86 Pembaca

I

Kau terlalu lama merantau sayangku,

Hingga takdir memutuskanku menjadi selir seorang tuan

Nasib burukkah aku dilahirkan jadi perempuan?

Atau perlu kulaknat diri yang dilahirkan tanpa kekuasaan

Hidup dan mati tak mampu melawan

Sungguh, inilah sehina-hinanya kehidupan

II

Sejauh mata memandang

Yang kulihat hanya penderitaan tak berkesudahan

Nasib buruk, aku dilahirkan sayang,

Pada zaman di mana manusia tak lebih berharga daripada uang,

Harga diri tak lebih berharga daripada sesuap nasi

Tak lebih dari sekedar pemuas berahi

Dan aku,

Tak lebih dari seorang pecundang, tak mampu melawan

Sungguh memalukan!

Yogyakarta, 2016

Wulan Agustina Pamungkas, mahasiswi Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Merupakan bagian dari Aliansi Pemerhati Lelaki Gondrong (APLG), cukuplah regional Yogyakarta saja. Juga bagian dari Barisan Perempuan (Baper).