445 Pembaca
Rimba Arena ketika bercerita tentang "bocah-bocah mayeng".

Rimba Arena ketika bercerita tentang “bocah-bocah mayeng”.

lpmarena.com,Di bawah pohon beringin yang rindang di Depan Gedung Multi Purpose (19/9), Konser “Untuk Rakyat” persembahan Teater Eska dan LPM Arena diadakan.Hadir sebagai pengisi acara Rimba ARENA, Roesly Khaeza, Selendang Sulaiman, Seni Perlawanan Oentok Rakyat (Spoer), Shohifur Rodho Ilahi, Sisir Tanah, Sabiq Ghidafian, Harik Giyarian, dan Rusli Baihaqi

Usai magrib, pembuka acara, Hartanto Ardi Saputro (Rimba ARENA) mulai bercerita. Tentang sebuah warung bernama warung Mak’e yang terletak di pojok timur perempatan Abu Bakar Ali. Tempat transit berbagai macam kelas masyarakat dari wisatawan, tukang becak, pemulung, pengamen, hingga pekerja seks komersial. Selama tiga hari Rimba mengikuti dan ikut berbaur dengan salah satu pemulung yang hidup di jalanan Jogja itu.

“Pukul tiga pagi, pemulung Jogja sudah mulai bergerak berdasarkan rutenya masing-masing. Hingga jam sembilan malam dengan durasi kerja 18 jam mereka kuat,” tutur Rimba yang juga pernah ikut para pemulung itu tidur di bawah jembatan Lempuyangan ini. Cerita berlanjut ke bagaimana kehidupan mereka, watak mereka, perselisihan antar permulung, dan banyak lainnya yang ia rangkum dalam tulisannya berjudul Bocah-bocah Mayeng.

Berbeda dengan Rimba, Roesly Khaeza mantan pimred LPM Humaniush mengatakan kawan aktifis dan pejabat pemerintahan sekarang naif dan bullshit. Mereka bekerja hanya untuk golongan. “Persoalan tentang rakyat sering digembosi. Pemerintah adalah rakyat itu sendiri,” kata Roesly, ia menambahkan jika saat ini banyak orang yang mengalami kerancuan epistemologi berpikir. “Otensitas mahasiswa dipertanyakan. Jahit otensitas kita sebagai mahasiswa, jangan mau diperbudak senior, karena yang pertama masuk neraka adalah senior,” ujar Roesly provokatif dan ia lebih memihak pada nurani.

Selendang Sulaiman sebagai antitesa dari Roesly mengatakan jika yang salah bukan pemerintah, tapi kita (rakyat). “Yang salah adalah kita sebagai rakyat, aktifis, reporter yang kehilangan kebudayaan. Kita ngartis sendiri dan mengambil jarak pada rakyat,” celoteh Selendang yang juga diungkapkan dalam pembacaan puisi Rendra.

Keberpihakan pada rakyat dalam bentuk yang lain diungkapkan juga dalam monolog dari Habiburahman. Dengan property sebuah cermin dan buku, Habib bermonolg. Bahasa tubuhnya berkisah tentang seorang pemuda yang ingin meremas tawa dari dasar sakit. “Aku memilih kebahagiaan yang merusak. Cinta adalah sesuatu yang omong kosong, (tapi) hidup adalah lawan dari cinta,” ucap Habib puitis.

Titik kritik “Kita dididik untuk memihak yang mana?” diungkpkan pula dalam nyanyian dan gitaran dari Sisir Tanah, Seni Perlawanan Oentok Rakyat (Spoer), Harik Giyarian, Sabiq Ghidafian. Juga pembacaan puisi selain dari Selendang Sulaimana, ada Shohifur Rodho Ilahi, dan Rusli Baihaqi. Pertunjukan seni lukis dari Maya, serta semacam stand up comedy kritis dari Bikhu Miftah Farid Paulus. Jika Harik berkata, “memihak yang mana terserah, asal sadar.” Lalu Anda memihak yang mana?(Isma Swastiningrum)

 

Editor : Ulfatul Fikriyah