313 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Lpmarena.com, Waktu perpindahan Program studi (Prodi) Pendidikan Guru Raudlatul Athfal (PGRA) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga ke Maguwoharjo telah diputuskan di tahun ajaran baru mendatang. Keputusan tersebut telah diputuskan sekitar satu bulan yang lalu.

“Sudah diumumkan, dan sudah sosialisasi,” ungkap Sumaidi, Kepala Prodi PGRA, (23/01). Alasan perpindahan PGRA diakui Sumaidi dikarenakan fasilitas di sana lebih bagus, selain itu juga untuk kebutuhan akreditasi Prodi.

Selain PGRA, Prodi PGMI juga telah diputuskan pindah ke Maguwoharjo. Menurut Sigit Prasetyo, Sekretaris Prodi PGMI menjelaskan karena kapasitas Fakultas yang overload, hanya ada dua pilhan yakni kuliah sampai malam atau pindah. Dan Mahasiswa sepakat untuk pindah, tetapi ketika itu waktunya belum pasti. “Ya, nantikan diumumkan,” jelas Sigit Prasetyo ketika ditemui ARENA Jumat pagi (23/1) di kantornya .

Selain karena fakultas overload, dipindahnya PGMI dan PGRA ke Maguwo sebab dua prodi tersebut akan mengajukan akreditasi. Karena di sana fasilitasnya lebih lengkap dan lebih baik.

Dari 400 lebih mahasiswa PGMI dan 153 mahasiswa PGRA, beberapa diantara mereka menolak kebijakan perpindahan Prodi mereka ke Maguwo. Banyak diantaranya beralasan karena fasilitas perkuliahan yang kurang, kos-kosan, hingga biaya hidup yang mahal. Mu’anatul Khoiriyah, mahasiswi PGMI semester dua mengatakan,”Biaya hidup di Maguwo mahal, ya dua kali lipatnya di sini. Dan di sana kan sebenarnya juga disediakan perpus cuman perpus kecil lah gitu, dan PGMI yang mencakup semua mata kuliah mulai agama ya mencakup semua fakultas itu kan butuh referensi yang banyak seperti di perpus sini. Jadi masa harus bolak-balik ke sana ke sini.”

Sumaidi mengomentari masih banyaknya mahasiswa yang menolak akan dipindahnya PGRA ke Maguwo karena belum melihat keadaan di sana. Sehingga mereka belum bisa membandingkan keadaan di sini dan di sana yang lebih baik dan lebih lengkap fasilistasnya. Seperti ruang kelas yang lebih luas dan laboratorium yang di sini belum ada, di sana sudah disiapkan. Sementara untuk perpustakaan di Maguwo memang telah dipersiapkan, sementara untuk kelengkapan buku-bukunya masih dalam proses.

Sementara Sigit Prasetyo berujar, ”Jelas ada persiapan, orang pindah rumah itu kan tidak harus siap cemepak (lengkap) semua itu kan tidak. Nanti beli meja, beli kursi sambil melengkapi itu kan sebagai proses, gak mungkin langsung. Tapi yang jelas semuanya di sana fasilitas memadai.” (Laila)

 

Editor : Ulfatul Fikriyah