178 Pembaca
Print Friendly, PDF & Email

Seni, sebagai manifestasi dari suatu kebudayaan tidak boleh hanya menjadi ibadah sepi penciptanya. Ada saat dia wajib untuk dirayakan dengan sorak sorai. Terutama dalam beberapa dekade ini, di mana imperialisme kebudayaan begitu bernafsu menghabisi segalanya demi pasar.Sementara itu budaya merupakan benteng penting yang mengandung  dan melindungi identitas, batas, dan cita-cita bersama suatu masyarakat. Namun sekaligus menjadi pintu strategis untuk ekspansi pasar yang tidak berperikemanusiaan.

Inilah salah satu hal yang coba dibidik Kalijaga Creative Festival (KCF), festival budaya sekaligus UKM expo yang digarap para anggota Unit Kegiatan Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, bahwa budaya Nusantara harus dijaga agar tidak runtuh oleh serbuan kapitalisme. Hal itu diwujudkan dengan membentuk ruang publik di mana sebagai agen kebudayaan, para pekerja seni, dapat mengekspresikan dirinya di sana dan masyarakat bisa memberi apresiasi.

Mengusung tema “Semarak Budaya dan Kreatifitas Masyarakat Muda”, KCF akan digelar tiga hari berturut dari tanggal 7 hingga 9 Desember nanti di halaman Poliklinik UIN. Acara bakal dibuka dengan Kirab Budaya di sepanjang jalan-jalan kampus, kemudian dilanjutkan dengan rangkaian unjuk gigi oleh tiap-tiap UKM serta penampilan dari sejumlah komunitas seni yang dimiliki masyarakat UIN.

Dengan adanya acara ini diharapkan masyarakat, terutama yang muda, akan memiliki kesadaran bersama untuk menjaga budayanya, serta mendorong upaya-upaya kreatif dan kontekstual. Sehingga mampu mempertahankan eksistensi, identitas, dan cita-cita bersamanya dalam terjangan kapitalisme global.