231 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

(Ilustrasi: Lisa Masruroh)

Kematian Tuhan (II)

 

setelah dunia berhasil disulap jadi desa

batas maya seolah tak ada beda

waktu beranjak lebih cepat, angin menyambar menjadi kilat

kita semua semakin dekat lewat dinding facebook

meski huruf-hurufnya beterbangan

orang-orang cerewet melebihi burung pagi hari

jutaan sumpah serapah memenuhi twitter

 

bedug telah masuk daftar gudang sebab azan cukup di tangan

lewat ipad, Blackberry, atau tablet memabukkan

sajadah laris sebagai mahar pernikahan

bukan lagi biduk menemui Tuhan

 

kuliah semakin dipercepat, terkejar absensi

diskusi-diskusi dibatasi arogansi

layar laptop bergerak tanpa arah

pikiran-pikiran tertinggal dalam lipatan diktat kuliah

 

“Tuhan ada di dada kami,” kata mereka yang tiada alpa

mengaji makna untuk jiwa

penguasa dan pengusaha berteriak yang sama

merasa Tuhan telah memenuhi saku-saku mereka

dijejalkan diantara uang-uang haram

hasil menipu dan korupsi

“Tuhan ada di tangan-tangan kami,” teriak ribuan mahasiswa

yang katanya membawa suara-suara orang lemah dan jelata

 

“Tuhan juga hadir di sini,” kata orang-orang di Mall, di deru jalanan

atau di bar yang lampunya mulai mengantuk

 

ya, Tuhan ada di mana-mana

tetapi dunia kita telah sepi

dihisap gadget; jadi misteri

 

Senyap

 

sebuah senyap bersarang di pikiran

mengenang mereka yang terbuang

sekadar mengingat para korban kekuasaan

seorang pemimpin yang bermimpi menjadi Tuhan

 

entah dari mana datang,

orang-orang bersorban yang hendak mengacaukan

kami hanya memelihara api

kenapa mesti dicurigai

 

Empat Pelajaran Baik

 

I

apabila dunia ditinggikan dalam pengharapan

gedung-gedung bertingkat menusuk anak-anak awan

uang berkuasa dan memerintah semena-mena

 

maka, Tuhan akan jauh terbuang

ditinggalkan sang pemilik abadi

padahal usia-usia yang rapuh

jatuh tertabung jadi waktu

siap datang untuk membawa pemiliknya pulang

 

hari-hari lenyap dalam tablet

caci maki dan cinta mengalir dalam udara

oh, Tuhan telah hadir ke dalam media

 

II

bunga-bunga di taman tetangga

merah muda dan lebih indah

 

iri dengki adalah api

yang membakar harapan

yang mengabukan pikiran

 

III

usaha hingga menggenggam cita-cita

pasrah kepada pemiliki jiwa dan raga

adalah jalan petunjuk bagi mimpi

tak cuma patahan kata tanpa solusi

 

bergetar hati ke relung sujud

setiap hamba memikul miliknya

dari yang hasud ke zuhud

tak sia-sia ciptaanNya

 

IV

setiap hari langkahkan kaki dan lupakan sepi

serupa membuang kotoran dari dalam diri

jejak hanya memahatkan sakit hati

 

setiap hari wujudkan mimpi dan lupakan ambisi

esok adalah perang dan kemarin hanyalah bayang-bayang

 

Nubuat Seorang Penyair

 

bahasaku selalu berangkat setiap pagi

menunggangi matahari

huruf-hurufnya bercahaya sampai ke bumi

 

jika bahasaku tidak bekerja setiap hari

maka aku bukan penyair

hanya pemimpi yang kehilangan bantal dan selimut untuk menepi

lalu sesat menuntun sampai hilir

setelah waktu mulai kosong

masa telah condong

 

bahasaku pulang menjelang petang

huruf-hurufnya bersusun di kamar gelap

menuturkan galaksi dan penghuninya

 

penyair itu gagap bila berbicara

tangannya penuh suara

 

sajak-sajakku bekerja setiap hari

bila tidak bekerja ia bukan sajakku

sajakku luput dari mimpi

bila bermimpi ia bukan sajakku

 

Nurul Ilmi El Banna, mencintai sastra dan belajar menulis sastra.