341 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Hari ini, Kamis 22 Oktober 2015 dideklariskan sebagai Hari Santri Nasional oleh Presiden RI Joko Widodo. Penetapan tanggal 22 Oktober tak lepas dari sejarah masa silam. Di mana dulu di Surabaya tanggal 22 Oktober 1945 dipimpin KH Hasyim Asy’ari dengan pesertanya perwakilan cabang NU seluruh Jawa dan Madura mendeklarasikan Resolusi Jihad. Resolusi ini merupakan perang suci mempertahankan kemerdekaan melawan penjajah, yakni Inggris.

Tanggal 10 November 1945 kemudian, terjadi perang besar antara pribumi (yang diwakili oleh ribuan santri dan kyai) melawan pasukan Inggris. Perang ini memerahkan Surabaya selama hampir tiga minggu. Menjadi salah satu perang terbesar dalam sejarah Indonesia. Dengan hasil, pribumi menang dan Inggris kalah.

Pro kontra tentang penyebutan Hari Santri menjadi menarik. Kenapa Hari Santri? Kenapa tidak Hari Kyai saja? Dalam konteks Indonesia sendiri, telah berdiri banyak pesantren. Ini tentu berbanding lurus dengan banyaknya santri. Melihat fenomena Hari Santri, bisa dijadikan alat dalam upaya eksistensi, penampakkan diri, atau pertahanan bagi pesantren dan santri. Dalam upaya bagaimana mempertahankan nilai-nilai kepesantrenan dan kesantrian.

Namun, ada stigma tersendiri yang melekat bagi kalangan santri. Santri dikatakan sangat Islamiyah. Santri diidentikkan dengan ngaji, jamaah, kitab, zuhud, dan lainnya. Lebih berorientasi pada akhirat dan meminimalisir hal yang bersifat keduniaan. Di sisi lain santri juga masih terasa dikucilkan.

Pengalaman santri sendiri buruk di bidang yang bekenaan dengan di luar keagamaan. Ada posisi mendua santri, khususnya dalam hal politik. Ketika tidak berpolitik ia santri, tapi ketika naik dalam posisi perpolitikan tertentu, identitas santri seolah disamarkan. Ideologi ini masih berlaku di tengah gaya-gaya politik yang cukup rawan.

Dilihat dari dinamika kelas dalam kondisi sosial. Kyai dan santri merupakan kelas berbeda. Ada sistem otoriter yang bentuknya top down. Ada semacam hegemoni dalam penempatan posisi kyai di atas dan santri di bawah. Kalau kyai bisa memonopoli santri, maka pengikut banyak. Ini bisa menjadi kekuatan dan punya amunisi tersendiri dalam suatu mobilitas tertentu.

Atau jangan-jangan Hari Santri digunakan sebagai penutupan isu yang lebih besar? Misalnya tentang borok-borok lama seperti kasus PKI atau yang sedang hangat mengenai satu tahun kepemerintahan Jokowi/JK. Ada ideologisasi yang digunakan. Entah kebijakan politik yang merugikan kalangan bawah atau hal-hal tertentu yang melegitimasi.

Jokowi salah satu program unggulan adalah tentang bela negara. Hari Santri sekarang bisa saja menjadi Resolusi Jihad, alat bagi Jokowi bagaimana memberdayakan santri dalam upaya bela negara. Dari situ santri secara doktrinasi diajarkan jika mereka membela negara akan mendapatkan pahala. Ada kesewenangan atas dalil-dalil. Santri sebagai alat legitimasi untuk bela negara.

Dari itu, pertanyaan mengganjal juga untuk dijawab, jika yang dijadikan dasar tahun 1945 adalah jihad, lalu dasar dari penetapan Hari Santri dalam konteks sekarang apa? Bagaimana? (Redaksi)