278 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Selama 35 tahun perjalanannya, Teater Eska telah menciptakan ruang alternatif baru bagi seni Islam progesif.

Lpmarena.com, Menengok kembali sejarah, pentas drama berjudul ”Kesadaran yang Kembali” pada 18 Oktober 1980 merupakan tonggak lahirnya kelompok kesenian bernama Teater Eska. Seiring berlalunya waktu, Senin (18/10), Teater Eska merayakan hari ulang tahunnya yang ke-35 tahun. Bertempat di Gelanggang Mahasiswa UIN Suka acara berisi syukuran, tahlilan, dan diskusi bersama para Keluarga Besar Teater Eska (KBTE), pengurus, dan tamu undangan.

Labibah Zain selaku pembina Teater Eska dalam sambutannya mengatakan bahwa 35 tahun bukan masa yang mudah untuk dilalui begitu saja. Teater Eska sudah saatnya unjuk gigi tentang apa yang dilakukan Teater Eska selama 35 tahun, terlebih yang menyangkut kekhasan yang dimiliki Teater Eska. “Pertama yang perlu diingat lagi, Teater Eska punya branding seni Islam. Apa yang membedakan Teater Eska dengan teater yang lain ada di seni Islam,” kata Labibah.

Hal ini sejalan dengan orientasi Teater Eska yakni: humanisasi, yaitu menggali dan mewujudkan seni Islam secara progresif, serta memberikan alternatif bentuk kesenian (teater, sastra, dan musik) di tengah masyarakat.

Diamini oleh Aly D. Musrifa anggota KBTE sekaligus penyair yang menuturkan perjalanan Teater Eska selama 35 tahun mempunyai sumbangan signifikan bagi dunia kesenian Islam. Salah satu buktinya telah lahir buku Agama Seni karya Hamdy Salad anggota KBTE yang menurutnya memberikan gambaran komprehensif tentang seni Islam. “PR bagi teman-teman untuk berpikir dan bersentuhan dengan estetika Islam. Generasi Teater Eska punya keluasan untuk berproses mandiri,” ujarnya.

Dalam hal berproses, Aly mengutip penyair Acep Zamzan Noor, “ketika kita berproses, tekuni secara serius dan total. Kalau tidak, tidak akan sampai pada hikmah,” ucapnya.

Pencerminan proses tampak pada anggota baru KBTE, Shohifur Ridho Illahi yang masuk Teater Eska tahun 2007 dan hingga sekarang masih ikut menjadi panitia ulang tahun. Selama penggemblengannya di Teater Eska telah banyak cerita yang ia dapatkan. “Di ultah ini ingin nglihat lagi 35 tahun yang lalu,” ujar Ridho.

Selain Ridho, ada pula Amin perwakilan dari KBTE yang cukup lama berproses di Teater Eska. “Selamat ulang tahun untuk Teater Eska yang ke-35. Semoga di ulang tahun ke-35 benar-benar produktif, kreatif,” kata Amin. (Isma Swastiningrum)