333 Pembaca
Iman Budhi Santoso ketika mengisi orasi budaya, Sabtu (6/6) malam.

Iman Budhi Santoso ketika mengisi orasi budaya, Sabtu (6/6) malam.

Ketika orang ingin menulis sastra jangan ingin dipanggil sastrawan. Menulislah dengan hati.

Lpmarena.com, Hal itu diungkapkan Iman Budhi Santosa dalam orasi budayanya pada acara Sastra Musim Pancaroba, Sabtu (6/6) malam. Bertempat di depan Underpass UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dalam orasi budayanya, Iman menyatakan sastra bukan hanya untuk dipertontonkan, tetapi sastra mengandung nilai spiritual yang dalam. Ia melanjutkan, untuk menulis sastra kita harus diam. “Anda tidak menulis dengan membaca, berbicara dan teori tetapi dalam menulis sastra yang di butuhkan satu konsentrasi, konsentrasi dan konsentrasi,” ujar Iman.

Terkait tema yang diangkat_Sastra yang Kehilangan Arah dan Makna_dia mengingatkan untuk para penyair muda dalam masalah sastra agar tidak terlalu memikirkan wacana yang terlalu besar dengan mengikuti alur mainstream.“Pikirkan saja apa yang ada di dekat panjenengan untuk menciptakan sebuah karya sastra,” imbuhIman.

Budayawan senior Yogya itu juga mengungkapkan bahwa dalam hal sastra jadilah pencipta bukan hanya menjadi gerbong orang lain. “Semua ingin menjadi gedung, lalu siapa yang menjadi pondasinya,” ucap Iman dalam menganalogikan seorang dalam masalah sastra. Dalam belajar mencipta sastra, bukan untuk disebut sastrawan, karena sastra merupakan jalan sunyijalanuntukbersedekah pada kemanusiaan.Di akhir orasi budayanya, Iman membacakan sebuah puisi yang bertemakan sosial.

Selain orasi budaya, acara yang digelar Sanggar Nuun Yogyakarta dan Ngopinyastro Yogyakarta itu juga menampilkan hiburan musik, pembacaan puisi dan musikalisasi puisi. Beberapa yang mengisi hiburan ialah Ingsun, Gorong-Gorong Institute, Patricia, dan Kopi Basi. (Doel Rohim)

 

Editor : Ulfatul Fikriyah