147 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Tak diberi ruang pergerakan di kampus, Maman Suratman kisahkan kegelisahan di kampusnya yang dulu, UTY, dalam sebuah buku.

Lpmarena.com, Kelompok Jogja dan HOPE Institute (Home of Political Exercise) mengadakan bedah buku berjudul Kesaksian – Kisah Perlawanan Mahasiswa Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) karya Maman Suratman. Bedah buku karya mahasiswa jurusan Filsafat Agama Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta ini diadakan di Ruang Banggar DPRD Kota Yogyakarta, Sabtu (02/01).

Maman sendiri dulunya sempat dikeluarkan dari kampus UTY. Ia dikeluarkan karena saat itu melakukan pergerakan membentuk sebuah forum diskusi kampus yang bernama Aliansi Pejuang Demokratisasi Universitas Teknologi Yogyakarta (APDU) dan mempertahankan BEM kampus di UTY.

Haedar selaku moderator menjelaskan, akar perjuangan dalam buku yang telah ditulis oleh Maman adalah eskalasi kapitalisasi sektor pendidikkan di tingkatan kampus. “Hal itu menyedihkan, karena jika ada eskalasi pendidikan maka juga akan dibarengi dengan ditutupnya ruang-ruang demokrasi kampus,” ujar Haedar.

Pembatasan ruang gerak mahasiswa di kampus juga tidak dilakukan menurut Wahyu Winarno selaku direktur HOPE Institute. Ia menegaskan bahwa setiap mahasiswa membutuhkan pergerakan untuk mengungkapkan kegelisahannya. Buku ini bagi Wahyu membuktikan sikap keberanian penulis dalam bergerak untuk menyuarakan aspirasinya terhadap kampus yang dulu mengeluarkannya. “Apalagi ketika penulis dapat saja dibredel, diculik, itu adalah jihad,” ucap Wahyu.

Dikson Ringo, Wasekjen Dewan Pengurus Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPP KNPI) 2015-2018, selaku pembedah buku menyatakan mulai pudarnya roh spirit pergerakan dari mahasiswa Yogyakarta sekarang karena sikap apatis. “Tidak melakukan pergerakan tanpa adanya diskusi, rasanya tubuh tak bernyawa. Tulisan buku ini memicu spirit roh pergerakan,” katanya.

Sedangkan pembedah buku lainnya Eko Prasetyo dari Social Movement Institute (SMI) mengatakan dari pembacaannya terhadap pola pergerakan mahasiswa di Yogyakarta, ada yang radikal progresif dan lainnya. “Kalau mahasiswa UIN, seminggu tiga kali pergerakan di depan kampus, memang kampus yang mahasiswanya militan. Berbeda dengan kampus moderat–liberal ada kegiatan mahasiswa, tempelan baliho dan pentas musik,” sindir Eko.

Eko juga mengungkapkan bahwa buku karya Maman tersebut memberi gebrakan pada pergerakan mahasiswa. Ia menjelaskan bahwa tindakan apapun, akan memberikan daya atau pengaruh apapun, karena menyangkut soal nama kampus. Kampus saling bersaing memperebutkan nama baik dalam masyarakat, supaya persaingan modal dapat dimenangkan.

Bedah buku turut pula dihadiri oleh beberapa aktivis kampus di Yogyakarta, seperti UIN Sunan Kalijaga, UTY, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Institute Teknologi Yogyakarta (ITY).

Reporter: Chaerizanisazi dan Anis Nur Nadhiroh

Redaktur: Isma Swastiningrum