530 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email
Pemotongan tumpeng 40 tahun LPM ARENA oleh Ahmad Jamaluddin.

Pemotongan tumpeng 40 tahun LPM ARENA oleh Ahmad Jamaluddin.

Lpmarena.com, “Menilai laku dari diri yang didekonstruksi” merupakan sebuah refleksi dari jejak rekam LPM ARENA empat dekade (1975-2015). Bertempat di gelanggang mahasiswa UIN Suka, Sabtu malam (10/1) acara perayaan 40 tahun ARENA digelar dengan menghadirkan para bintang tamu serta anggota/alumni LPM ARENA.

Acara dibuka dengan penampilan akustik dari Harik Giyarian, lalu dilanjutkan dengan penayangan film dokumenter tentang ARENA dan sambutan-sambutan. “Acara ini sebagai kebersamaan dalam kesederhanaan. Terima kasih untuk semua yang hadir,” kata Haryaningrum Kurnia selaku ketua acara.

Lalu pemotongan tumpeng dilakukan oleh pemimpin umum LPM ARENA, Ahmad Jamaluddin. “Teman-teman ARENA banyak-banyaklah belajar,” ucap Jamal dalam sambutannya.

Memasuki acara inti, sarasehan yang mengulas tentang ARENA dilakukan dengan narasumbernya perwakilan alumni ARENA per dekade, yakni: Addi Idhom, Fakih, dan Majidun.

Artefak dan Perlawanan

Tak dipungkiri, pers merupakan sebuah arsip yang merekam jejak-jejak sejarah yang terjadi pada masanya, termasuk lembaga pers ARENA. Dari produk-produk yang dihasilkan ARENA seperti majalah bisa dilihat perkembangan yang terjadi di IAIN (dulu) atau UIN (sekarang).

“Dari majalah, perkembangan yang terjadi di IAIN bisa dilihat dengan baik sekali. Semua didokumentasikan dan dianalisis,” tutur Addi, alumnus ARENA tahun masuk 2003.

Berbeda dengan Addi yang menjadikan 40 tahun ARENA sebagai sebuah artefak perekam sejarah, Fakih alumnus ARENA tahun masuk 1997 bercerita jika sifat khas dari ARENA adalah melawan. “Apapun harus dilawan,” tuturnya bersemangat. “Kalau Addi bilang 40tahun jadi artefak, saya bilang 40 tahun jadi nabi,” ucap Fakih lagi.

Dulu pada masa Orba, majalah ARENA di bawah LPM keberadaan pers saat itu menjadi refleksi setelah Soeharto diturunkan. “Saat Soeharto turun dan rektorat menyuruh mahasiswanya kembali ke kampus. Dijawab oleh ARENA masa itu ‘kita tak akan berhenti melakukan perlawanan’. ARENA titik refleksi, mentality itu yang tak boleh hilang,” celotehnya.

ARENA juga pernah dipanggil menteri penerangan pada masa itu terkait pemberitaan tentang Soeharto yang berimbas pada pembredelan ARENA. Lalu untuk mendapatkan dukungan, kampus juga pernah di-alteco.

Nostalgia

Dulu saat ARENA terbit pertama kali tahun 1975, bentuknya kecil seperti buku. Tahun 1988 di zaman Imam Aziz, bentuknya seperti majalah. 5000-7000 majalah dijual dan habis, kru ARENA digaji. Ada 32 distributor termasuk di IAIN Jakarta, Surabaya, UII, Balairung, dan kampus yang lain.

“Dulu tak bisa membedakan ARENA dan TEMPO. Itu yang berbeda dari sekarang. Dulu, tak ada yang tak tahu ARENA,” ucap Majidun, salah satu pendiri awal ARENA. Ia merasa miris karena di film dokumenter yang ditayangkan di awal acara ada mahasiswa UIN yang tak mengenal ARENA.

Tahun 1993, ARENA kembali berpikir alternatif dengan membuat SLiLit. Mulanya dari 12 halaman berlanjut ke 24 hingga 50-an halaman. Di zaman itu anak yang ikut ARENA harus bisa menulis. Seminggu wajib menyetor lima tulisan. Bentuknya terserah, bisa berita, opini, atau puisi. Tulisan dari anak-anak ARENA pun banyak terbit di media massa.

“Aneh kalau masuk ARENA nggak bisa nulis. Saya tidak tahu, zaman sekarang penulis di koran nggak ada yang dari ARENA, belum menemukan ‘penulis adalah pengelola majalah LPM ARENA UIN Suka’,” kata Majidun.

Ia juga bercerita, dulu di antara 160 orang yang mendaftar ARENA yang diterima magang hanya 21 orang dan hanya 12 yang diterima.

Semangat lain yang dimiliki ARENA di masa dulu adalah berani nekat. “Dulu itu lebih berani nekat. Nggak ada kertas, ngambil ke TU. Jika tak mau memberi, kabag saya tulis di koran. Saya dan teman-teman tak takut di-DO, nginep di Korem juga biasa,” cerita Majidun.

Pemikir

Kampus merupakan sarana tempat belajar semuannya. ARENA merupakan tempat mahasiswa mengembangkan pemikiran dan menulis adalah ekspresi yang wajib. “Mahasiswa ARENA itu sekelompok pemikir. Tak ada anggota ARENA yang bukan pemikir. Yang tak punya itu ya belajar,” ujar Majidun.

Addi sendiri berharap di momentum seperti sekarang bukan sekedar peringatan. Selain aktif berpikir juga semakin aktif membuat karya. Hidup ARENA! (Isma Swastiningrum)