117 Pembaca

Vigilis, 1

Ada satu  senja yang pilu
jatuh dan hancur tertumbuk bersama padi dalam alu.
lihat,  kakek terus saja bergumam melihat mama dan unu yang masih duduk meratap, aih ama e
air dari lubuk matanya mengering, namun kudengar ada lagu usi apakaet  bertalu-talu di sana.

E usi, musim hujan sudah menggantung di kalender kami yang kusam
tapi kali ini amaf tidak ada untuk bantu tanam padi
atau usir babi masuk dalam kandang.
Hari-hari di bulan ganjil sudah jatuh satu-satu, bersama remah-remah ingatan tentang hari bahagia kami dulu bersama dia
tapi unu masih menangis, dengan tangis paling mendung
jatuh jadi gerimis jauh-jauh
hatinya masih sesak
ada wangi rempah duka yang berdiam di sana
wangi yang sakit, wangi yang piatu

Satu malam, di sudut kampung, hawa boen nitu yang hangat mampir di pelipis yang basah
beberapa atoni meto menari melingkar angkat kaki kiri kanan , tiga satu, genggam tangan dan saling melempar pantun
unu tersenyum, pelan, tanpa mengkhianati dukanya
Dari balik bilik doa, diam-diam ia membalas;
Umu nkae kakae natbok,
e Usi,
uis amnaut am nau to,
hanik man kai usi oh

 

Mea Culpa

Terbentuklah aku dari setumpuk luka
dari tubuh Kau yang paling kaku
duduk mengiba di bawah pangku
penuh dusta
penuh dusta

Air mata Kau tumpah deras
seakan tabor dan Sinai
sedang ditikam kemarau
berkali-kali

betapa gugup kupungut
luka Kau yang bertetes-tetes
bercecer di bawah salib paling piatu
setelah via dolorosa berlalu
lalu berpura-pura aku
menjadikannya sesal
yang tiada ampun
; kemudian

Biar kukecup, Tuhan
bilur luka penuh pilu itu
karena aku berdo(s)a
aku berdo(s)a
aku sungguh berdo(s)a
Dengan apa harus ku balas?

 

Sesilia Tifani Bitin Berek, berasal dari kota Atambua, Kabupaten Belu, Provinsi NTT. Sekarang berstatus sebagai mahasiswi  jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Kanjuruhan Malang, Jawa Timur.