183 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Oleh: Rudi Santoso*

LELAKI DENGAN DARAH PERJUANGAN

kepada Hendris Wijaya HW

 

Daun-daun berjatuhan

Tidak pada musim hujan atau pada musim kemarau

Lelaki itu menggambar peluhnya sendiri

Atas mimpi yang ia cipta pada wanita dan lelaki tua

Yang ia sebut bapak dan ibu

 

Berlayar tanpa perahu

Menyisiri jalan tanpa alas kaki

Tidak mengerti tentang dingin hujan dan panas matahari

Tidak mengerti tentang nikmat pagi dan senja di sore hari

Kota-kota hampir ia singgahi

Hanya atas mimpi dalam sumpah

 

Cerita pada sekental kopi

Melawan luka dan duka

Atas keringatnya sendiri

 

Mimpi bukan untuk siapa yang kaya dan miskin

Tidak memandang kulit hitam dan putih

Tapi pertaruhan darah semangat dan perjuangan

 

Yogyakarta, 2016

 

WANITA YANG DIRINDU

 

Siapa tidak merindu kasih ibu?

Wanita yang kerap

Menitipkan doa pada tuhan

Pada pekat malam

Agar anak-anaknya

Menjadi matahari

 

Siapa tidak merindu pada kasih ibu?

Tangannya lembut mengelus ubun-ubun

Hingga membuat anak terlelap dengan mimpi indah

 

Ibu adalah kekasih alam yang harus dicintai

doa yang sama-sama bercahaya

adalah raja

 

Yogyakarta, 2016

 

*Penulis lahir di Sumenep, Madura, 30 November 1993. Mahasiswa Sosiologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kini menjadi penikmat satra di Balngkon Art Jogja . Beberapa karyanya terbit dalam kumpulan antologi cerpen dan puisi, di antaranya Antologi Kopi Rakyat (Jogja 2014), Surat Untuk Kawanan Berdasi (2016), dan juga karyaya dimuat di berbagai media cetak: Dinamikan News Lampung, Koran Madura, Solopos, Duta Masyarakat Surabaya, dan lain-lain. E-mail: rudisantoso042@gmail.com.