722 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Di suatu pojok UIN Suka, ada sekelompok mahasiswa yang saking sayangnya sama UIN, ia jarang pulang ke kos. Bahkan ada yang nyaris drop out (DO), rela memaksimalkan batas semesternya untuk UIN Suka tercinta. Ketika pagi, saat mahasiswa-Mahasiswa Negeri Sipil (MNS) sedang lewat, para mahasiswa abnormal ini sambil duduk di lantai, bersandar di dinding dengan mata masih mengantuk mengamati yang lewat, tak ambil pusing dengan MNS. Ketika sore sampai malam diskusi, sesekali aksi, dan tak lupa pentas seni bersama. Pertama masuk kampus dipanggil Mahasiswa Baru, keluar dilabeli Mahasiswa Abadi. Mereka hanya segelintir saja dan mereka dipandang sebelah mata─padahal konstribusinya pada pengabdian mahasiswa besar.

Perilaku MNS tak ada bedanya dengan PNS: rapi, tepat waktu, manut-manut, dan tak ada kegiatan lain selain kelas/seminar. Kunci yang dikenal dalam hidup mereka mungkin hanya kunci angka satu yang nilainya selalu benar. Seperti melakukan eksperimen untuk menguji kebenaran. Di sisi lain ada kunci nol yang nilainya tidak benar. Tidak benar semacam sebuah uji coba melihat sesuatu yang diganggap benar sebagai hal yang tidak benar. Seperti  melakukan eksperimen untuk menguji ketidakbenaran. Sistem flip-flop angka satu membuat kebanyakan mahasiswa mejadi mahasiswa-mahasiswa yang afirmatif, dibandingkan skeptis-progresif. Karena mewajarkan yang dianggap benar dan menyetujui yang mejadi hukum umum.

MNS merupakan anak rohani dari dosen-dosen berwatak PNS. Para dosen ini menyerukan dengan gayengnya di kelas: Nak, jangan nakal ya ~ lulus cepat ya  ~  biar akreditasi kita tetap “A” ~ biar kerjamu enak. Setelah lulus, menjadi buruh, berotak seragam, dan tak peduli dengan keadaan sosial selain kebutuhan perutnya sendiri. Itu kenapa ketika ada demo-demo di kampus tentang kebijakan yang tidak adil, mereka sinis. Pun ketika melihat mahasiswa abnormal dan dalam tulisan ini saya ingin kerucutkan sinis pada kasus mahasiswa yang kena DO, yang bilang: DO ya urusanmu, bukan urusanku!

Drop out diartikan keluar dari sekolah sebelum waktunya. Secara umum saya membagi DO diakibatkan karena tiga faktor: DO karena administratif, DO karena akademik , dan DO karena etika. Dampak dari DO sendiri bermacam-macam, paling ringan cemoohan, mengengah menganggur, paling berat kriminalitas. Jadi agar bisa lepas, beberapa mahasiswa memilih mutasi, pindah ke sekolah yang lain.

Rabu, 16 Maret lalu, aliansi yang menamakan diri Keluarga Besar Mahasiswa Universitas (KBMU) melakukan aksi solidaritas untuk Yeni Novita Sari (Yeyen). Mahasiswi Ilmu Kesejahteraan Sosial tersebut di-DO lantaran akademiknya, ia tidak menyelesaikan 30 sks atau tidak memenuhi IPK 2.0 dalam empat semester. Ketentuan DO tersebut diatur dalam pedoman akademik UIN Suka.

Dalam kasus Yeyen yang menjadi masalah, Surat Peringatan yang diunduh dalam sistem akademik diartikan birokrat sebagai Surat Pernyataan mengundurkan diri, padahal tidak demikian. Yeyen mengunduh surat tersebut agar bisa membayar SPP dan berlanjut ke semester berikutnya. Yeyen masih mau mengejar pendidikannya, meskipun jejak medis menyatakan dirinya sakit sehingga tidak bisa optimal dalam perkuliahan.

Yeyen hanya salah satu kasus dalam bopengnya sistem drop out di UIN Suka. Fatal melihat keputusan drop-out-nya Yeyen dalam bingkai individual, bukan dalam bingkai sosial. Birokrat (dalam hal ini dekan, rektorat, dan renik-reniknya) seperti tidak memiliki keberpihakan yang jelas terhadap mahasiswanya sendiri. Seolah para mahasiswa calon DO diibaratkan apel busuk dalam sebuah ranjang yang harus segera dibuang karena eksistensi dan baunya mengganggu.

Sama fatalnya dengan kasus drop out-nya Ronny Setiawan, mahasiswa UNJ awal Januari lalu. Sungguh konyol jika mahasiswa di-DO karena dia terlalu kritis. Ronny di-DO lantaran dituding melakukan penghasutan dan acaman pada si rektor, ditambah tuntutan agar universitas menyediakan fasilitas yang lengkap bagi laboratorium yang kampusnya dipindah.

Dalam strukturalisme, kita memahami manusia dalam hubungannya yang lebih besar, yakni sistem. Sistem itu sendiri merupakan struktur yang harus diungkap untuk mengetahui dasar tindakan manusia. Seperti yang dijabarkan filsuf Simon Blackburn tentang strukturalisme bahwa suatu fenomena dapat dipahami dengan melihat keterkaitannya dengan yang lain. Pun dalam kasus Yeyen atau Ronny, DO mereka ada hubungannya dengan sistem kampus yang sudah ada. Yang itu dibuat oleh pemegang kekuasaan.

Terakhir, beberapa orang jenius seperti Einstein,  Disney, orang-orang yang mengubah paradigma lewat pemikiran dan penemuan jika ditilik historis edukasinya, mereka orang-orang yang drop out. Bangku kuliah tak memberi akses kejeniusan mereka sehingga memilih untuk keluar. Mereka orang-orang yang dididik lingkungan terlalu cepat, sehingga saat keluar segera mampu mengaktualisasikan diri. Sebagai bukti bahwa balas dendam terbaik adalah keberhasilan yang besar.

Redaksi.