210 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

SISIPAN SALAM

Sisipkan salamku kepada tuhanmu-tuhanku dalam tahajudmu

Bahwa aku adalah kekasihmu dan kekasih-Nya yang tidak pernah lupa menitipkan rindu pada sajak-sajak yang selau kucipta selepas malam yang aku cumbui

Setelah itu, akan aku sisipkan pula rindumu kepadaku dan kepadanya dalam sajak-sajaku

Dan Tuhan sebagai selir kita masing-masing

Yang tidak pernah kita cemburui

Sebenarnya kita yang harus menjadi selir dari Tuhan

Bukan kita yang menyelirkan Tuhan dari aroma cinta kita

Yogyakarta, 2015

PANTAI

Pantai memberikan hawa dingin

Kedinginan yang tak ingin ditinggalkan

Ia seperti wanita jalang yang selalu ingin ditiduri

Hanya saja angin pantai tidak membutuhkan uang

Ketika saraf otakku tak berani untuk menerjemahkan pantai

Aku pun segera bergagas untuk menelanjanginya

Bersama deburan-deburan ombak

Yogyakarta, 2015

 

SAJAK KOPI, GERIMIS, DAN HUJAN

 

Entah sampai kapan

Kopi akan menikmati sendiri aromanya

Tanpa harus menjemputku untuk menikmati aromanya

Padahal aku sudah tidak mau bercerita tentang anggun wanitaku

 

Entah sampai kapan

Gerimis mau bercerita tentang

Hujan yang masih malu-malu mengitip rinduku

Rindu yang tidak mampu melawan petir

Yang kerap kali menjumpai rumahku

 

Entah sampai kapan kopi, gerimis dan hujan

Akan berdiam diri

Untuk tidak mengisyaratkan rindu

Sebab rindu ku saat ini adalah sepenggal roh halus yang selalu menakutiku melawan takdir

 

Yogyakarta, 2015

 

SAHUTAN SEPI

            : Kepada Y.A.O

 

Matamu mebisikkan luka

Lewat malam yang mendung

Hujan yang hanya mengintip

Lewat jendela langit

Matamu mebisikkan luka

Pada pantai lewat gelombang, dan pasirnya yang indah

Matamu membisikkan luka

Pada aroma kopi buatan ibuku

Tapi luka yang kau takdirkan kepadaku

Tetap menjadi rindu pada duka dan lukaku

Setelah matamu memberi isyarat

Agar kita cepat pulang dalam mimpi

Seperti sahutan sepi, yang menyuruh kita lekas-lekas membunuh sepi

Dengan cinta yang selalu kita telanjangi pada deburan angin pantai dipagi hari

 

Yogyakarta, 2015

Rudi Santoso lahir di Sumenep, Madura, 30 November 1993. Mahasiswa Sosiologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, penikmat sastra di Balngkon Art Yogyakarta. Beberapa karyanya terbit dalam antologi cerpen dan puisi, seperti Surat Buat Presiden, Sajak Pahlawan (Antologi Kopi Rakyat 2014).