282 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Bagas sedang malas berangkat ke sekolah ketika ibunya bangun pagi usai bekerja semalam suntuk memandu lagu di tempat karaoke yang remang-remang. Ayah Bagas, namanya Bagus, terbaring di ranjang saban hari sejak kecelakaan di laut membuatnya lumpuh total. Bagus tak lagi melaut mencari ikan.

Ia juga membisu marah karena Siti, ibu Bagas, memilih jadi pemandu lagu di karaokean untuk menanggung biaya hidup keluarga. Siti terpaksa menderitakan kehidupan susah di kampung sendiri, daerah Parangtritis. Perempuan kurus berusia 24 tahun itu menanggung biaya hidup suami, anak semata wayang, dan ibu mertuanya, Darmi.

Meski Siti susah, Bagas mencitakan pilot jadi profesi masa depanya. Ia suka membayangkan tubuh kecilnya berada di dalam kokpit sambil mengotak-atik tombol pesawat sebelum lepas landas. Entah pesawat penumpang atau pesawat tempur yang ingin ia tunggangi. Itu tak penting. Ia hanya ingin terbang seperti layang-layang yang ia mainkan di Parangtritis.

Seperti kebanyakan film, peran anak-anak tak banyak menentukan alur cerita. Kendali cerita dipegang Siti, nama tokoh utama juga judul filmnya. Bagaimanapun Siti menjadi sosok utuh karena Bagas. Ia gantungkan kebahagiaanya pada cerita-cerita keseharian Bagas. Ia sadar, cerita Bagas saja yang masih bisa membuatnya tertawa. Siti suka ceritakan ulang pada suaminya saat menyuapi nasi.

“Mau Bagas cerito lho mas, jare setan neng sekolah do wedi mergo seragam anyare.”

Suaminya tak tersenyum sedikitpun, membisu dengan raut wajah datar membuat Siti marah. “Kowe kapan ngomong neh to mas, aku iki kangen krungu suaramu.” Tak digubris, Siti berdiri, memunggungi suaminya lalu berganti baju. Ia goreskan gincu di bibir tipisnya,  membedaki muka sedikit. Polesan kosmetik membuat mukanya terlihat segar, Nampak menarik dipandang pelanggan karaoke.

Seorang polisi muda kepincut naksir dengan ibu satu anak itu. Namanya Gatot. Semua teman seprofesi tahu Gatot menaruh hati untuk Siti. “Mas Gatot kui sebenere ganteng lho.” Sri menggoda Siti dengan logat mbantul usai Gatot menyambangi tempat karaokenya suatu malam.

Gatot dan Siti sudah menjalin hubungan selama enam bulan. Mereka bertukar pesan lewat ponsel saling mengabarkan, terkadang saling merindu. Siti duduk berdua dengan Sri memandangi laut selatan. “Wingi ngomong kangen,” ucapnya lirih.

Siti juga berbagi cerita rumah tangganya, ia kesal dengan sikap suaminya yang selalu diam. Sri ajarkan cara melampiaskan rasa marahnya dengan berteriak: Asuu! Namun siti tak terbiasa dengan kata kasar semacam itu, ia pilih menyamarkan perasaan kesalnya dengan kata-kata halus. Umpatan asu Siti tak kencang waktu itu, terdengar ragu. Ia perlu latihan marah, berakhir dengan tidak memuaskan.

Selang beberapa hari, adegan memuncak di suatu malam yang penuh oplosan. Siti menenggak oplosan racikan bosnya berbotol-botol. Ia pulang berjalan kaki terhuyung sambil menceracau seenaknya mengungkap tumpukan beban yang tak pernah tersalurkan saat sadar.

Sampai di rumah Siti berbaring di kasur bersebelahan dengan suaminya, memeluk, mendekapkan wajah ke tubuh lelaki itu dan menceritakan hubungan gelapnya dengan Gatot. Entah bagaimana, keinginan bercerai agar Gatot bisa menikahinya terlontar dengan enteng dari mulut Siti. Mendengar itu, laki-laki yang dinikahi Siti mau membuka mulutnya kembali untuk mengatakan satu kata: Lungo.

Siti angkat kepalanya mengalihkan pandangan ke muka Bagus. Menatap tajam terheran-heran dengan jawaban itu.

“Asuuu!”

Balas siti sekuat tenaga, latihan marahnya di pantai berhasil. Ia menjerit menumpahkan kekesalan yang tertimbun berbulan-bulan dengan melontarkan kata itu keras-keras.

Suaminya saja yang pernah dimarahi sekeras itu atas semua beban hidup yang ditanggung. Kepada pemerintah tak pernah. Pernah sekali, ikut demo di kantor polisi dengan ogah-ogahan. Itu pun karena ajakan bosnya yang meminta dikembalikanya alat karaoke yang disita dalam suatu razia pekat. Selama demo, Siti dan kawan-kawanya hanya boleh menyahut orasi bos dengan satu kata juga: Betuul!

Sampai film berakhir, hanya satu kata yang benar-benar mewakili rasa marahnya: Asu. Itu pun diksi pilihan dari Sri. Untuk marah saja ia kesulitan menemukan diksi yang tepat. Sementara persoalan membayang sepanjang waktu. Terbebas dari persoalan tak bisa, mengatakanya tak mampu.

Apa Siti tak punya stok perbendaharaan kata untuk marah? Atau ia tak mengerti pada siapa ia harus marah. Tak sekali pun Siti melabeli dirinya warga Bantul yang berhak menanyakan solusi pada bupati atau Pemerintah Daerah. Keduanya absen dalam kesadaranya. Ia berjalan bolak-balik di dalam jarak antara rumah dan tempat karaoke.

Siti tak menceritakan narasi berujung indah atau heroisme mesianik yang kita sukai. Persoalan ibu satu anak dengan cinta bercabang, juga hutang sepuluh juta yang harus Siti bayar tidak tercatat dalam Anggaran Belanja Negara. Tak ada Negara di sana. Konsep Negara soal masyarakat tak dapat mereduksi beban yang kudhu ditanggung Siti. Teori di ruang kelas juga tak dapat menjelaskan mengapa Siti meneriaki suaminya Asu.

Menyebutnya perempuan sundal tentu tak tepat. Kalau kemudian ia pilih menenggelamkan tubuhnya di lautan saat mabuk oplosan, ia terbebas dari jerat nilai yang bernafsu menghakimi tindakanya. Siti mempertontonkan kenyataan yang terbebas dari penjelasan teoritis tentang pilihan-pilihanya. Teori manusia tak mampu meringankan beban berat Siti yang asu itu.

Judul: Siti | Tahun: 2014 | Durasi: 95 menit | Sutradara: Eddie Cahyono | Produksi: Fourcolours Films | Negara: Indonesia | Pemain: Sekar Sari, Delia Nuswantoro, Chelsy Bettido, Ibnu Widodo | Peresensi: Rifai Asyhari

Sumber gambar: gregetan.com