170 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Oleh: Hilful Fudhul*

Seperti layaknya kota-kota besar di Indonesia, kota besar menjadi penyangga perekonomian negara. Di Indonesia adalah sebuah keharusan bagi pemerintah pusat untuk memperhatikan pertumbuhan kota besar, salah satunya dengan manganggarkan dana negara untuk membangun kota menjadi lebih maju. Salah satu kota besar itu yakni Yogyakarta. Wilayah belahan tengah dari kepulauan Jawa, berada dekat dengan Jawa Tengah dan sempat menjadi pusat kota dari provinsi Jawa Tengah, sebelum mekar menjadi daerah istimewa.

Yogyakarta merupakan kota surga bagi banyak wisatawan lokal maupun mancanegara, membuat daerah ini menjadi sasaran untuk memanjakan diri dengan alam, apalagi saat liburan panjang. Terlihat jelas pesona alam yang dimiliki oleh daerah Yogyakarta. Menawarkan berbagai surga sesuai dengan keinginan kita.

Keindahan alam serta mengakar kuatnya budaya asli nusantara merupakan dorongan bagi wisatawan untuk mengunjungi daerah ini. Tak heran pula, bagi sebagian orang menyebut Yogyakarta sebagai kota pariwisata. Jika kita menginginkan keindahan alam yang masih natural, Yogyakarta juga memiliki puluhan pantai yang indah seperti pantai Baron, Pantai Sepanjang, Pantai Drini, Pantai Kukup dan banyak lagi.

Yogyakarta juga menjadi kota budaya. Salah satunya ditandai dengan berdiri dengan megahnya bangunan tua dari Kerajaan Mataram Islam serta budaya luhur menjadi keseharian bagi masyarakat asli Yogyakarta. Pun ketika ingin melihat bagaimana peradaban nusantara di zaman kerajaan Hindu, Budha maupun Islam, Yogyakarta memiliki candi-candi yaitu bangunan tua peninggalan kerajaan Hindu-Budha seperti Candi Prambanan, Candi Boko, Candi Ijo.

Tidak ketinggalan pula, pusat studi juga Yogyakarta memilikinya. Kota Yogya menjadi prioritas untuk melanjutkan studi mahasiswa bagi pelajar lulusan SMA sederajat. Ratusan perguruan tinggi ternama di Indonesia, beberapa di antaranya berada di kota Yogyakarta, seperti UGM, UNY, UII, UIN serta kampus swasta maupun negeri lainnya. Maka, mungkin layak daerah ini kita beri julukan sebagai kota pendidikan.

Kondisi ini, mengharuskan pemerintah daerah menyediakan fasilitas bagi para wisatawan seperti bangunan hotel sebagai sarana wisatawan untuk jadi kediaman bagi wisatawan yang ingin mengunjungi wisata Yogya. Maraknya bangunan hotel di Yogyakarta tentu menjadi komoditas perekonomian daerah Yogyakarta atau bisa disebut sebagai basic economic. Tetapi, kondisi ini pulalah yang membuat Yogyakarta merasakan efeknya saat ini. Efek terhadap tata ruang daerah yang kian menyempit, serta sumuknya sepanjang jalan. Akibatnya jalan ramai dengan kendaraan yang berimbas kepada kemacetan sepanjang jalan di perkotaan maupun kabupaten di DIY.

Pembangunan infrastruktur di Yogyakarta seperti perhotelan yang marak tumbuh subur di daerah perkotaan Yogyakarta merupakan sebuah ketidaktepatan bagi pemerintah daerah dan secara khusus bagi pemerintah tata kelola kota DIY. Melihat ini, serta kondisi dan potensi kota-kabupaten DIY, keindahan alam seperti pantai terdapat banyak di wilayah kabupaten Gunungkidul. Hotel harusnya jadi fasilitas wisatawan untuk dekat dengan keindahan alam di Yogyakarta. Seperti di Yogyakarta, hotel megah hanya tumbuh di daerah pusat DIY yaitu kota Yogya. Tentu, kota Yogyakarta tidak menyediakan keindahan alam bagi wisatawan. Pertanyaan sederhana ialah tepatkah bangunan hotel terpusat di kota Yogyakarta? Jawabannya tentu tidak tepat, harusnya pembangunan didekatkan dengan daerah yang memiliki potensi alam seperti di Gudungkidul.

Melihat hal ini, bagi penulis pembangunan infrastruktur di DIY harusnya disesuaikan dengan potensi wilayah di masing-masing kota-kabupaten di Yogyakarta. Persoalan terpusatnya pembangunan hanya di satu wilayah akan berefek kepada ketidakadilan yang dianggap mayarakat Yogyakarta. Juga, efek lain dari sentralisasi pembangunan akan menyentuh pada penyempitan ruang dan meningkatnya pertumbuhan penduduk. Maka, jangan heran jika efek ini sudah kita lihat bersama yaitu macetnya jalan di perkotaan. Protes rakyat pada pemerintah daerah. Memang pertumbuhan ekonomi akan semakin tumbuh, tapi tidak dengan kondisi sosial serta ekologi. Pertumbuhan ekonomi dengan kebijakan seperti ini memiliki efek sosial seperti telah saya jelaskan serta efek ekologi seperti berkurangnya air di wilayah bangunan hotel, karena telah tersedot oleh mesin di hotel tersebut sehingga di musim kemarau terjadi kekeringan.

Pengelolahan tata ruang perlu diperhatikan kembali oleh pemerintah daerah khususnya, dengan melihat efek dari pemaksaan kebijakan tanpa melihat imbas sosial serta ekologi dari pembangunan hotel di Yogyakarta. Padahal efek jangka panjang akan melanda daerah Yogyakarta. Perlunya, desentralisasi pembangunan serta tidak berlebihan itu perlu dilakukan oleh pemerintah daerah Yogyakarta. Dorongan ini merupakan keharusan untuk segera di lakukan, melihat efek yang saya sebutkan di atas kian kentara serta menjadi-jadi.

*Penulis mahasiswa Manajemen Dakwah UIN Sunan Kalijaga.