307 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Banyaknya jumlah buruh, haruslah diimbangi dengan peningkatan kualitas buruh.

lpmarena.com, Selasa, (27/04) Lembaga Bina Muda Indonesia (LBMI) mengadakan seminar nasioal yang bertempat di Tetrikal Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga. Bertema “Refleksi Mayday: Tantangan Buruh Pasca Penetapan 1 Mei sebagai Hari Libur Nasional”, acara tersebut dihadiri sekitar 106 peserta dari berbagai instansi. Datang sebagai pemateri dalam seminar nasional Rujito (dari Dinas sosial), Agnes Dwi (penggiat buruh), dan Mahendra Kosuma (KPO-PRP-DIY).

Mustafa selaku direktur LBMI mengajak pada peserta seminar mencermati persoalan-persoalan buruh yang ada pada saat ini. “Yang terpenting kita tidak terlalu buta dalam melihat peran buruh yang selama ini dianggap sia-sia dalam menyukseskan negara,” ungkap Mustafa.

Agnes Dwi, di awal pembicaraan menceritan betapa buruh itu menjadi penggerak utama Negara pada masa pemerintahan Soekarno. “Ku harap cita-cita Soekarno tidak lagi dilupakan,” ungkap wanita asal Gunung Kidul itu. Ia juga menceritakan pengalaman hidupnya selama menjadi pegiat buruh di Jakarta, Surabaya dan Yogyakarta. “Mungkin saatnya buruh bersatu dan juga bisa memberikan wewenang terhadap kebijakan kaum politik,” tambahnya.

Rujito, pemateri kedua turut menambahkan pendapat Agnes Dewi. Polemik yang terjadi dengan buruh adalah persoalan hukum yang sangat klasik “Negara kita menginginkan negara yang industrial akan tetapi tetap menggunakan hukum yang kuno” ungkapnya. Ia melihat bahwa dari sejak reformasi sampai sekarang aktivitas buruh semakin masif dan membludak banyak, akan tetapi tidak berkualitas. Terbukti kegiatan buruh masih kocar-kacir dan tidak ada kemandirian.

Mengenai keberadaan buruh di Indonesia, Mahendra mengungkapkan bahwa banyak sumbangsih buruh untuk negara Indonesia ini. Pada Orde lama semisal nasionalisasi aset. “Terbukti buruh merebut PT kreta Api, PT.Garuda PT. Pertamina,” ungkapnya. Mahedra juga memberikan solusi untuk mewujudkan buruh ke depan lebih baik, berdikari pada kemadirian sebagai buruh, tidak ikut arus dalam kemandirian politk yang tidak memihak, dan yang terakhir adalah membentuk partai politik. Ia percaya dengan ayat yang berbunyi “Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum, jika tidak kaum itu sendiri yang merubahnya”. Alasan ini dijadikan dasar buruh harus mandiri dan punya komitmen sendiri. (M.Faksi Fahlevi)

 

Editor : Ulfatul Fikriyah