213 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Di antara rumah-rumah panggung yang ada di Kalimantan, konflik diawali dari percekokan antara Hasyim dan anaknya Haris yang tinggal di daerah perbatasan Kalimantan Barat dan Serawak (Malaysia). Haris berkata pada Hasyim ingin tinggal dan pindah kewarganegaraan Malaysia. Hasyim berkoar jika kesejahteraan di Malaysia lebih baik, jaminan kesehatan ditanggung, dan ia beserta dua anaknya, Salman dan Salina akan bisa hidup dengan laik di Malaysia. Percekcokan itu menghasilkan keputusan, Haris ngotot pindah ke Malaysia membawa Salina, dan Hasyim tinggal bersama cucunya, Salman.

Hasyim yang memiliki jiwa nasionalisme dan patriotisme yang kuat, otomatis merasa harga dan harta jiwanya diinjak-injak oleh pilihan anaknya itu. Dulunya, Hasyim adalah mantan seorang pejuang tahun 1965, Hasyim masih mengenang bagaimana Malaysia melanggar perjanjian manila. Di mana garuda diinjak-injak dan foto Soekarno disobek-sobek. Hingga buntutnya adalah operasi dwikora, saat rakyat Indonesia menyatakan perang dengan Malaysia.

Kemudian, di daerah perbatasan itu datang seorang dokter dari Bandung bernama Anwar (dipanggil Dokter Intel), yang bertemu dengan seorang guru SD bernama Astuti. Dua orang ini datang dengan kesadaran berbeda. Anwar datang atas kesadaran semi kritis, di mana dokter di Bandung telah banyak, praktiknya sepi dan dia lebih banyak menganggur. Sehingga Anwar memutuskan untuk mencoba area baru di daerah perbatasan dan ternyata di daerah di itu dia merasa lebih berguna menjadi dokter. Sedangkan Astuti, datang ke tempat itu secara tidak sengaja dan tersesat. Ceritanya saat rapat dengan guru-guru, kepala sekolah menawari siapa guru yang mau ditempatkan di daerah perbatasan? Ketika ketiak Astuti gatal, tak sengaja tangannya terangkat dan kepala sekolah memutuskan bahwa Astuti bersedia.

Ironi. Satu kata yang mewakili sekian banyak realitas masyarakat yang tinggal di daerah perbatasan. Masyarakat perbatasan adalah lumbung para lumpen, mereka yang tersingkir dari arena kegaduhan sektor formal, pun informal. Kaum lumpen dalam masyarakat merupkan tenaga inti yang paling tidak revolusioner.  Kelemahan dari kelompok ini adalah sikap pragmatis dan oportunistiknya, seperti yang terwakilkan dari sosok Haris. Jika ada orang yang berkeinginan lebih ke arah lebih baik, meski kewarganegaraan terampas, seperti kata Astuti, “siapa yang melarang?”. Titik-titik simpul ironi lainnya dalam film Tanah Surga Katanya, yakni:

Krisis identitas. Di daerah perbatasan masyarakat lebih menghafal lagu Kolam Susu – Koes Plus sebagai lagu kebangsaan, daripada menghafal lagu kebangsaan Indonesia Raya. Masyarakat, dari rakyat biasa sampai anak SD tak mengenal benderanya sendiri. Bahkan di suatu pasar di Malaysia, Salman menyaksikan sendiri bendera merah putih dijadikan buntel (pembungkus) dan lemekan (tatakan) dagangan. Bayangkan, ada segelintir tetangga negara kita sendiri yang menempatkan pusaka merah putih kita sebagai lap!

Identitas lain ada pada nilai tukar, yakni mata uang. Di daerah perbatasan tersebut masyarakat Indonesia yang hidup di sana dipaksa/terpaksa mengedarkan nilai tukarnya dengan mata uang ringgit. Sebab, kebanyakan pedagang di daerah perbatasan berdagang di Malaysia sehingga harus menggunakan mata uang Malaysia. Pun ini menyebar pada bahasa, orang-orang perbatasan bahasa dan logat mereka suda tak murni lagi. Ah, betapa menyakitkan jika suatu negara sudah tak memiliki identitasnya lagi. Ia rasanya tak pantas disebut negara.

Mutu pendidikan. Di perbatasan, kecil kemungkinan menghasilkan murid-murid yang cerdas. Tak usah dulu kita berbicara tentang materi atau buku-buku yang tersedia, apalagi muluk-muluk membicarakan tentang kesadaran atau hak asasi pendidikan. Di perbatasan, sumber daya guru sangat memprihatinkan. Satu guru bisa mengajar hingga dua bahkan sampai enam kelas. Belum lagi satu ruang yang juga dibagi untuk beberapa kelas. Boro-boro pendidikan gaya bank yang dikritik Paulo Freire, kapasitas guru dan murid untuk menjadi bank dan celengannya pun belum memenuhi syarat. Tak khayal ketika Anwar menggantikan Astuti menjadi guru, anak-anak kelas empat, satu kelas mendapat nilai nol, hanya dua yang tidak mendapat nilai nol, yaitu nilai empat yang diraih Salman dan nilai satu yang didapat Linda.

