awak dewe iki kudu adil soko pikiran (ya jangan begitu mbak, hati-hati kalau bicara. Kita itu harus adil sejak dalam pikiran),”

Tini mendapatkan lagi tumo dari kepala Darti. “Dasar Tumo, manggon nang kepalane wong ra ngomong-ngomong (dasar kutu, bertempat di kepala orang tidak permisi),”

“Yen Tumone iso ngomong malah medini yu.. (kalau kutunya bisa bicara, justru menakutkan yu),”

“Hahha..hhaa mbk e iso-iso ae.” Mereka tertawa lepas, menambah kesejukan di siang bulan Mei tersebut.

Hampir tiap hari mereka petanan (red.aktivitas mencari kutu di kepala) tapi tetap saja ada seekor tumo yang tertinggal. Aneh. “Ono wae tumo seng kari (ada saja kutu yang tertinggal).”

Disamping Tini dan Darti, gemercik aliran sungai sesekali menabrak bongkahan batu, membuat suasan siang itu terasa damai, sejuk meski sesekali suara bising kendaraan membuat telinga getar. Gaduh.Tapi itu tak membuat anak-anak yang bermain di pinggir sungai gajah wong merasa tertanggu. Mereka tetap asik bermain dibawah pengawasan Tini dan Darti.

Sebagian asik main mobil-mobilan, sedangkan yang lain main masak-masakan. Ada yang pegang sendok plastik, botol dan ada yang sedang mencampur  abu dengan air.

“Arep nang ngendi ton, kuk kayane kesusu (hendak kemana Ton, Sepertinya tergesa-gesa) Tini menyapa Anton yang lewat depannya.

“Biasa mbak arep ngamen (seperti biasa mbak, ngamen),”

“Yo ton, moga oleh duwet seng akeh kanggo munggah kaji (Ya Ton, semoga dapat uang banyak, buat naik haji),”

“hehee. monggo mbak” Anto tersenyum mengimani perkataan Tini.

Anton adalah pemuda asli kampong Gowok, Yogyakarta. Lulusan SD biasa ngamen di pertigaan UIN Sunan Kalijaga untuk mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari. Setengah hari, Ia bisa mengantongi uang recehan sebesar lima puluh ribu rupiah. Lumayan.

Selepas kepergian Anton, tiba-tiba “Nghem.. nghemm… hiks hiks,” tangis Intan tersedu-sedu.

Tini langsung beranjat dari tempat duduk menghapiri anak ceweknya tersebut. “Kenopo nak,” sambil menjumput anaknya. Di peluknya dengan hangat-mendamaikan.

“Ra di silihi botol karo Opik mau dhe (gak di pinjamin botol sama Opik budhe),” sahut Ayu segera.

“Yowes ra popo mengko ibu tukokke seng wokeh (yadah ga apa-apa, nanti ibu belikan yang banyak),” ucap Tini sambil membawa anaknya ke tempat asal Tini duduk.

Tak berselang lama, Intan kembali berlari menuju gerombolan anak-anak yang sedang bermain. “Ayuuu dijogo yo adine!(Ayuuu dijaga ya adeknya)  seru Tini dari tempat duduk.

“enjeh bu dhe(iya bu dhe)..”

Sementar Tini melanjutkan petanan bersama Darti. “Dasar anak-anak yo yu,” ucap Darti sambil geleng-geleng. “Eh. Biyen sampeyan yo podo mbak (eh, dulu kamu juga kayak gitu mbak),”. Hahha mereka tertawa lepas.

Tawa mereka terhambat saat ada dua mahasiswa yang sedang lewat di depan mereka. Dua mahasiswa itu sedang asik ngobrol, entah apa yang di obrolkan yang jelas Tini dan Darti tidak mengerti dengan bahasa yang mereka gunakan. Seolah-olah dunia milik mereka berdua.

Saking asiknya, mereka tidak menyapa Tini dan Darti yang sedang duduk tak jauh dari jalan setapak itu. Bahkan, belum sampai tikungan jalan, Tini lantas mengomentari kedua mahasiswa berjaket hijau tersebut dengan nada jengkel. “Yu nang kuliah iku di ajarke sopan santan ra e. La ono wong tuwo jagong nyapa  wae ora (yu, kuliah itu di ajarkan sopan santu ga ya. Ada orang tua sedang istirahat, menyapa saja tidak ,)

“Mboh yo mbak, jarene yo kampus islam tapi perilaku mahasiswane kuk koyok ngono. Asal nyelonong wae. Ra duwe tatakrama babar blas. Aku dadi mikir-mikir arep nguliahke anakku nang NGUIN (ga tau ya mbak, katanya kampus islam tapi perilaku mahasiswanya kuk seperti itu. Asal nyelonong aja. Tidak punya tatakrama sama sekali. Aku jadi mikir-mikir kalau meng-kuliah-kan anakku di NGUIN),” Darti menimpali dengan muka jutek. []

*Penulis adalah mahasiswa tingkat akhir di jurusan Ilmu Komunikasi UIN Suka.

Punya keinginan menjadi seorang Petani.

Sekarang bertempat di @jabarantha