233 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Lpmarena.com, Sejarah dakwah Nabi Muhammad adalah kisah perjuangan pembebasan manusia. Kelompok-kelompok marjinal seperti budak dan perempuan dibebaskan dari penindasan struktural masyarakat feodal bangsa Arab saat itu.

Saat Bilal bin Rabah, seorang budak, tengah disiksa di gurun pasir tengah hari oleh tuanya, Nabi Muhammad datang mebebaskanya dari siksaan. Nabi juga memerdekakan Bilal dari perbudakan.

Nabi tak cukup hanya berdoa, ia juga melakukan aksi nyata. Beratus tahun sebelumnya Nabi Ibrahim menentang kekuasaan dengan menghancurkan patung-patung berhala. Mengetahui hal itu, Raja Namrud marah kemudian menanyai Ibrohim tentang penghancuran patung sembahanya. Ibrohim menjawab dengan sederhana, “Patung besar itu yang menghancurkannya.” Dalam banyak riwayat, Ibrahim berumur tiga belas tahun saat itu.

Baik Nabi Muhammad maupun Ibrahim menorehkan kisah perlawanan terhadap status quo yang mapan.

Sejarah nabi tersebut direfleksikan kembali dalam diskusi dan bedah buku Kitab Pembebasan karya Eko Prasetyo, Minggu (18/9). Roy Murtadho yang hadir sebagai pembicara mengatakan bahwa tugas profetik dari muslim saat ini adalah aktualisasi misi kerasulan.

Misi kerasulan adalah membebaskan manusia dari penyembahan kepada sesama manusia. Keberadaan tirani yang menindas menyebabkan manusia berpaling dari penyembahan pada Tuhan. Menurutnya, Nabi Muhammad adalah seorang pemberontak terhadap penguasa. “Nabi Muhammad itu absolutely the rebel,” kata Roy saat berdiskusi yang bertempat di Jendela Cafe Yogyakarta.

Ia juga menyampaikan kritik pada kelompok-kelompok Islam yang bersikap pasif terhadap penguasa. Mereka berdiam diri menyaksikan penindasan kapitalisme global terjadi. Hal tersebut dianggapnya melucuti sisi progresif Islam. Roy menyebutnya sebagai gejala Gandiisme yang disebabkan oleh kegagalan mengidentifikasi misi kerasulan.

Sementara para ulama, yang dalam satu hadis disebut sebagai pewaris nabi, hanya juga bersikap pasif. Sikap tak peduli ulama menyalahi salah satu ciri para nabi sebagai pemberontak terhadap status quo. Roy meragukan legitimasi ulama saat ini sebagai para pewaris nabi.

Abu Tholut, pembicara lain, mengatakan bahwa misi kerasulan akan selalu relevan sampai kapanpun. Akan selalu ada tirani di setiap zaman, seorang muslim musti melanjutkan misi kerasulan dengan melawan tirani zamanya.

Ia menyebut tirani sebagai thoghut, yaitu manusia yang melampaui batas kemanusiaannya hendak menyaingi Tuhan seperti Fir’aun dan Namrud. “Misi kerasulan itu untuk agar manusia beribadah kepada Allah dan melawan para thoghut,” jelas Abu.

Sementara penulis buku Kitab Pembebasan, Eko Prasetyo, menyampaikan bahwa Perjuangan umat Islam menjadi sulit semenjak terputusnya wahyu dari Tuhan. Umat Islam tak bisa lagi mendapatkan petunjuk langsung dari Tuhan atas persoalan-persoalan kontemporer.

Ia juga menyampaikan tujuan penulisan bukunya di sesi akhir diskusi. Lewat Kitab Pembebasan ia ingin menghadirkan drama sejarah nabi dan menunjukkan bahwa seluruh nabi adalah aktivis dan memiliki sifat progressif.

Nabi menyebarkan kebenaran secara terus menerus tanpa pernah putus asa. Ada masa ketika perjuangan kalah, namun tak pernah menyerah. “Kebenaran tak selalu dimenangkan, ia diperjuangkan,” pungkas Eko.

Reporter: Rifai Asyhari

Redaktur: Lugas Subarkah