214 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Kepada Diri

kepada embun dan yang menyerupai dingin

kembalilah pada tanah, pada asal mula

di mana bunga-bunga hendak rekah

lalu dari arah timur yang jauh

bara seperti lemparan batu-batu

ke dada burung-burung

tapi di sini, kita masih saja menjadi manusia

yang mencoba lupa jalan keluar menuju pintu

membekukan ingatan pada dinding

dan mendiamkan diri pada gelap

Dingin masih terus menyerbu,”  ucapnya

 

oh, kepada kupu-kupu dan rerumputan

bumi ini terlalu lugu

menerbitkan pagi di kepala manusia

ingatan pada ketakjuban semesta

masih dikalahkan oleh lelap

dan derap nafas yang lelah

maka aku ingin lekas selesai menjadi manusia

pergi dari diri, melepas segala keduniaan

dan seperti sepi itu yang setia menghampiri puisi

aku kekal bersama ketiadaan.

Cabeyan, 2014

Solilokui

I/

Seperti air matamu, sungai ini mengalir membawa kesedihanku

Hidup yang gelap, mata yang penuh kesangsian

Menempatkanku di balik dunia yang asing dan sunyi

Perpisahan kita adalah kekekalan daun luruh kemudian busuk,

Tak ada yang perlu diperbincangkan

Kenyataan waktu yang mengutuk senja lengser ke balik gunung

Adalah kemuakan mulutku mengucap selamat tinggal

Pada benda-benda yang pernah kita sepakati sebagai simbol kebahagiaan

II/

Baju kita hangus dibakar kepedihan

Langkah kita lapuk ditikam kengerian

Lalu kita sama melupakan ranjang dan sepreinya

Di mana kulitku dan kulitmu pernah membuka rahasia

Yang mampu menurunkan hujan,

Bagaimana kita memulai hidup dengan kesangsian ini

–Sesuatu yang lebih ngeri ketimbang neraka?

Bila kita adalah api yang membakar diri dan di dalam panasnya,

Kenangan berdiam untuk menghargai ingatan

_Untuk selalu meninggalkan kesalahfahaman

III/

Ana, bacalah kembali riwayatku

Sebagaimana sungai yang membawa kesedihanku

Sebagaimana daun yang luruh dan busuk

Atau angin yang begitu dingin

Dan sunyi yang mengendap di dinding-dinding kota,

Demikianlah aku saksikan suaramu di langit kelam

Di awan yang tandang, lalu aku tulis ke dalam sajak-sajakku

Di mana hidup telah membuat kita lebih bodoh dari anjing-anjing hutan

:Berharap sesuatu yang sebenarnya telah hilang

Tapi sudahlah, biarkan semua menempati takdirnya

Kini kita tak memiliki dunia sekedar duduk bersama—menghirup udara yang sama

Kata-kata di dalam mulut kita telah hangus dibakar kesangsian

Dan menangislah Ana, menangislah

Sebagaimana sungai ini mengalir membawa kesedihanku entah sampai di mana

Dan di antara kekosongan jiwa aku berdiri

Menatap segala hidup yang telah sia-sia.

Jogjakarta, 2014

Di Tanah Kesepianku

di bukit-bukit yang hijau

di ladang-ladang yang panjang

di jalan setapak yang berliku dan

penuh kerikil, kusimpan perihku

kubangkitkan tabahku di rumah-rumah tanpa pintu

di halaman tanpa mobil dan tiang listrik

kulempar senyumku pada lumut-lumut di tembok

pada daun-daun yang gugur

dengan nyali semoga kau tak bosan

menghirup udara tanah kesepianku

adakah matamu masih bara?

di mana-mana ada kesepian

di mana-mana ada kegundahan

ke langit aku titip segala

gang-gang sempit, kaca pecah

plastik-plastik, dan ranting patah

di bumi aku tetap simpan kesepianku

hingga aku buta Ana, menyaksikan

perputaran kemarahan di matamu

dan orang-orang muslihat yang memperpanjang khianat.

Kutub, 2015

Riwayat Perjalanan II

“entah sampai kapan kita meriwayat perjalanan ini

terasing dari rumah sendiri, dari pintu dan jendela yang terbuka tiap hari”

aku ingin kembali meniduri gundukan tanah, angin yang panjang dan batu-batu itu

menciumi rerumputan, kepul asap tungku dan cinta.

tahun-tahun yang membakar pundakku, perjalan ini telah aku lupa berapa lama

udara memisahkan tanahku dan rindu ini.

kiranya, lumut-lumut telah berani berdiri sendiri, awan telah membuka

corong langit

mempersilahkan suaraku bertengger di pusat semesta.

tapi ini hati masih bingung menatap selatan, mengejar utara

barat dan timur selalu mendesak nasib mimpi yang lain.

“entah sampai kapan kita meriwayat perjalanan ini

mengakhiri perburuan dan menatap kekal bumi ibu-bapak”

beri aku senjata, parang atau apalah

memangkas riwayat ini jadi potongan-potongan bukit kecil

sampai aku kembali menggulung cinta di gundukan tanah

menciumi angin yang panjang di bumi yang permai

di tangan ibu-bapak.

Kutub, 2015

 

Anwar Noeris, lahir di Sumenep, Madura. Bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY) dan bekerja sebagai tukang sampul buku di Taman Baca Masyarakat (TBM) Hasyim Asy’ari. Selain itu sehari-harinya bolak-balik dari Bantul ke Sleman untuk menghormati nasib sebagai mahasiswa Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga. Puisi-puisinya terbit di media lokal dan nasional, seperti Jawa Pos, IndoPos, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, dan lain-lain. Tinggal di Jl. Parangtritis KM 7,5. No 44 Cabeyan, Sewon Bantul, Yogyakarta.