140 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Lpmarena.com,  Beberapa perempuan terlihat sedang asik memasak di teras sebuah rumah yang berada di kompleks perumahan Pogung Baru, Sleman, Minggu (7/8) siang. Aneka bahan makanan seperti mi, jeruk nipis, udang, telur rebus, sledri, emping, dan bawang goreng sedang dipersiapkan.

Para perempuan yang tergabung dalam komunitas Slow Food Yogyakarta ini sedang membuat salah satu mi tradisonal khas Medan, Sumatra Utara, bernama Mi Keling. “Berkumpul dan memasak masakan tradisonal ini merupakan salah satu agenda kami yang diberi nama Pawon Ndalem,” ujar salah satu anggota, Ivonne.

Pawon Ndalem, jelas Ivonne, dimaksudkan untuk melestarikan resep masakan tradisonal nusantara. Di dalamnya semua peserta diterangkan mulai dari sejarah dan tata cara pembuatnnya. Hal itu dimaksudkan agar tiap peserta nantinya bisa praktik membuat masakan tradisional dan menjelaskan pada masing-masing keluarganya.

Menurutnya, dengan banyak orang yang memasak maskan tradisional maka hal itu dapat mempertahankan cita rasa, mengingat adanya gempuran penyeragaman rasa makanan yang diakibatkan dari aneka makanan cepat saji. “Kemunculan makanan cepat saji berakibat hilangnya tradisi makanan lokal mulai dari keberagaman rasa, asal-usul, keanekaragaman makanan, dan sejarahnya,” ujarnya.

Selain agenda Pawon Ndalem yang mengasah keahlian memasak, Slow Food Yogyakarta juga peduli akan keberlanjutan bahan pangan lokal yang berhubungan pada produsen dan konsumen. Sobo Pasar merupakan agenda berbentuk mengunjungi pasar tradisional.

Pasar tradisional yang mereka kunjungi benar-benar yang merupakan pasar lokal bukan primer. Ivonne menjelaskan, pasar tradisional tersebut merupakan pasar yang menyediakan bahan pangan lokal yang sumbernya dari petani atau peternak di daerah sekitaran pasar, bukan ditatangkan dari luar daerah.

“Kami berhubungan langsung dengan produsen dan konsumen. Pasar tradisional itu unik karena kadang kala tidak profit oriented, misalkan penjual jujur kalau barangnya cacat,” ujarnya.

Ivonne menerangkan selain tidak profit oriented, pasar tradisional juga ramah terhadap lingkungan. Berbeda dengan pasar swalayan modern yang sering melakukan afkir terhadap bahan lokal yang tidak sesuai denan standarnya.

“Dalam waktu dekat kita mau ke pasar Kembangan di Klaten, Jateng. Karena di sana merupakan titik bertemunya hasil bumi dari petani Jateng dan DIY. Penjualnya bener-bener orang yang punya kebon,” ujarnya.

Ivonne menambahkan, Slow Food Yogyakarta juga peduli pada produsen pangan lokal seperti petani dan peternak. Oleh karenanya, mereka juga mencanangakan program bernama Dolan Bareng.

“Dolan Bareng ini mengunjungi seseorang atau kelompok yang memproduksi pangan yang mengedepankan prinsip ekologi atau berkelarlanjutan,” ujarnya.

Dalam Dolan Bareng, mereka banyak mengunjungi produsen pangan lokal misalkan pergi ke kelompok pembuat tahu organik. Di sana mereka mempelajari apa saja bahan-bahan organik dalam pembuatan tahu dan bagaimana mengelola limbah tahu agar tidak mencemari lingkungan.

Slow Food merupakan sebuah gerakan perlawanan terhadap globalisasi makanan cepat saji atau fast food dari Amerika di seluruh belahan dunia. Gerakan ini berawal dari Roma, Italia, tahun 1986, saat terjadi invasi makanan cepat saji dari Amerika ke Eropa. Orang-orang Roma itu muak dengan hal ini dan dipimpin oleh seorang jurnalis, Carlo Pertini, mulai mendirikan gerakan kembali ke makanan lokal, yang berorientasi pada keseimbangan alam dan kesehatan. Gerakan yang anti eksploitasi pertanian dan peternakan ini kemudian mendapat dukungan dari negara-negara Eropa dan mendeklarasikan Slow Food Internasional pada 1989 di Paris.

Di Indonesia sendiri, Slow Food tersebar di beberapa kota antara lain Yogyakarta, Jakarta, Bali, dan Solo. “Pendekatan Slow Food untuk pertanian, bahan pangan, dan keahlian memasak didasarkan atas prinsip berkualitas, bersih, dan adil,” kata anggota yang lain, Amaliah.

Reporter: Hartanto Ardi Saputra

Redaktur: Lugas Subarkah