219 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Lpmarena.com, Sore di bukit Girilaya, ARENA mengunjungi rumah seorang buruh batik tulis yang masih setia berkarya demi menopang hidup. Mbah Tun adalah panggilan wanita paruh baya berperawakan kurus yang memperlihatkan kerasnya hidup sebagai buruh batik. Sore itu ia berbalut baju coklat pramuka, sedang mengukirkan cantingnya ke atas kain batik yang dibentangkan di atas kayu yang didesain sedemikian rupa. Sebentar-sebentar ia kembali mencelupkan cantingnya ke dalam wajan berisi lilin panas. Mbah Tun mengerjakan batiknya di depan rumahnya sambil mengawasi kedua cucunya yang sedang asyik bermain di pekarangan rumah.

Mbah Tun tinggal bersama suaminya di rumah sederhana yang terletak di ujung bukit Girilaya, desa Wukirsari, kecamatan Imogiri, kabupaten Bantul. Setiap hari mbah Tun bekerja sebagai pembatik di usaha batik ‘Fajar Batik’ milik Bu Siti. Selain menyerat kain, mbah Tun terkadang menebalkan pola batik atau menembok, dan menutup pengerjaan kain batik sesuai ketersediaan pekerjaan yang diperolehnya. Dari pekerjaannya menjadi buruh batik, mbah Tun bisa mengantongi Rp. 6000 hingga Rp. 10000 untuk setiap pekerjaan yang mampu diselesaikannya, tergantung dari kualitas seratan yang dihasilkan. Rata-rata mbah Tun mampu menyelesaikan pekerjaannya setiap dua hari sekali ketika tidak ada pesanan yang memburunya.

Suami mbah Tun bekerja mencari rumput bagi ternak kambing mereka dan mengumpulkan kayu bakar untuk dijual. “Penghasilan sedinten-dinten geh saking batik kaliyan kadang sadeyan kajeng niku 15 ewu nyampe 20 ewu perbongkok (Penghasilan sehari-hari itu dari batik dan terkadang menjual kayu dengan harga 15 ribu hingga 20 ribu perbongkok).”ujar mbah Tun. Dengan upah yang diperoleh dari nyerat kain batik dan menjual kayu ini, mbah Tun mengatur pengeluaran sehari-hari agar kebutuhan makan tercukupi. “Bayaran sementen cekap mboten cekap geh dicekap-cekapke (Bayaran segini cukup tidak cukup ya dicukup-cukupkan),” kata mbah Tun ketika ditemui ARENA di rumahnya, (10/12).

Keterampilan membatik yang dimiliki mbah Tun diperolehnya sejak masih duduk di Sekolah Dasar. Mbah Tun belajar membatik dari ibunya yang dulu juga seorang pembatik. “Batik niku awet sekolah SD, reng belajar saka mbah-mbahnya riyen (Mulai membatik itu dari SD, belajar dari mbah-mbahnya jaman dulu).” kata mbah Tun. Anak-anak mbah Tun juga mulai membatik sejak kecil untuk membantu perekonomian keluarga. Karena tidak ada keterampilan lain yang dikuasai mbah Tun, ia tetap mempertahankan pekerjaannya sebagai buruh batik.

***

Girilaya merupakan desa produsen batik tulis di D.I. Yogyakarta. Desa yang terletak di kaki bukit Imogiri Timur ini dapat ditempuh selama 45 menit dari kota. Suasana yang sejuk mulai terasa ketika memasuki gapura selamat datang di dusun Girilaya. Pohon-pohon rindang masih berdiri tegak meneduhi setiap pengguna jalan yang melewatinya.

Desa Girilaya saat ini telah menjadi destinasi wisata baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Berkembangnya desa Girilaya menjadi tujuan objek wisata tidak mampu menjamin kesejahteraan hidup penduduk asli yang berada dibawah garis kemiskinan. Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu memanfaatkan peluang ini sebagai usaha yang menjanjikan.

Ada sekitar 10 nama usaha batik mandiri di desa Girilaya yang terdiri dari 10 sampai 30 pekerja untuk setiap usaha batik. Para pengusaha batik ini mulai mendirikan usahanya setelah peristiwa gempa di Yogyakarta pada tahun 2006. Pada tahun 2011, Dinas Sosial bekerjasama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Bantul memberi bantuan berupa kompor listrik dan kain mori untuk setiap keluarga di dusun Girilaya. Dengan adanya bantuan dari pemerintah tersebut, warga dusun Girilaya mulai bangkit kembali untuk menekuni usaha batik tulis. Mayoritas dari warga bergabung menjadi pembatik di usaha-usaha batik yang didirikan oleh beberapa warga sebagai usaha pribadi.

Para pekerja batik ini merupakan buruh yang diupah setelah pekerjaannya rampung. Setiap orang memperoleh lilin secara gratis dari juragan batiknya untuk menyerat, mengeblok, hingga menutup batikan. Sedangkan peralatan membatik harus mereka usahakan sendiri.

Proses pengerjaan batik mulai dari membuat pola hingga pewarnaan membutuhkan waktu minimal setengah bulan untuk menghasilkan kain batik yang siap dipasarkan. Lamanya waktu pengerjaan batik tulis ini, menjadi salah satu alasan para buruh untuk tetap bekerja kepada orang lain. Mbah Tun bercerita, karena kebutuhan selalu ada setiap hari dan jika ingin produksi batik sendiri, maka selama pengerjaan itu pula tidak ada penghasilan untuk membeli kebutuhan sehari-hari. “Mending upah seng saking buruhan, sitihik-sithik kan damel tumbas tempe. Nek saking batik piyambak saget angsal 150 ribu, tapi kagem tumbas maem sedinten-dinten mboten wonten (lebih enak upah yang dari buruhan, sedikit-sedikit buat beli tempe. Kalau dari batik sendiri bisa memperoleh 150 ribu, tapi untuk membeli makan sehari-hari tidak ada),” tutur Mbah Tun.

Usaha batik tulis menjadi usaha yang menguntungkan bagi para pemodal. Pemasukan mulai dari Rp. 125.000 hingga Rp. 400.000 untuk setiap penjualan batik yang masih mentah bisa dikantongi. Berbeda dengan buruh batik yang setiap harinya maksimal memperoleh upah Rp. 20.000. Rata-rata para buruh batik yang produktif ini memperoleh upah Rp. 600.000 setiap bulan. Upah tersebut masih jauh di bawah Upah Minimum Kabupaten (UMK) Bantul tahun 2015 sebesar Rp. 1.163.800.

Reporter: Lailatus Sa’adah

Redaktur: Lugas Subarkah