87 Pembaca

Lpmarena.com, “…adalah aku. Yang sombong menantang langit sumpahi bumi. Adalah diriku yang picik,” sebuah narasi yang dilontarkan oleh Ilham Maulidin di sudut panggung dalam Desing Instrumental Spiritum Pataka yang dipentaskan oleh Sanggar Nuun, Sabtu(17/9) di gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta. Pementasan yang melibatkan 26 penampil yang terdiri 13 pemusik, 4 aktor, serta kelompok paduan suara ini merupakan produksi musik yang ke-23 yang telah dikerjakan oleh Sanggar Nuun.

“Filosofi Pataka sendiri diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti bendera, identitas, ataupun panji-panji” jelas Milatun Nafiah, Pimpinan Produksi pementasan Pataka.

Menurut Mila, tujuan sanggar Nuun memilih naskah Pataka sendiri adalah untuk menyampaikan kritik sosial terhadap negara kita yang mulai carut marut. Dalam salah satu babak dalam pementasan Pataka juga disinggung beberapa permasalahan yang terjadi saat ini, seperti permasalahan terkait pendidikan, ekonomi, teknologi, politik, serta kapitalisme.

“Dari beberapa permasalahan tersebut, sebenarnya Sanggar Nuun ingin menampilkan kegelisahan yang terjadi pada kami semua.” Ucap Mila.

Menurut mila, musik memiliki daya magis dan membuat siapapun yang mendengar secara tidak sengaja dapat menggerakan saraf motorik maupun sensorik, bahasa musik inilah yang kemudian dianggap Sanggar Nuun mampu mewujudkan gagasan ideal dengan tawaran logis sebuah jawaban atas pertanyaan dan kegelisahan tersebut, yaitu membaca kembali situasi dan siaga terhadap bahaya yang selalu mengancam.

Istifadah Nur Rahma, pemain djembe, rebana, dan rain stick, menambahkan bahwa dalam naskah Pataka juga mengajarkan tentang memaknai kembali kemenangan. Kita tidak harus memaknai kemenangan yang diistilahkan menang oleh orang lain, tetapi lebih mendamaikan orang banyak meskipun orang lain menganggap kalah secara fisik.

“Spirit kemenangan disini diartikan tidak melulu diistilahkan tentang kemenangan itu sendiri, tetapi lebih kepada ketika aku dan aku yang lain di dalam diri, ataupun missalnya kondisi psikologis saya dengan idealis saya ikut beradu pandangan, saya bisa mengambil jalan yang lebih mendamaikan.” ujar perempuan kelahiran Klaten tersebut.

Akvi, salah satu penonton yang ditemui setelah pementasan Pataka mengaku ia merasa menikmati acara yang dipentaskan oleh sanggar Nuun. Menurutnya pementasan yang digarap dengan proses selama tujuh bulan tersebut kreatif dan menarik, apalagi dengan adanya dialog-dialog menggelitik yang dilontarkan oleh pemain-pemainnya yang beberapa diantaranya merupakan sindiran-sindiran terhadap realitas sosial yang terjadi saat ini.

“Tapi ada beberapa dialog yang aku nggak paham, bahasanya sedikit rumit, dan lagi terkadang suara pemain kalah dengan suara musik. Apalagi aku duduk di belakang.”

Reporter: Wulan Agustina Pamungkas

Redaktur: Lugas Subarkah