308 Pembaca

Berdiri di sisi pinggiran jembatan layang lempuyangan, sejauh mata memandang, Jogja terbagi dalam dua potret pemandangan. Pertama, Jogja ditumbuhi bangunan-bangunan menjulang tinggi. Dan gambaran kedua, Jogja menyimpan potret orang-orang tersingkir dari hiruk pikuk manusia urban di bawah proyek pembangunan. Sebuah pertanda matinya sisi kemanusiaan. Pertanyaannya kemudian, masih relevankah slogan Jogja Berhati Nyaman dalam konteks pembangunan?

Dalam data yang dipublikan oleh BPS Provinsi D.I Yogyakarta misalnya, bahwa pada 2016 jumlah usaha akomodasi pembangunan hotel meningkat sebesar 1,45 persen dibandingkan tahun 2015. Pada tahun 2016, hotel berbintang tercatat 88 hotel berbintang, dan 1.096 hotel non bintang, dengan jumlah keseluruhan mencapai 1.183 bangunan hotel.

Sementara itu berdasarkan data Skyscrapercity Forum Indonesia sudah ada 55 bangunan bertingkat lebih dari enam hingga delapan belas lantai yang ada di Jogja. Dari 55 bangunan tertinggi di Yogyakarta, 33 di antaranya adalah hotel dan apartemen. Lima besar bangunan tertinggi di Yogyakarta tersebut yakni Alana Hotel at Mataram City 18 lantai, Indoluxe Hotel Jogja 15 lantai, Jogja City Mall 14 lantai dan Grand Aston Hotel 10 lantai.

Ada yang disembunyikan daripada kata nyaman yang direpresentasikan melalui perkembangan estetika arsitektur gedung-gedung, artefak-artefak, kultur masyarakat modern, moda tekhnologi, dan lainnya yang sering diagungkan demi sebuah gumuk peradaban modern. Ialah Kada, salah satu korban dari syahwat pembangunan Jogja. Ia seorang gelandangan menggigil dan kelaparan di balik angkuhnya kota dan pernak pernik keindahaninya. Selain Kada, korban lainnya juga dicatat Shindunata dalam kumpulan feature-nya “Manusia dan Keadilan: Ekonomi Kerbau Bingung”. Sebuah buku yang mengangkat fragmen kisah manusia yang terlunta-lunta di tengah gerak cepat pembangunan kota.

Kemajuan peradaban yang bertolak pada sebuah pembangunan kota, brangkali seperti apa yang selama ini diteliti oleh seorang profesor fisiolog Jared Diamond, telah mengubah kondisi ekologi alam. Di sisi lain, juga mengubah iklim ekonomi masyarakat urban, termasuk Kada si gelandangan.

Jared Diamon mencoba menggambarkan itu dalam bukunya-Collaps. Didapatinya sejulur alur peradaban manusia. Bermula dari puncak peradaban, manusia serakah, eksploitasi berlebih sumber daya alam, kerusakan lingkungan, kelaparan, pemberontakan, perang, dan kepunahan. Bukunya, menurut saya, lebih sebagai pengingat bahwa kiamat sudah dekat. Namun, jika melihat dari alur yang dibuat Jared, barangkali Jogja sedang dalam fase “eksploitasi lebih sumber daya alam” oleh pemilik modal.

Di Jogja jumlah bangunan bertingkat diperkirakan akan semakin bertambah. Saat ini ada 25 bangunan bertingkat lebih dari delapan lantai yang sudah mendapat Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan sedang dalam proses pembangunan. Sementara itu bangunan tinggi yang masih dalam tahap proposal ada 16 bangunan dengan tinggi dari 10 sampai 16 lantai. Sehingga diperkirakan total akan ada 96 bangunan di atas enam lantai yang siap mengangkangi Jogja.

Berbeda dengan Jared, David Harvey menjelaskan dalam Imperialisme baru, genealogi dan Logika Kapitalisme Kontemporer di Bab ketiga, ada ikatan kapital dalam akumulasi kapital melalui penjarahan dan kekuasaan negara dalam penciptaan ruang ekonomi. Sebuah cara kerja imperialisme kapitalis di era neoliberal dalam mempertahankan surplus akumulasi kapital.

Jogja sebagai kota dalam kacamata Harvey melalui buku Rebel cities: From the right to the city to the urban revolution, barangkali tidak hanya menjadi ladang transaksional yang menguntungkan dan menggairahkan. Tapi juga menjadi panggung konstelasi politik pemilik modal dan kuasa pemerintahan.

Di sini kita akan melihat ketikdakberdayaan negara, yang lebih memilih bekerja di bawah ketiak pemodal. Hidup dari produksi-reproduksi kebijakan yang menguntungkan pemodal, dan terus-menerus mengamini imaji-imaji modernisasi yang dibangun melalui tembok-tembok besar kapitalisme, tanpa menciptakan peluang lain semisal pemberdayaan di level akar rumput dalam mengelola teritorinya sendiri. Dan bagaimana pemerintah mampu mengontrol masyarakat dalam pengelolaan aset hak milik untuk digunakan secara kolektif.

Dalam kondisi ini, sebuah peradaban maju bukan karena seberapa banyak sejarah meninggalkan jejak-jejak artefaknya. Namun, sebuah peradaban terbangun karena ada sesuatu yang dipaksa menjadi “korban”, yakni kaum miskin kota. Bukan si pemilik modal yang banyak mengobral, karena jelas sebuah ketidakmungkinan dalam sistem kapitalisme, dimana akumulasi modal adalah jantung dari hajat hidup pemilik modal. Kapitalisme menuntut itu!.

Dari jaman Mataram sampai slogan estetik nan nyentrik Jogja berhati nyaman, diam-diam Jogja menunjukkan wajahnya yang paling lebam. Jogja dengan segala keangkuhannya tak lagi menjadi hunian nyaman bagi hidup orang-orang seperti Kada. Jika melihat alur Jared, ketika kapitalisme tengah bergerak melalui relung-relung ruang dan waktu, apakah kita sebatas mengamini apa yang digariskannya, menunggu eksploitasi terus berlanjut dan kelaparan menjangkiti kota kita? Atau semestinya kita ikut dalam barisan bersama David Harvey dengan usaha mengubahnya: Merebut hak atas kota.

Redaksi