218 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Pemilihan Mahasiswa (Pemilwa) yang digelar setiap dua tahun menjadi salah satu wujud demokrasi kampus. Tahun ini -walaupun molor- Pemilwa akan tetap dilaksanakan pada 3 Desember mendatang. Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga akan mempunyai perwakilan baru baik di tingkat jurusan (BEM-J), Fakultas (BEM-F), dan presiden mahasiswa beserta wakilnya yang menjadi punggawa DEMA.

Saefudin-Badriyanto yang memenangkan Pemilwa tahun 2013/2014 sudah turun jabatan sejak beberapa bulan yang lalu. Yang disayangkan rata-rata mahasiswa UIN Sunan Kalijaga belum mengenal nama mereka apalagi orang-orangnya guna melihat kapasitas mereka menjadi presiden mahasiswa (presma) dan wakil presma.

Lah, kok bisa mahasiswa tidak mengetahui perihal pemimpinnya sendiri? Bisa saja. Alasannya banyak. Alasan terbesar karena mereka yang katanya perwakilan mahasiswa itu tidak pernah benar-benar mewakili mahasiswa, tidak paham kebutuhan dan harapan mahasiswa. Pernahkah ada program kerja mereka yang benar-benar menyentuh mahasiswa? Belum ada. Mungkin akan ada alasan yang muncul, seperti, “karena kita lebih mengawal suara mahasiswa ke tingkat rektorat”.

Apakah presiden mahasiswa dan para menterinya, ditambah pimpinan tingkat fakultas dan jurusan yang jumlahnya cukup banyak hanya bekerja untuk hal itu saja? Mahasiswa butuh kerja nyata, Bung. Maka, wajar saja bila mahasiswa tidak mengetahui pimpinannya sendiri karena mahasiswa tidak melihat bentuk hasil kerja mereka selama dua tahun lebih.

Presma beserta jajarannya kemungkinan juga sibuk dengan urusan politik kampus dan bendera sendiri. Sebetulnya, tidak perlu meniru Jokowi yang sering turun ke pasar-pasar dan lingkungan kumuh untuk menampung aspirasi rakyatnya, karena di UIN Sunan Kalijaga tidak ada pasar, cukup keluarkan ide liar yang sekiranya Anda-anda bisa berbaur dengan mahasiswa dalam satu lingkup kegiatan yang kreatif. Mahasiswa berhak tahu kerja presma dan wakil presma apa, kerja menteri-menteri yang keren itu apa, terlebih lagi pimpinan di BEM-F dan BEM-J harus membuka diri dan menciptakan gaungnya sendiri. Jangan melulu seminar yang temanya itu-itu saja dan belum mampu menjawab sekian banyak kebutuhan mahasiswa.

Melihat kondisi yang telah dipaparkan di atas, demokrasi kampus belum sepenuhnya terwujud. Demokrasi kampus yang seharusnya menerapkan asas dari mahasiswa, untuk mahasiswa, dan oleh mahasiswa hanya tinggal kata-kata. Akhirnya, mahasiswa wajib bertanya, masih pentingkah pemilwa digelar?

Nurul Ilmi, Redaktur Bahasa LPM Arena.