654 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Oleh:A Taufiq*

 

Ketika harapan hanya bisa diraih dengan perang, maka perang itu suci.(Titus Livius).

 

Sudah bukan rahasia lagi kalau aksi demonstrasi kini kian dibenci, bahkan di kalangan mahasiswa sendiri. Saya sendiri mulai sering mendengar mereka yang mengaku intelektual mencaci-maki aktivitas demonstrasi. Dan caci-maki itu dikoarkan dengan bangga di depan khalayak. Seperti seminar-seminar, atau sekedar malam refleksi dan malam hiburan. Bahwa semua demonstran yang ada, atau mayoritas yang teriak-teriak di jalanan tak lebih dari pasukan nasi bungkus, atau orang suruhan yang dibayar hanya dengan uang recehan. Selain itu, para demonstran adalah juga biang keladi kerusuhan jalanan, yang dengannya tentu saja dianggap merusak citra mahasiswa sebagai intelektual akademik. Sehingga, para demonstran saat ini cenderung dianggap penyakit masyarakat, dan karenanya harus diberantas atau ditaubatkan.

Kampus sebagai wadah penggodokan mahasiswa, kemudian melakukan berbagai macam cara untuk menundukkan para demonstran dengan sekian peraturan yang ada agar mereka tidak bisa berkutik, atau minimal ruang mereka semakin sempit. Sejak mula masuk kuliah, ada semacam indoktrinasi agar mahasiswa menjauhi demonstrasi, dengan cara mencekoki mereka bahwa demonstrasi adalah aktivitas yang biadab dan tak pantas dilakukan. Lagipula demonstrasi tak bisa diandalkan untuk modal masa depan.

Wajar jika kini kita temui anggapan-anggapan bahwa demonstrasi adalah aksi yang sia-sia belaka. Bahkan, aksi yang katanya membela rakyat, faktanya malah mengganggu rakyat. Seperti jalanan jadi macet, bentrok dengan polisi, bakar-bakar ban, dan sekian kerusuhan lain yang ditimbulkannya. Sementara di sisi lain banyak cara kalau sekedar untuk meneriakkan suara rakyat. Contohnya menulis di media massa yang dengannya, orang bisa melontarkan gagasannya mengenai solusi  atas persoalan masyarakat, tanpa harus mengganggu ketertiban dan keamanan. Selain itu juga dapat honor buat tambahan uang saku. Bukankah itu perjuangan yang indah?

Mengapa Demonstrasi?

Mengapa hari gini masih harus demonstrasi? Bukankah ada banyak jalan perjuangan?

Ketika mahasiswa demonstrasi, pada dasarnya mereka mencoba menyambung suara rakyat di jalanan sebab suara rakyat sering macet di meja kekuasaan. Jalanan dipilih sebagai media tentu dengannya akan mudah mencuri perhatian khalayak. Para demonstran merasa mewakili rakyat yang tak sempat menyuarakan hak-haknya. Sementara wakil rakyat cuma membeli suaranya saja waktu pemilu dan langsung melupakannya  Rakyat tak sempat marah, atau tidak tahu mengapa harus marah. Rakyat dibodohi, dan harus sabar menghadapi segala situasi.

Mewakili amarah rakyat, kadang massa memang berlebihan. Ada yang boikot jalan, bakar ban, teaterikal, bakar diri, atau bakar menyan. Tapi seperti bakar ban, itu adalah semacam simbol, bahwa ada amarah yang membara dari jutaan jelata. Ekspresi kemarahan itu memang kadang destruktif, dalam arti mengganggu orang lain terutama tentu pengguna jalan. Tapi tanpanya, kadang demonstrasi hanya sebatas lelucon atau tontonan, bahwa hari gini ternyata masih ada orang gila yang teriak-teriak di jalanan. Demonstrasi memang menciptakan ketidakstabilan sementara. Tapi bukankah hanya dengan mengoyak stabilitas perbaikan itu bisa dilangsungkan?

Bagi saya, demonstrasi adalah semacam ancang-ancang untuk perang. Dengan demonstrasi, kita mengancam penguasa (dengan beragam variasi dan tingkata kekuasaannya) agar tidak terus-menerus mengabaikan kewajibannya dan menindas bawahannya. Jika pengabaian dan penindasan berlangsung, perang akan segera terlaksana. Dan kita tahu, kekuasaan hanya bisa diruntuhkan oleh kekuasaan yang lebih besar. Kekuasaan kelas elit hanya bisa diruntuhkan oleh kuasa rakyat jelata.

Fakta tentang pasukan nasi bungkus alias demonstrasi bayaran untuk kepentingan individu atau golongan, memang marak kita temui, dan itu sangat menciderai demonstrasi. Tapi menganggap semua demonstran yang ada adalah pasukan nasi bungkus adalah bentuk kesesatan berfikir, atau dia memang terlalu kuper untuk keluar dari tempurungnya. Masih lebih banyak demonstrasi yang memang berangkat dari akal sehat dan hati nurani yang tergerak melawan penindasan.

Jadi, mereka yang sinis dan mencacimaki demonstrasi sesungguhnya adalah mereka yang tidak tahu apa-apa dan hanya cari keamanan dan kenyamanan buat udelnya sendiri. Kita tak bisa reformasi atau revolusi tanpa turun ke jalanan merebut kekuasaan, ketika kita hanya menulis tentang penderitaan rakyat dan menjualnya ke media massa.

 

Sleman, 26 September 2014

*Penulis adalah ekstrimis KMPD