124 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Lpmarena.com, Tanggal 14 Januari 2016 merupakan deadline negoisasi pihak Freeport atas kontrak baru, dan tanggal 15 Januari adalah ketetapan kontrak karya Freeport. Merespon itu, massa yang tergabung dalam Front Nasionalisasi Freeport (FNF) pada Kamis (14/1) menggelar aksi dengan tema besar “Nasionalisasi Freeport 100% Tanpa Sarat” yang bertempat di Nol Km Yogyakarta.

Masa menuntut kepada pemerintah untuk secara tegas menasionalisasikan Freeport untuk kesejahteraan rakyat Indonesia. FNF menilai bahwa Freeport hanya penyakit bagi bangsa Indonesia. Nasionalisasi Freeport akan menjadi langkah awal bagi Indonesia agar mandiri dalam mengelola kekayaan alam dan menjalankan kedaulatan pemerintah dalam kegiatan ekonomi.

Aksi dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, kemudian dilanjut dengan menyanyikan lagu Darah Juang. Rangkaian aksi adalah mimbar bebas yang diisi orasi-orasi oleh massa aksi, musikalisasi puisi, serta menyanyikan lagu-lagu perlawanan.

“Kami menuntut kepada pemerintah untuk tidak memperpanjang kontrak Freeport. Kami juga menuntut untuk menasionalisasikan dan mengambil alih Freeport yang telah menguras habis kekayaan alam Indonesia,” ujar Koordinator Umum FNF, Oris Mahi.

Tepat pada tanggal 14 Januari 2016 juga bersamaan dengan ledakan bom bunuh diri di kawasan Sarinah, Jakarta. Bagi Oris, tidak menutup kemungkinan hal itu adalah pengalian isu Freeport. Oris menghimbau agar masyarakat tidak tertipu pada pengalihan tersebut. “Kontrak Freeport harus dicopot, serta mengecam elite-elite negara untuk menasionalisasikan Freeport,” tuturnya.

Freeport telah mengeksploitasi kekayaan indonesia sejak tahun 1967 sampai sekarang. Dalam orasinya Yusron, selaku massa aksi juga mengecam pemerintah untuk memperhatikan nasib rakyat Papua yang tanahnya dieksploitasi habis-habisan oleh perusahaan tambang milik Amerika.

Menurut Yusron, Papua hanya menjadi korban kerakusan dan ketamaan pemerintah yang tidak mampu menjadi pemimpin yang berdaulat dan menjunjung tingi kepentingan rakyat di atas segala-galanya. “Mereka dikorbankan untuk tetap menjadi primitif di bumi mereka yang kaya raya,” katanya.

Magang: Ajid Fuad Muzaki

Redaktur: Isma Swastiningrum