326 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Lpmarena.com, “Negeri yang memiliki tradisi sastra yang kuat ialah negeri yang besar atau memiliki masa lalu yang besar”. Hal tersebut diungkapkan budayawan Otto Sukatno dalam Seminar “Sastra; Budaya Mencipta Mencipta Budaya”, Sabtu (26/09) di Ruang Teatrikal Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Seminar sastra ini merupakan rangkaian acara Pesantren Sastra ke-IV yang diselenggarakan oleh Sanggar Nuun Yogyakarta. Selain Otto, sebagai pembicara terdapat cerpenis Eko Triono dan Retno Iswandari sebagai moderator.
Dalam sambutannya, Fuad Zainal selaku ketua panitia menyampaikan bahwa seminar sastra ini merupakan kerjasama Sanggar Nuun dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Adab dan Ilmu Budaya. Selain itu Firman Abdullah selaku ketua BEM Fakultas Adab menambahkan bahwa seminar ini merupakan penyegaran kembali terhadap sastra yang lesu. “Bagaimana cara mengembangkan sastra dan mengejawentahkan terhadap sesuatu. Karena dengan sastra segala sesuatu menjadi indah,” ujar Firman dalam sambutannya.
Menurut Otto kondisi kebudayaan maupun intelektualitas pada hari ini sedang meratapi maupun merayakan kegaduhan. Di mana kita sebenarnya hidup di dalam budaya yang mendorong untuk merayakan apapun, baik kebahagiaan maupun kesedihan.
Masalah paling mendasar dari kedua masalah ini adalah karena orang Indonesia tidak memiliki dua hal, yaitu harapan dan kebanggaan. Harapan ialah merujuk ke masa depan dan kebanggaan merujuk ke masa lalu. “Proses budaya mencipta, mencipta budaya adalah proses keyakinan, management, imajinasi kedepan. Mau jadi apa negeri ini tanpa management itu,” kata Otto.
Hal yang juga penting dalam wilayah sastra mencipta itu ialah apa yang disajikan. Perlunya proses kesadaran untuk kepahaman wilayah. Karena problem sastra saat ini yaitu tidak mempunyai kepekaan sosial maupun data sosial yang cukup. Sehingga yang terjadi adalah tampilan necis, metroseksual, namun karya dan mentalitasnya kumel.
“Karya yang bagus itu bukan pada soal bahasanya indah. Tetapi karya yang mampu sebanyak mungkin menuangkan riwayat masa, riwayat penderitaan, kebahagiaan, peluang, ratapan,” jelas Otto.
Menurut Otto pengkajian sastra di para kaum akademik mengalami keterpencilan, karena karya sastra hanya dibaca sebagai kerangka estetik dan proses kreatif saja. Supaya sastra tidak terpencil dari masyarakat dan dapat menginspirasi untuk menciptakan kebudayaan, perlunya pendekatan filosofis dan pendekatan sastra ketika membahas suatu karya sastra tersebut.
Eko Triono juga mengiyakan hal tersebut. Dimana sastra semakin terpencil. Menurut Eko hal tersebut terjadi karena kecepatan ilmu eksakta sangat cepat dibandingkan dengan ilmu-ilmu humaniora. “Bergerak dari realitas dimana teknologi semakin cepat sedangkan sastra seolah-olah semakin lambat,” ujar Eko.
Hal tersebut juga menjadikan sastra yang dianggap ‘ideal’ sudah tidak lagi dapat dikatakan ideal. Hal itu bertolak belakang di masa Hindia-Belanda, yang di mana sastra dianggap ideal. Dianggap ideal karena generasi dahulu mampu menguasai bahasa sangat banyak dan bacaan sastra mereka sangat besar. Sekolah-sekolah mempelajari naskah-naskah sastra seperti Ramayana, Mahabrata, dan lain-lain. “Namun terjadi peralihan yang sangat besar dimana buku-buku hilang dalam kurikulum bacaan wajib. Ini tanda bahwa sastra tidak lagi ideal,” jelas Eko.
Eko berpesan agar pengarang harus mampu memelihara rasa keingintahuan pembacanya. Selain itu pengarang sebaiknya mempelajari ilmu-ilmu selain sastra, agar karyanya dapat berkembang. (Alifah Amalia)
Editor: Isma Swastiningrum