138 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Lpmarena.com, Sejarah maritim Indonesia tak lepas dari publikasi-publikasi wartawan pers. Tercatat, salah satu publikasi tertua tulisan berjudul: Kearah Angkatan Laoet Jang Koeat di Majalah Merdeka yang terbit enam bulan setelah Indonesia merdeka. Mendukung program nawa cita pemerintah membangun potensi bahari, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pusat di Hari Pers Nasional tanggal 9 Februari 2016 mengadakan pameran bertema “Pers, Maritim, dan Kesejahteraan Rakyat”.

Tema dari PWI pusat tersebut juga dipakai Monumen Pers Nasional di Jl. Gajah Mada No. 59 Surakarta mengadakan pameran Hari Pers dengan tema serupa. Suminto Yulisarso selaku Kepala Monumen Pers Nasional menjelaskan Jokowi yang datang dalam penyelenggaraan tuan rumah Hari Pers Nasional 2016 di Lombok NTB mengharap Indonesia sebagai poros maritim dunia.

“Memang yang diharapkan Pak Jokowi, Indonesia jadi poros maritim dunia. Makanya Indonesia berjejer kan. Poros  wilayah barat Aceh, wilayah tengah maritim Indonesia Mataram, barat di Papua,” ujarnya saat ditemui ARENA di ruang kerjanya, Rabu (10/1).

Salah satu publikasi di Majalah Cakrawala No. 410 Tahun 2012

Majalah Cakrawala No. 410 Tahun 2012

Bagi Suminto yang juga masuk dalam tim pendorong di Dewan Kelautan Indonesia mengatakan wilayah batas laut dan wilayah daerah laut sekarang sudah mulai aktif. “Sudah dibentuk menko maritim, selama ini belum ada. Dibentuk kabinet itu untuk menangani wilayah laut, karena laut sumber kekayaan alam yang besar,” katanya.

Indonesia sebagi negara maritim bagi Sidiq salah satu pengunjung pameran menjadi potensi tersendiri. Sayangnya banyaknya laut dan sungai potensinya kurang dimanfaatkan dengan baik. “Kita kan katanya negeri maritim, tapi keyataannya banyak yang kurang memahami itu,” ujar pemuda asal Tuban Kidul ini.

Masalah utama bagi Sidiq dalam pembangunan maritim Indonesia ada di nelayan. “Terutama nelayan yang perlu dikembangkan kesejahteraannya, karena kita masak menyebut negeri kita negeri maritim, tapi nelayannya masih di taraf bawah, masih masuk kaum marjinal,” katanya.

Dalam hal ini media tak bisa dipungkiri berperan besar dalam pembangunan potensi bahari, baik alamnya dan nelayannya. Suminto menginginkan teman-teman media terutama pers mau mensuport tentang bahari Indonesia. “Kita kan wisata bahari banyak, tapi kurang diangkat media,” tuturnya

Reporter dan Editor: Swastiningrum