275 Pembaca

Masa aktivasi budaya menuju masyarakat industri, manusia di dalamnya memuja efisiensi, efektivitas dan produktivitas. Kapitalisme berkembang, pemujaan terhadap ekonomi dan teknologi menjadi bayangan yang harus dikejar. Hal -hal yang dianggap real dan konkrit dijunjung tinggi, sedangkan imajinasi dan segala bentuk abstraksi dianggap mengganggu. Termasuk di dalamnya bahasa dan imajinasi sebagai kekuatan yang mampu menggerakan batin pencipta dan penikmat karya sastra agaknya mengalami benturan yang cukup serius. Yang terjadi selanjutnya adalah, terpental dan jatuh di sudut idealistic atau hancur dan tidak berdayaguna atau bahkan jika tidak keduanya mungkin menikmati dan memanfaatkan keadaan menjadikan sumber penghasilan.

Begitu pula dengan sastra, yang selalu berkecenderungan dengan rasa bahasa manusia yang hidup pada zamannya. Dengan kata lain, sastra adalah wacana atau pesan yang dikembangkan untuk menjadi pemahaman universal, dengan dibubuhinya aspek estetis dalam karya sastra maka kebudayaan sebagai sistem makro dari kehidupan senantiasa dinamis dan memperoleh nilai-nilai estetis. Karena antara budaya dan sastra mempunyai ketergantungan satu sama lain, dengan kata lain, sastra sangat dipengaruhi oleh budaya, sehingga segala hal yang terdapat dalam kebudayaan akan tercermin di dalam karya sastra.

Dalam kondisi yang telah mencapai titik hiper-realitas manusia di dalamnya terjebak dalam perasaan yang dibangunnya sendiri, rasa keterasingan, ketidakamanan, ketidakpastian mengenai identitasnya, kebenaran semu diproduksi melalui laku sebagai suatu bangunan rasa atau logika budaya. Begitu pula dalam penulisan karya sastra sehingga karya sastra yang dihasilkan dan dikonsumsi, karya sastra yang tidak lagi mampu menjadi ruang refleksi kemanusiaan, karya sastra yang tidak lagi mampu menampung gagasan ideal, karya sastra yang tidak lagi mampu memungut serpihan kehidupan untuk dijadikan energi dan sebagainya. Dengan kata lain, sastra dapat disebut sebagai ruangrefleksi kemanusiaan, di sini sastra telah melihat bahwa kemanusiaan merupakan lahan yang sangat kaya dan luas jangkauannya, dengan tidak melepaskan diri dari realitas serta kehidupan yang berlangsung.

Saat ini semua hal yang jauh dapat terasa sangat dekat namun yang dekat pun terasa sangat jauh. Hal tersebut seakan menjadi system yang terus berulang sejalan dengan tumpang tindih arus informasi yang sangat cepat. Begitu pula dengan sastra, seorang dapat dengan mudah menemukan karya sastra di toko buku, koran, majalah atau sekedar berselancar di Internet, namun kemudahan-kemudahan tersebut malah menghilangkan jarak atau jangka pemahaman dan perenungan yang mendalam untuk menjadi sebuah laku. Laku disini terkait dengan aktifitas para pelaku dan penikmat sastra.

Dengan keadaan yang sedemikian, pelaku dan penikmat sastra pun cenderung mengikuti pola ‘mainstream’ yang serba cepat dan praktis. Sastra bukan sekedar apa yang wujud, bukan pula yang dibacakan di panggung-panggung. Sastra memiliki ruh yang dicapai melalui laku. Laku adalah proses yang tentu tidak mudah dan tidak cukup dilakukan dalam satu tahun, dua tahun atau bahkan 5 tahun di kampus.

Akademisi dan praktisi sastra pun tidak berperan banyak dalam membaca dan menilai sastra. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya lembaga akademis satra yang tidak sebanding cepat dengan arus ‘mainstream’. Kualitas sastra tidak dicapai dari banyaknya jumlah karya sastra yang muncul di permukaan. Kualitas sastra dinilai dengan tersampainya pesan yang menjadi pemahaman kemudian menjadi laku. Bukan semakin susah untuk dipahami namun seberapa besar karya sastra dimengerti. Kuantitas ‘instan’ karya sastra hanya menyebabkan seorang menjadi ‘tukang’, bukan menjadi intelektual yang mempunyai visi, kearifan, dan kecerdasan yang berbobot.

Dalam arti yang serba sederhana, karya sastra ‘yang baik’ adalah karya sastra yang punya arti sekaligus bermakna bagi ‘penikmatnya’. Dengan demikian, sastra tidak melulu teks-teks berisi susunan kata yang menjadi gumpalan cerita atau sejenisnya, sastra bukan hanya buku-buku yang tersusun rapi di rak buffet atau almari kaca, sastra adalah bentuk pengalaman spiritual yang diugkapkan dengan kata-kata yang ‘plastis’ sehingga memiliki daya magis yang dikemas melalui bentuk cerita rekaan atau semi-rekaan yang dihayati dari laku kehidupan sebagai sumber perenungan, sehingga tak ubahnya sastra menjadi cerminan kehidupan nyata manusia sehari-hari. Meskipun pada masa tertentu karya sastra yang memihak kepada kemanusiaan dianggap aneh, seperti sebuah mimpi yang mengingkari jaga-hidupnya, yaitu sejarah.

Atas dasar asumsi dan pemahaman di atas, Sanggar Nuun dengan Pesantren Sastra V “Membaca Aku Menulis Laku” mengajak para pelaku dan penikmat sastra untuk diam sejenak, mengambil jarak dari realitas kekinian yang terus berlari kearah yang tidak tentu. Uzlah adalah tawaran praktis untuk kembali mencipta dan tetap berkarya, meminjam istilah Iman Budhi Santosa, mencipta karya sastra adalah “shodaqoh kemanusiaan”. Karya sastra yang dibaca penikmat sastra seharusnya menjadi ‘masukan’ bagi pembacanya. Disinalah posisi sastra; dibentuk budaya atau membentuk budaya.

Kegiatan:

Hari, tanggal : Sabtu, 26 September 2015

Waktu : 09.30 WIB

Tempat : Teatrikal Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga

Pembicara: Otto Sukatno (Budayawan) dan Eko Triono (Cerpenis)

Moderator: Retno Darsi Iswandari

Dimeriahkan oleh: The Temporary String Quarted

Kuota TERBATAS, Konfirmasi 085643785690 (Isti)