136 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Lpmarena.com, Kebijakan pemerintah mengenai adiminstrasi guru untuk tunjangan profesi dinilai menjadi penghambat proses kinerja guru. Guru selain bertugas sebagai pendidik, juga harus di bebankan dalam hal adiminstrasi. Alhasil guru yang harusnya fokus dalam mengajar harus terganngu dengan adanya beban tersebut. Pernyataan ini di sampaikan Ki Supriyoko dalam Seminar Nasional dengan tema Refleksi Hari Pahlawan: Masih Relevankah Guru Sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa? di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga, Senin (14/11). Seminar tersebut diselenggarakan oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, yang bekerjasama dengan Kelompok Studi Ilmu Pendidikan (KSIP).

Menurut Ki Supriyoko, prestasi guru yang tidak maksimal disebabkan oleh kurikulum pendidikan yang begitu rumit dan terus berganti-ganti. Selain itu, keterlibatan guru dalam politik sangat rendah. “Dalam pembahasan kurikulum serta kebijakan pendidikan misalnya, guru sebagai pihak yang paling terkait justru tidak pernah dilibatkan didalamnya,” kata dosen Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa ini.

Hal serupa dijelaskan J. Sumardianta, penulis buku Guru Gokil Murid Unyu. Indikator profesionalisme guru saat ini tidak dilihat dari hasil kinerja dan kedekatan emosional terhadap siswa, malaikan dilihat dari adiminstrasi tunjangan profesi, yang kapan saja bisa dimanipulasi. Padahal yang terpenting adalah bagaimna guru bisa memberi ruang bagi siswa untuk berkreasi dan menjaga kekuatan emosional antara guru dan siswa. Bukan justru lebih mementingkan tunjangan profesi dari pada tugas utama sebagai guru. Yang kemudian berdampak pada siswa itu sendiri sebagai generasi bangsa, umumnya pada peningkatan mutu pendidikan nasional.

Darmaningtyas, penulis buku Pendidikan yang Memiskinkan, mengatakan saat ini guru tidak lagi disibukkan dengan jam mengajar melaikan sibuk dalam mengurusi berkas adiminstrasi. Dampaknya siswa lepas dari perhatian guru, dan dinomorduakan, karena orientasi utama guru adalah adiminstrasi untuk menerima tunjangan profesi.

Guru Sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa adalah terminologi yang dipopulerkan Sartono melalui lirik Himne Guru, perlahan tergeser menjadi Guru Tanpa Jasa. Hal tersebut terlihat dari mutu pendidikan yang masih rendah. “Ditambah rendahnya rasa toleransi dalam hidup berbangsa. Akhirnya yang  terjadi adalah tawuran di kalangan pelajar, dan menjadi kebiasaan dalam masyarakat. Kemudian meningkatnya rasa kompetitif  yang tertanam dalam generasi bangsa. “Yang terjadi, bukannya saling gotong royong dan tolong menolong, malah menjatuhkan satu sama lain. Dan para guru sebagai pendidik bangsa tidak mampu mengatasi realitas di atas,” tambah Darmaningtyas.

Magang: Hedi dan Rosi

Redaktur: Lugas Subarkah