Jamiman kesehatan. Tak hanya kekurangan guru, daerah perbatasan juga kekurangan dokter. Pun rumah sakit sangat jauh, harus ke negara tetangga. Betapa mulianya Salman yang harus mengumpulkan uang 400 ringgit untuk mengajak kakeknya, Hasyim yang sakit parah ke rumah sakit. Mengorbankan waktunya yang indah untuk bekerja, ketika teman-teman seumurannya tengah asyik bermain bola. Di sisi lain, bahkan Anwar yang idealnya dokter orang, harus menjadi dokter manusia dan dokter hewan sekaligus. Sangat lucu ketika ada adegan Anwar mengobati pasien bernama sofia, yang tak lain adalah sapi yang sedang stress. Sofia bagi pemiliknya adalah yang terbaik. Dan masyarakat membayar jasa dokter dengan setandan pisang, durian, atau bahan makanan yang lain.

Minim infrastruktur. Di perbatasan, fasilitas sungguh sangat minim. Sangat miris ketika membandingkan jalan di area perbatasan Malaysia yang telah terlapis aspal dengan Indonesia yang masih tanah coklat muda Kalimantan. Belum lagi fasilitas publik lainnya, dari listrik, sekolah, rumah sakit, jalan raya, hingga sinyal.

Hal lain, tentang ekonomi. Meski film ini cukup relevan menggambarkan kondisi perbatasan Indonesia, tapi dari segi ekonomi masyarakat di daerah perbatasan, sangat sedikit sekali diekspos. Padahal, ekonomi menjadi basis dan menopang sektor-sektor lainnya. Mereka rata-rata diperlihatkan hanya menjalani pekerjaan sebagai pedagang.

Nasionalisme ibarat pula bagian dari suatu sikap, tapi pemerintah sering melukai nasionalisme itu lewat kecuekan dan kebijakan hukumnya. Ini tak sebatas hanya menyoal perbatasan di Kalimantan, tapi juga perbatasan Indonesia di daerah yang lain yang lebih luas. Mereka yang di pinggir selalu bernasib menjadi bagian yang tak penting.  Puisi yang dibacakan Salman saat upacara, di depan seorang pejabat yang korup, yang berkunjung ke sekolah miskin perbatasan itu, begitu mewakili keadaan perbatasan sesungguhnya:

“Bukan lautan, hanya kolam susu,” katanye

Tapi, kata kakekku hanya orang-orang kaya yang bisa minum susu

“Kail dan jala cukup menghidupimu,” katanye

Tapi, kata kakekku ikan-ikan kita dicuri oleh banyak negara

“Tiada badai, tiada topan kau temui,” katanye

Tapi, kenapa ayahku tertiup angin ke Malaysia?

“Ikan dan udang menghamipiri dirimu,” katanye

Tapi, kata kakek, awas! Ada udang di balik batu

“Orang bilang tanah kita tanah surga

Tongkat, kayu, dan batu jadi tanaman,” katanye

Tapi kata Dokter Intel, belum semua rakyatnya sejahtera

Banyak pejabat yang memjual kayu dan batu untuk membangun surganya sendiri

Indonesia yang dikatakan “Tanah Surga” tak ubahnya reklame-reklame manis semata. Indonesia tanah surga adalah bullshit, Indoneisa masih belum terurus. Makin hari makin dicengkeram semangat neoliberalisme, lewat hutan-hutan, tanah-tanah, dan kail-kail rakyat yang dicuri.

Dalam film ini, alternatif yang ditawarkan ialah menjadi mandau-mandau baru yang memenggal habis imperalisme di Indonesia lewat pendidikan anak-anak perbatasan. Masa depan perbatasan ada pada generasi-generasi muda, seperti Salman, Linda, dan Lized. Juga membangun semangat nasionalisme, seperti yang dikatakan Hasyim di detik-detik akhir hidupnya: “Indonesia tanah surga, apapun yang terjadi pada dirinya. Jangan sampai kehilangan cinta pada negeri! Genggam erat cita-cita, katakan pada dunia dengan bangga, kami bangsa Indonesia!”. Bahwa dalam kondisi kita saat ini, kalimat Hasyim tersebut bukan hanya menjadi optimisme buta semata.

Judul Film Tanah Surga Katanya │ Sutradara Herwin Novianto │Negara Indonesia │ Produksi Citra Sinema │ Tahun 2012 │  Pemain Aji Santosa, Fuad Idris, Tissa Biani Azzahra, Ence Bagus, Astri Nurdin│ Durasi 89 Menit │ Peresensi Isma Swastiningrum