205 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Trotoar selatan  Tarbiyah kini telah berubah menjadi semacam kebun tanaman kecil yang dikelilingi rantai plastik berwarna kuning. Tempat itu dulunya sering dipakai mahasiswa untuk duduk-duduk, berkumpul bersama teman sambil menikmati jajanan kantin di seberang jalan. Jika melihat fungsi dari trotoar, aktivitas duduk-duduk atau nongkrong di sana memang terlihat sedikit underground. Mungkin ini yang dijadikan alasan kampus untuk menata ulang trotoar itu, Ia ingin terlihat lebih rapi dan estetis (mungkin?)

Trotoar yang digunakan oleh mahasiswa untuk tempat berkumpul telah memenuhi fungsi ruang publik. Di situ, mahasiswa bisa berinteraksi dengan sesama mahasiswa membicarakan berbagai hal. Jika mahasiswa aktivis mungkin membicarakan persoalan politik, ekonomi, dan isu-isu terupdate, jika mahasiswa akademik mungkin membicarakan tugas kuliah atau menggunjingkan dosen, jika mahasiswa sosialita mungkin membicarakan model baju dan trend handphone terkini (tipe mahasiswa yang terakhir ini belakangan banyak ditemui di kampus).

Ruang publlik di kampus memungkinkan terjadinya interaksi dialektis antar mahasiswa, bahkan dengan selain mahasiswa. Hal ini mengacu pada sifat ruang publik yang memang terbuka untuk umum dan demokratis. Adanya ruang publik di kampus juga menunjang untuk mahasiswa agar tidak cepat pulang ke kos-kosan setelah kuliah usai. Mahasiswa jadi sedikit lebih lama berada di kampus bersama teman-temannya. Kiranya ini akan membentuk kultur sosial yang sehat, di samping mahasiswa semakin mengenal kampusnya sendiri, kondisi terkininya, juga mengurangi sifat individualis yang belakangan kian marak sebanding lurus dengan perkembangan teknologi informasi.

UIN sebenarnya memiliki cukup banyak ruang terbuka, namun sayangnya hanya sedikit yang memungkinkan untuk dijadikan ruang publik ideal. Taman fakultas bisa dibilang salah satu bentuk ruang terbuka yang kurang ideal. Coba saja kita tanya berapa mahasiswa yang mau berlama-lama nongkrong di taman fakultas, jika dilihat, hanya segelintir dan itu pun tidak lama. Itu karena posisi taman fakultas yang memang tidak mendukung, area sempit, panas, dan berada di tengah gedung fakultas, sehingga menjadi pusat perhatian orang di sekelilingnya.

Penataan ulang trotoar selatan Tarbiyah merupakan kehilangan cukup besar bagi mahasiswa UIN, terutama anak kampus barat. Tidak ada lagi aktivitas ngopi di sana, proses dialektika dan dinamika kreatif mahasiswa seemakin sempit. Bisa kah kita berharap proses itu terjadi di kelas-kelas? Sejauh ini kelas perkuliahan hanya mendiskusikan hal-hal akademik yang entah itu menyangkut situasi dan kondisi yang terjadi di masyarakat hari ini atau tidak.

Penghilangan ruang publik merupakan bentuk pendisiplinan mahasiswa oleh kampus. Mungkin ini salah satu agenda terkini dari NKK-BKK yang telah dijalankan sejak rezim Soeharto pasca malari 1974. Negara takut mahasiswa ikut campur terlalu banyak soal politik, maka kehidupan kampus harus dinormalisasi. Lewat otoritasnya, kampus yang merupakan aparatus ideologis sekaligus represif dari negara membimbing mahasiswa agar ke kampus untuk fokus kuliah saja, mengerjakan hal-hal akademis, dan berhenti membuang waktu di tempat tongkrongan. Boleh saja kantin tetap ada, agar mahasiswa tak kelaparan saat kuliah, tapi tempat nongkrong –terutama yang liar- harus “ditertibkan”.

Lugas Subarkah