442 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email
Susana diskusi dan bedah film sebelum pagi terulang kembali Selasa (30/12)

Susana diskusi dan bedah film sebelum pagi terulang kembali Selasa (30/12)

Lpmarena.com, Selasa (30/12), Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Yogyakarta bekerjasama dengan Lembaga Pers dan Penerbitan Mahasiswa (LPPM) Nuansa UMY menyelenggarakan diskusi dan bedah film berjudul Sebelum Pagi Terulang Kembali.

Acara yang diselenggarakan di ruang multimedia ilmu komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini bertujuan untuk memberikan pembelajaran kepada peserta tentang korupsi yang terjadi di berbagai kalangan.

Acara diskusi dan bedah film ini disajikan dari tiga perspektif yaitu perspektif jurnalis, perspektif praktisi, dan perspektif orang yang berkecimpung di jaringan anti korupsi. Hadir sebagai pembicara, Bambang Muryanto (dari The Jakarta Post), Greg Arya (dari Four Colour Film), dan Benny (anggota jaringan anti korupsi Yogyakarta).

Somad, ketua PPMI Yogyakarta sekaligus penyelenggara mengatakan bahwa dari PPMI Yogyakarta ingin memberikan edukasi kepada mahasiswa tentang korupsi yang terjadi di kalangan pejabat, kerabat, dan masyarakat. “Kami berharap mahasiswa dapat kritis dalam isi film ini agar dapat memberikan pengertian kepada dirinya dan masyarakat luas lainnya,” pungkasnya.

Film Sebelum Pagi Terulang Kembali karya Lasja F Susatyo ini menceritakan fenomena korupsi di kalangan keluarga pejabat sekaligus di institusi negara. Bermula dari anak dari keluarga pejabat yang kurang komunikasi, seorang pemuda tumbuh menjadi seorang yang haus akan uang dan memutuskan bekerjasama dengan seorang anggota DPR dan seorang karyawan dinas perhubungan untuk mendapatkan uang dengan cara menjadi seorang koruptor.

Diskusi diawali dengan pandangan tentang film dari kalangan praktisi. Greg Arya menjelaskan, untuk dapat memahami film ini membutuhkan logika karena film ini mengajak penonton untuk merasakan meskipun hanya sedikit-sedikit.
“Film ini mengajak kita untuk melihat permasalahan dan fenomena yang terjadi di masyarakat. Film ini tidak terlalu menyoroti ke bawah dan ke atas karena memang hanya fenomenanya yang ditekankan sehingga penonton dapat menyadari dan menangkap pesan agar kita dapat tegas untuk berkata tidak,” tutur Greg.

Menurut Bambang Muryanto sendiri, film ini merupakan gambaran bahwa keluarga adalah wadah awal dari terciptanya korupsi bermula dari Orde Baru dan sekarang menjadi tren di mana hampir semua melibatkan keluarga dan kerabatnya.
“Film semacam ini penting untuk disebarluaskan ke masyarakat apalagi di Yogyakarta yang memiliki slogan anti korupsi mulai dari keluarga sendiri agar dapat menghilangkan sikap korupsi mulai dari yang sepele sampai yang besar,” ucapnya. Hal ini turut diamini oleh Benny, ia menambahkan, ”Film ini menyadarkan masyarakat tentang upaya anti korupsi itu berasal dari keluarga itu sendiri.”

Acara yang berlangsung dari pukul 14.00-18.00 WIB dan yang juga dimeriahkan dengan musik acoustic dan pembagian doorprize ini memberikan kesan tersendiri bagi Ayu salah satu penonton. “Sangat terkesan dengan adanya acara seperti ini, saya jadi tambah mengerti dan tambah ingin berlajar banyak tentang korupsi dan bagaimana cara untuk melawan korupsi itu sendiri,” celotehnya. (Kartika HN)

Editor: Isma Swastiningrum